Suami Dan Adik Ipar

Suami Dan Adik Ipar
Bab 16


__ADS_3

"Apa dia sudah siap?" Tanya Ambar pada Albert yang sudah datang menemuinya setelah dia suruh tadi. Ambar sedang di meja makan menyiapkan makan malam yang tidak sedikit.


"Ada apa? Lalu.. Bukankah makanan ini terlalu banyak?" Tanya Arwana yang baru saja muncul di meja makan.


"Akan ada tamu yang datang." Jawab Ambar tanpa menatap suaminya karena sibuk dengan menata meja makan.


"Tamu? Siapa?" Tanya Arwana. Albert sendiri memilih untuk undur diri tak menjawab pertanyaan nyonya besarnya karena sibuk dengan tuan besarnya.


"Aku sudah mengatakan padamu kemarin kan? Akan ada tamu yang datang besok malam."


"Maksudmu perjodohan itu?" Ambar hanya diam dengan kesibukan yang langsung dipahami Arwana kalau diam artinya iya.


"Istriku, apa itu tidak keterlaluan? Kau tidak bisa melakukannya saat tahu Bryan berhubungan dengan gadis yang dicintainya?" Protes Arwana tak habis pikir dengan pikiran istrinya.


"Aku tidak akan pernah menyetujuinya hubungan mereka." Jawab Ambar tegas.


"Apa Bryan tahu hal ini?"


"Dia hanya perlu menurut padaku."


"Sayang, Bryan sudah dewasa, bukan anak kecil lagi. Dia sudah bisa menentukan mana yang baik dan mana yang tidak. Dia juga tahu dengan siapa dia bisa memilih untuk berumah tangga. Setidaknya, bukankah kau harus mendengar persetujuan tentang perjodohan ini?" Ucap Arwana panjang lebar menasehati istrinya.


"Tidak. Dia putraku yang harus menuruti apa kataku." Tegas Ambar tak mau dibantah.


"Apa kau yakin dia akan bahagia dengan pilihannya?"


"Mungkin awalnya tidak, mereka akan saling mengenal dan saling mencintai akhirnya nanti. Itu hanya masalah waktu saja." Ucap Ambar menggampangkan.


"Bryan akan semakin memberontak jika dipaksa." Nasehat Arwana.


"Aku tahu betul bagaimana putraku."


Deg

__ADS_1


Arwana merasa tersentil sekali lagi di dadanya. Ucapan pertama istrinya tadi belum begitu mempengaruhinya karena istrinya sedang dalam kondisi emosi tapi jika sampai menyebutkan 'putraku' beberapa kali bukankah itu merupakan sindiran telak untuknya yang hanyalah ayah tiri untuk Bryan.


"Tapi kau harus ingat, dia tumbuh dan besar dengan ayahnya, meski aku hanya ayah tirinya." Arwana langsung meninggalkan meja makan segera tak mau sakit hati lebih lama karena ucapan menohok istrinya seolah dia tidak becus mengurus anaknya. Ya, mungkin itu benar karena putranya sendiri bahkan memilih untuk pergi meninggalkannya. Dan itu artinya dia benar-benar tidak becus mengurus anak.


"Suamiku..." Panggil Ambar menyadari kesalahannya dan hendak mengejar suaminya namun suara seorang maid menghentikannya.


"Ada apa?" Tanya Ambar kesal ucapannya disela.


"Ma-maaf nyonya, di luar ada tamu, katanya tamu nyonya besar." Jawab maid itu takut-takut melihat wajah murka sng nyonya.


Tapi dia terpaksa menyela karena sudah menunggu sejak tadi untuk membiarkan percakapan nyonya dan tuannya selesai namun karena terlalu lama maid itu segera menyela. Apalagi tadi sang nyonya berpesan untuk segera memberi tahunya kalau calon besannya datang. Dan maid itu bisa menebak kalau tamu itu adalah orang yang dimaksud nyonya besar.


"Kau bantu siapkan meja makan!" Titah Ambar segera ke depan menyambut tamunya.


Arwana ternyata sudah ada di sana menyambut. Ambar melirik suaminya yang sudah berbincang dengan tamu acuh pada Ambar, dia masih kesal dengan ucapan istrinya tadi. Ambar pun langsung basa-basi menyapa tamu yang merupakan calon besannya.


"Apa kabar jeng?" Sapa Ambar basa-basi ramah tamah yang juga disambut tamu, juga semuanya menyalami Ambar sebagai nyonya rumah.


Dan perbincangan hangat itu pun terjadi di ruang tamu mansion Atmajaya. Arwana yang berbincang dengan Dirga Pratama Hutama ayah dari gadis yang akan dijodohkan dengan Bryan. Sarah Amira Hutama adalah istri dari Dirga. Dan Aura Maria Hutama, putri mereka yang hendak dijodohkan dengan Bryan. Dia adalah gadis yang baru saja menyelesaikan kuliah S2 di negeri paman Sam juga.


"Dimana Bryan?" Tanya Sarah karena sejak tadi mereka berbincang hangat namun Bryan belum juga muncul. Apalagi Sarah peka dengan putrinya yang sudah mengharap kehadiran calon suaminya itu.


"Oh, mungkin masih di kamar. Biar aku panggilkan dulu. Makhlum dia baru pulang beberapa hari lalu." Jawab Ambar walau sebenarnya dia cemas karena tadi sudah memberi kode pada Albert untuk memanggil Bryan, namun sudah hampir setengah jam Bryan tidak muncul juga.


Ambar masuk ke dalam rumah mencari Albert yang sudah menunggunya dengan tatapan cemas dan panik. Arwana hanya diam tak berkomentar, karena dia tahu dimana Bryan saat ini. Karena dia lah yang membantunya. Putra tirinya itu memohon padanya untuk membantunya kabur sebentar menemui kekasihnya. Arwana mengiyakan dan tak peduli dengan kepanikan istrinya.


.


.


"Apa maksudmu?" Marah Ambar mendengar pernyataan Albert.


"Maafkan saya nyonya." Ucap para bodyguard itu menundukkan kepalanya berkali-kali meminta maaf.

__ADS_1


"Bodoh. Kalian semua bodoh. Percuma aku memperkerjakan kalian kalau akhirnya dia bisa kabur." Kesal Ambar menampar para bodyguard itu.


"Maaf nyonya sepertinya kami yang teledor." Ucap mereka lagi.


"Tentu saja. Cari dia sampai ketemu!" Titah Ambar murka. Semua bodyguard segera pergi mencari keberadaan yang diduga Ambar tadi. Kemana lagi kalau bukan menemui gadis panti asuhan miskin itu.


"Sial. Lihat saja nanti!" Ancam Ambar dalam gumanannya.


Ambar terpaksa melangkah menuju para tamunya berada dan langsung memunculkan senyum manisnya untuk merayu tamunya.


"Maafkan saya jeng, ternyata putraku sudah keluar dan tidak pamit padaku. Saat aku menghubunginya dia akan segera datang. Maaf, aku tidak mengatakan kalau kalian akan datang, karena ingin memberikan kejutan. Maaf sekali lagi." Jelas Ambar dengan raut wajah bersalah.


"Oh, tak masalah, kita bisa menunggunya sebentar." Jawab Sarah membuat wajah Aura mendung mendengarnya namun masih mempertahankan senyum paksanya. Ambar terdiam sambil melirik wajah suaminya yang acuh padanya. Dia tahu suaminya lah yang membantu putranya itu kabur.


"Bagaimana kalau kita makan malam saja dulu menunggu kedatangan putraku. Mungkin sedang macet jadi sedikit lama sampai ke rumah." Ajak Ambar menghibur mereka.


"Baiklah." Semua orang pun berdiri menuju meja makan yang sudah selesai disiapkan terlihat dari banyaknya makanan yang masih mengepulkan asap pertanda baru saja selesai dimasak.


"Jeng kok repot-repot sekali." Ucap Sarah basa-basi.


"Apanya yang repot, saya sengaja memang mengundang kalian untuk makan malam juga." Jawab Ambar tersenyum.


"Terima kasih banyak. Sayangnya putranya jeng tidak tahu tentang undangan ini." Sindir Sarah yang langsung membuat perasaan Ambar tidak enak hati.


"Maafkan saya jeng, saya lupa kalau kalian datang malam ini dan tidak memberi tahukan putraku." Sesal Ambar langsung disambut tidak apa-apa oleh Sarah.


"Maafkan Tante ya nak Aura." Aura sontak tersenyum karena tiba-tiba diminta maaf oleh ibu pria yang disukainya.


"Tidak masalah Tante, besok kita masih bisa bertemu." Jawab Aura dengan senyum manisnya.


"Kau cantik sekali nak." Aura tersipu malu dan menundukkan kepalanya malu-malu dipuji calon ibu mertuanya.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2