
Karina masuk ke dalam toilet di lantai bawah tepat satu lantai di ruang kerjanya. Dia belum siap untuk bertemu muka dengan Rey. Karina menatap wajahnya ke cermin di wastafel toilet tapi tidak melakukan apapun. Entah kenapa jantungnya berdetak kencang padahal dia belum bertemu. Terhitung sudah seminggu dia menghindari tatap muka dengan Rey. Untuk laporan yang meminta untuk ditandatangani dia memilih meminta bantuan Ima, sekretaris pertama. Dan pekerjaan Ima akan digantikannya meski itu berat. Dan Ima terlihat tidak keberatan.
Sudah sepuluh hari sejak kejadian malam itu. Karina berharap dia tidak hamil tapi dia harus rela kehilangan kehormatannya yang semestinya diberikan pada suaminya kelak namun karena pengaruh obat malam itu membuat Karina kehilangan kesuciannya. Bukan dia menolak tanggung jawab Rey yang siap menikahinya namun hatinya sudah terlanjur terpaut pada mantan kekasihnya. Dia tak mau menikah tanpa cinta apalagi karena tanggung jawab. Jika dia nekat menerima lamaran bosnya tidak menutup kemungkinan dia akan menyakitinya karena dia masih mencintai pria lain meski pria yang dicintainya sudah melupakannya. Terbukti pria itu tidak pernah muncul di hadapannya lagi. Seolah memang menghindarinya dan memilih untuk melupakannya. Namun Karina masih menyimpan perasaannya itu di sudut hati kecilnya.
Bukankah nantinya aku malah akan menyakitinya saja nanti?
Apalagi saat dia menyentuhku, bayang-bayangnya selalu terbayang di pikiranku.
Karina menghembuskan nafas kasar. Dia bingung kemana lagi untuk menghindari tatapan muka dengan bosnya. Sudah seminggu usahanya menghindar berhasil dan tak pernah bertemu. Karina tahu ini bukan jalan keluar yang baik namun dia benar-benar belum siap. Apalagi perjanjian mereka untuk satu bulan ke depan jika dia belum hamil, otomatis lamaran itu batalkan?
Karina keluar dari dalam toilet sudah dua jam mengurung diri di dalam toilet. Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore yang artinya sudah waktunya jam pulang. Karina gelisah mondar-mandir di depan pintu toilet antara memilih untuk kembali ke meja kerjanya atau langsung pulang saja untuk menghindari bosnya. Namun tas dan ponselnya masih tertinggal di meja kerjanya. Dompet pun ada di dalam tasnya. Kunci motornya juga disana, bagaimana dia akan pulang jika semuanya ada di dalam tasnya.
"Karin!" Panggil Ima saat melihat Karina kebingungan di dekat toilet lantai bawah karena dia memang sengaja mencarinya menyampaikan pesan sang atasan.
"Iya mbak?" Jawab Karina terlihat tidak enak hati pada Ima.
"Ada apa sebenarnya?"
"Ya?" Karina bertanya seolah tidak mengerti.
"Huff... Apa yang terjadi pada kalian? Apa bos menyatakan cinta padamu dan kau menolaknya?" Tanya Ima langsung.
"Te-tentu saja tidak!" Tegas Karina namun terdengar ragu juga.
"Jadi... Benar."
"Bukan!"
"Lalu?"
"I-itu... Sebenarnya... Masalah pribadi. Benar!" Jawab Karina tersenyum yang dibuat-buat.
"Aku tak tahu apa yang terjadi pada kalian. Dan aku juga tidak berniat ikut campur urusan kalian. Kalau pun aku bertanya kau pasti tak akan menjawabnya." Karina meringis malu karena tertohok ucapan Ima.
"Jadi, akan lebih baik kalian selesaikan masalah kalian baik-baik. Jangan menghindar! Masalah tidak akan selesai jika kamu terus menghindar. Sebaiknya ungkapkan semua agar kau sendiri menjadi lebih baik tanpa kucing-kucingan seperti ini. Kau tahu kan, kita hanya babu yang bekerja pada bos?" Karina menganggukan kepalanya.
"Kurasa bos tidak seburuk itu jika dia mendengar penjelasan." Jelas Ima panjang lebar memberi wejangan pada Karina.
__ADS_1
"Tapi... Aku belum siap mbak." Ucap Karina lirih.
"Katakan saja seperti itu! Mungkin bos bisa mengerti dan menunggu sampai kau siap untuk menjawab."
"Terima kasih mbak dan maaf sudah membuatmu tidak nyaman."
"It's okey."
.
.
Ting
Suara pintu lift berdenting, Karina terlihat lemas dan ragu untuk keluar dari dalam lift yang sudah terbuka.
Oh ya, tas dan ponselmu dibawa masuk ke dalam ruang kerja bos. Kalau kau ingin mengambilnya, bos memintaku untuk menyuruhmu datang kesana!
Suara Ima untuk terakhir kalinya tadi terngiang-ngiang di telinga Karina. Dia tadi berniat untuk lari lagi dengan meminjam sejumlah uang pada Ima namun dia tidak seharusnya menghindar berhari-hari tanpa penjelasan.
Tok tok tok
Cklek
"Karin!" Rey berdiri dari tempat duduknya terlihat antusias saat melihat Karina muncul di dalam ruang kerjanya.
"Ma..."
Bruk
Grep
"Syukurlah!" Karina tersentak melihat reaksi bosnya yang tidak dikiranya.
"Tu-tuan..." Ucap Karina takut, Rey menyerangnya lagi seperti malam itu.
"Sebentar saja... Kumohon!" Lirih Rey dengan suara parau. Karina terdiam memilih untuk diam membiarkan Rey melakukan apa yang diinginkannya.
__ADS_1
"Maaf... Membuatmu tidak nyaman. Kalau kau menolak untuk menikah tak masalah. Aku akan membatalkan semuanya. Aku akan melupakan semua yang terjadi malam itu. Maaf membuatmu tidak nyaman. Tapi seandainya nanti ada janin di dalam rahimmu, tolong jangan ditolak, aku tidak akan menikahimu tapi aku akan bertanggung jawab atas semuanya, mulai dari biaya dan semua kebutuhan ibu hamil pada umumnya. Jadi, kau tak perlu menghindar lagi. Maaf." Ucap Rey langsung membalikkan tubuhnya membelakangi Karina dan melangkah menuju tempat duduknya.
Nyut
Rasa di dada Karina mendengar kalimat panjang Rey yang terlihat tergesa namun dia masih bisa mendengarnya dan paham semua ucapannya.
"Itu tas dan ponselmu, sudah waktunya jam pulang kan?" Ucap Rey lagi sedikit terdengar nada parau dan sedih yang terdengar membuat Karina entah kenapa merasa sakit dan kecewa.
"Saya permisi tuan." Ucap Karina memilih untuk pergi karena dengan penjelasan pria yang menjadi atasannya selama hampir dua bulan ini memilih untuk melepaskan diri darinya. Dan hal membuat Karina memilih untuk tidak mengungkapkan apa keinginannya sekarang. Dia menelan semuanya dan memilih untuk tidak diungkapkan.
Apa dia baru sadar kalau kami tidak sederajat?
Itu pasti benar, bukankah dia mengatakan sudah datang ke panti asuhan tempat ku berasal dulu?
Mungkin dia malu?
Terima kasih atas cintamu tuan, meski aku belum bisa membalasnya.
Batin Karina berkecamuk, dia meremat dadanya yang terasa sakit dan nyeri. Lebih sakit saat diputuskan oleh mantan kekasihnya Bryan.
"Kenapa sakit sekali ya?" Guman Karina sudah masuk ke dalam lift dengan langkah gontai dan terlihat galau.
Tes
Air mata jatuh ke pipinya membuat Karina tertawa getir di dalam lift sambil mengusap air matanya kasar berulang kali karena air mata itu juga menetes berulang kali tanpa keinginannya.
Karina berlari di sudut tempat parkir yang tidak terlihat cctv dan meluapkan segala kesedihannya. Bahkan jerit tangis yang ingin diungkapkannya ambrol sudah.
"Sakit Tuhan. Kenapa sesakit ini?" Racau Karina dalam kesendiriannya.
Di sisi lain, tubuh Rey merosot jatuh lunglai ke lantai ruangannya saat pintu ditutup rapat oleh Karina.
"Apakah semua harus berakhir? Dan aku.. Gagal lagi? Hahaha...hiks..hiks... Aku mencintaimu Karin, sangat. Sesulit itu aku ingin mengatakannya. Hiks...hiks..." Rey memukuli dadanya yang sesak berharap sesaknya berakhir namun malah semakin sesak dan sakit saja.
.
.
__ADS_1
TBC