Suami Dan Adik Ipar

Suami Dan Adik Ipar
Bab 53


__ADS_3

Gio terdiam menatap bosnya yang lagi-lagi kedapatan melamun sambil melihat berkas-berkas laporan yang harus segera ditanda tangani. Bagaimana Gio tahu kalau bosnya melamun? Dia terlihat terdiam tanpa melakukan apapun, sorot matanya kosong menandakan kalau bosnya sedang melamun.


Gio menghela nafas terlebih dahulu sebelum menegur bosnya. Sudah hampir tiga puluh menit bosnya melamun, Gio sengaja memberikannya waktu namun berkasnya tersebut benar-benar penting. Mau tak mau Gio akan menegur bosnya meski tidak akan dimarahi paling hanya pelototan tajam.


Setelah kejadian beberapa hari yang lalu, tepatnya saat pertemuan bosnya dengan sang mantan kekasih yang masih dicintainya atau mungkin masih saling mencintai hanya karena restu orang tua yang belum dia dapat membuat mereka terpaksa berpisah dan disinilah sekarang alasan Gio saat ini.


"Tuan." Panggil Gio namun tidak dihiraukan Bryan yang masih betah terdiam.


"Tuan!" Panggil lagi Gio sedikit lebih kencang suaranya.


"Tuan." Lebih kencang membuat Bryan tersentak kaget meski kemudian mencoba keterkejutannya.


"Ini." Bryan menyodorkan berkas yang diinginkan Gio.


"Terima kasih tuan." Gio hendak pergi namun pertanyaan Bryan menghentikannya lagi.


"Apa yang dilakukannya sekarang?" Tanya Bryan.


"Maaf tuan, sepertinya orang kita kehilangan jejak nona setelah kericuhan di lobi kantor." Jelas Gio menghela nafas panjang merasa bersalah karena pekerjaannya tidak berjalan baik,


"Apa maksudmu?" Tanya Bryan mengernyit heran.

__ADS_1


"Bos mereka baru saja datang setelah lama pergi melakukan perjalanan bisnis dan kembali dengan seorang gadis bule yang bergandengan tangan dengan bos mereka." Alis Bryan kerkerut dalam.


"Apa yang aneh dengan itu?" Tanya Bryan.


"Bos mereka selama ini tak pernah kedapatan sama sekali dengan seorang wanita meski itu hanya sekretarisnya. Beliau sering bersama asisten kepercayaannya yang juga seorang pria. Bahkan ada yang meragukan fantasi se** bosnya kalia dia seorang penyuka sesama. Baru kemudian saat bosnya selalu sering bersama dengan....." Gio menjeda lanjutan ceritanya menunggu reaksi Bryan yang kini tengah menatapnya yang penasaran dengan cerita selanjutnya.


"Dengan siapa?" Tanya Bryan mengernyit penasaran.


"Dengan nona Karina selaku sekretaris keduanya...." Gio masih diam menunggu reaksi Bryan yang hanya diam namun Gio tahu bosnya marah terlihat dari buku jarinya yang memutih karena mengepal terlalu kencang.


"Apa dia menyukai Karina?" Tanya Bryan lirih tapi masih didengar Gio yang memilih untuk tidak menjawab karena tak mau membuat suasana hati bosnya berubah buruk karena setelah pertemuannya yang terakhir dengan Karina belum bertemu lagi karena kesibukannya mengurus proyek.


"Saya undur diri tuan." Gio memilih pamit dari ruang kerja bosnya untuk membiarkan menenangkan diri meski dia tahu setelah ini apa yang terjadi. Biarkan bosnya memikirkan sendiri ceritanya yang sudah bisa ditebak bagaimana akhirnya.


Bruk bruk


Prang


Suara bantingan dan pecahan terdengar di luar ruang kerja Bryan, Gio yang sudah bisa menebaknya langsung memanggil seorang office boy yang biasanya menangani hal ini. Hanya beberapa orang saja yang tahu kelakuan bosnya itu selain dirinya.


Dia yang akan membereskannya diam-diam sebelum banyak orang yang tahu termasuk tuan besar dan nyonya besar. Gio sudah sangat hafal dengan karakter bosnya yang satu ini. Hal iini tidak akan terjadi jika tidak menyangkut mantan kekasih bosnya.

__ADS_1


.


.


"Ke-kenapa kita disini?" Tanya Karina gugup melihat gedung di depannya kini.


"Ayo!" Rey tidak menjawab pertanyaan Karina kembali menggandeng tangan bahkan menautkan jemari mereka mencegah Karina untuk kabur yang kembali menolak untuk melangkah mengikuti langkah Rey.


"Tuan, apa maksud anda? Bukankah anda bilang membatalkannya?" Tanya Karina takut-takut mencoba menarik tangannya berlawanan arah dengan tarikan tangan Rey meskipun itu mustahil karena kekuatannya tidak seberapa bahkan tidak menggerakkan sedikitpun tubuh Rey dari tempatnya seolah sia-sia perlawanan Karina.


"Aku menarik ucapanku, sangat tidak gentle untuk seorang pria melepas tanggung jawabnya tanpa menikahinya." Jawaban Rey membuat tubuh Karina membeku di tempat menatap Rey lekat.


"Kau mau digendong?" Tawaran Rey membuat Karina langsung menggeleng tegas dan mengikuti langkah Rey dengan pasrah. Rey melanjutkan langkahnya dengan senyum tipis masih dengan kedua jemari tangannya bertautan.


Apakah harus seperti ini akhirnya?


Batin Karina terlihat pasrah untuk masuk ke dalam kantor catatan sipil.


"Mungkin aku baru bisa mengesahkan pernilkahan kita disini. Setelah lamaran resmi kita akan melakukan pemberkatan di gereja di Beland*." Jelas Rey saat hendak memasuki gedung kantor. Karina hanya terdiam membisu pasrah menuruti apa yang dikatakan calon suaminya.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2