
Tit
Cklik
Cklek
Tap tap tap
Srek
"Nyonya, apa yang nyonya lakukan?" Seru bibi maid terkejut melihat nyonya yang dilayaninya sedang berkutat di depan dapur. Bibi maid terkejut dan takut pasalnya sang nyonya baru saja pulang dari rumah sakit setelah dirawat selama satu minggu. Dan sekarang, baru kemarin nyonya nya kembali dari rumah sakit dan baru kemarin juga dia dihubungi tuan mudanya untuk tidak membuat nyonya majikannya bergerak sedikit saja dari ranjang peristirahatannya karena baru sembuh.
Dan tuan mudanya memberikan ancaman yang tidak main-main jika sampai titahnya tidak dilaksanakan. Bibi maid sangat panik, ancaman yang tidak main-main yang selama ini dilakukan tuan mudanya selalu diwujudkan membuat bibi maid takut.
"Aku sedang memasak bibi." Jawab Karina santai masih melanjutkan masakannya yang tinggal menunggu matang.
"Kumohon, hentikan! Jangan membuat saya dimarahi tuan muda nyonya! Nyonya baru saja sembuh dan baru pulang dari rumah sakit. Nyonya harus banyak istirahat." Panik bibi maid karena sepertinya sang nyonya bukanlah wanita penurut karena peringatan bibi maid tidak diindahkan sama sekali oleh Karina yang masih melanjutkan kegiatan memasaknya.
"Hanya tinggal sedikit lagi bi." Jawab Karina masih berusaha tenang tidak terpengaruh sama sekali dengan nada kepanikan wanita yang sudah mulai udzur itu.
"Nyonya, saya mohon, hentikan! Anda tidak tahu bagaimana tuan muda saat marah. Dia bisa melakukan apapun." Panik bibi maid memegang lengan Karina berusaha mengusirnya secara halus namun sepertinya tidak membuat Karina bergeming dari tempatnya.
"Maafkan saya karena terlambat datang. saya harus berbelanja sedikit bahan makanan sehat untuk pemulihan kondisi tubuh anda." Sesal bibi maid menatap Karina penuh harap untuk meninggalkan kitchen set dapur membuat Karina menatap wajah bibi maid intens. Terdapat sorot mata penuh permohonan yang membuat Karina tidak tega. Namun dia juga penasaran dengan kemarahan yang tidak biasa yang sempat dikatakan oleh bibi maid tersebut.
"Aku akan mengatakan pada suamiku, kalau aku yang menginginkannya nanti jika dia marah pada bibi." Jelas Karina menenangkan bibi maid meski wajah bibi maid masih terlihat panik dan cemas.
"Lebih baik nyonya sekarang duduk dan saya akan melanjutkannya." Saran bibi maid masih dengan wajah memelasnya penuh harap.
Karina menghembuskan nafas kasar tak mau membuat bibi maid kesusahan karena dirinya. Dia pun meninggalkan kitchen set dapur tersebut.
"Kalau begitu aku akan mandi dulu."
"Baik nyonya, silakan!" Jawab bibi maid tersenyum lega mendengar Karina menurut meski bibi maid tahu dia tidak bisa lolos dari kemarahan tuan muda nya nanti.
"Matilah aku!" Guman bibi maid mulai melanjutkan kegiatan memasak Karina setelah memastikan sang nyonya menuju kamarnya untuk mandi.
.
.
__ADS_1
"Dia sudah pulang?" Tanya Bryan pagi itu.
"Benar tuan."
"Dia... Benar-benar sudah lebih baik?"
"Beliau harus kontrol tiga hari lagi." Bryan menghela nafas membuang pandangannya ke luar jendela mobil. Mereka dalam perjalanan menuju kantor pagi itu karena ada meeting pagi yang harus dihadiri setelah semalam dia pulang larut dari perjalanan bisnisnya.
Kemarin, dia ingin sekali menjemput Karina dari rumah sakit saat dia mendapat kabar kalau 'istri kakaknya' itu sudah diizinkan pulang. Bagaimana pun juga dia merasa sangat bersalah karena dia lah yang menyebabkan dia terluka.
"Kau tahu dimana dia tinggal?" Tanya Bryan.
"Apartemen tuan Reynaldi, di pusat kota." Jawab Gio.
"Apa kita bisa kesana?"
"Pagi ini kita ada meeting penting tuan dan ini penting untuk masa depan perusahaan. Saya mohon..."
"Aku tahu." Sentak Bryan kesal mendengar penolakan halus yang terdengar beralasan yang membuat Bryan tidak bisa memaksakan kehendaknya.
"Silakan tuan!" Gio membukakan pintu mobil untuk Bryan karena sudah sampai di lobi perusahaan.
"Kau baru datang?" Tanya Arwana, Bryan hanya menganggukkan kepalanya. Dan karena desakan perjodohan itu pula, Bryan memilih untuk tinggal di luar mansion dan tinggal di apartemen pribadinya yang sudah lama tidak ditinggali atas permintaan maminya yang masih belum ingin di tinggalkan.
"Iya." Jawab Bryan singkat membuat Arwana menghela nafas.
"Pulanglah, mamimu merindukanmu." Ucap Arwana terdengar lembut.
"Akan kuusahakan." Jawab Bryan.
"Mamimu jarang makan karena memikirkanmu yang tidak pulang. Apa kau akan setega itu terus menerus?" Pancing Arwana terdengar paksaan membuat Bryan berhenti di tempat karena tadi mereka masuk bersama ke dalam perusahaan untuk menuju ruang meeting perusahaan karena sekaligus membahas meeting pemegang saham selain proyek mereka yang sedikit mengalami masalah.
"Hentikan rencana kalian tentang perjodohan, dan aku akan berkunjung!" Tegas Bryan namun tidak mengurangi rasa hormat dan sopan santunnya pada Arwana sebagai papi sambungnya.
"Aku akan bicara pada mamimu." Keduanya kini melangkah bersama menuju lift untuk menuju ruang meeting yang berada di lantai lima.
.
.
__ADS_1
"Apa yang anda butuhkan tuan?" Tanya Bernard saat Rey memanggilnya ke ruang kerjanya.
"Aku butuh data yang kuinginkan kemarin, apa sudah ketemu?" Tanya Rey. Bernard hanya mengernyit heran melihat bosnya. Sekilas memang tidak ada apa-apa pada raut wajah bosnya namun hal itu membuat Bernard cemas melihatnya.
"Apa tuan muda baik-baik saja?" Jawab Bernard balik bertanya. Rey mendongak mengernyit menatap Bernard heran.
"Kenapa?" Rey malah balik bertanya.
"Anda sudah menanyakan hal itu kemarin?" Jawab Bernard dengan tenangnya.
Rey terdiam, dia menatap Bernard namun Bernard tahu tatapan mata itu kosong tidak padanya. Bernard adalah tangan kanan Rey yang sangat dipercaya sehingga Bernard tidak takut lebih ke menghormati Rey sebagai bosnya. Bernard seperti seorang kakak yang bisa diandalkan untuk Rey karena usianya yang terpaut tujuh tahun. Ayahnya dulu orang kepercayaan kakek Rey.
"Benarkah?" Tanya Rey lirih nyaris tak terdengar, Bernard terdiam hanya menganggukkan kepalanya.
"Lalu, apa lagi yang perlu diurus?" Tanya Rey seperti orang linglung yang kehilangan arah.
"Boleh aku bertanya?" Tanya Bernard menatap Rey intens.
"Katakan!" Jawab Rey meski sedikit ragu.
"Apa kau sedang bertengkar dengan istrimu?"
Deg
Pertanyaan Bernard sungguh menohok hati terdalamnya membuat Bernard langsung peka dan menghela nafas panjang.
"Dan kau salah paham dan tidak menanyakan langsung pada istrimu? Kau memilih untuk melarikan diri darinya seperti ini?" Lagi-lagi pertanyaan Bernard benar-benar tepat sasaran membuat Rey terdiam membuang pandangannya ke sembarang arah.
"Marah boleh Rey, tapi jika itu kau hanya melihat tanpa konfirmasi dari istrimu dulu. Pernikahan sesuatu yang sakral bagi seorang wanita dan pria. Kalau ada kesalah pahaman, alangkah lebih baiknya kau bertanya langsung meminta penjelasan padanya. Mungkin awalnya akan sangat sakit saat mendengar kenyataan yang jujur daripada kebohongan yang manis berlarut-larut." Nasehat Bernard membuat Rey terdiam mencerna ucapan Bernard.
"Itu tidak terjadi." Elak Rey mencoba menyibukkan diri dengan pekerjaannya.
"Syukurlah kalau memang bukan itu. Tapi aku hanya mengingatkanmu. Wanita butuh penjelasan bukan keterdiaman. Wanita butuh ketegasan bukan pengabaian. Mereka pasti akan senang jika pasangan kita mau terbuka dan saling komunikasi. Itu lebih baik dari pada didiamkan tanpa ucapan yang jelas. Bukankah kalian baru saja menikah? Kau tidak mau istrimu tiba-tiba menyerah pada pernikahanmu dan pergi bukan?" Jelas Bernard panjang lebar dan Rey hanya terdiam seolah-olah mengabaikan ucapan Bernard meski sebenarnya dia mendengarkannya.
"Liburlah sebentar, dinginkan kepalamu! Bukankah istrimu baru saja sembuh? Dia butuh dukungan pasangan meski belum ada perasaan tumbuh, tapi dia merasa lebih nyaman terhadap pasangannya." Nasehat Bernard sekali lagi setelah itu dia pergi meninggalkan ruang kerja Rey yang masih terdiam mencerna ucapan Bernard.
.
.
__ADS_1
TBC