
Pagi itu Bryan sudah siap dengan setelan kerjanya. Kemeja putih, celana hitam bahan kain dan jas dengan warna serupa. Bryan menatap bayangan penampilannya di cermin seluruh badan di dalam kamarnya membuat Bryan mengingat kembali momen kenangan bersama Karina dulu. Bryan mengembuskan nafas kasar segera membuang lamunan melankolisnya.
"Aku merindukanmu." Bisik Bryan dalam kegalauan hatinya.
Bryan segera meninggalkan kamarnya untuk ikut sarapan bersama dengan papi dan maminya. Meski dia sudah bersikap biasa pada maminya tapi Bryan sedikit menjaga jarak. Bryan meski sudah tidak marah tapi tetap saja kecewa. Apalagi alasannya membuat Bryan tak habis pikir.
"Kau jadi ke kantor?" Tanya Arwana melihat Bryan muncul di meja makan. Bryan hanya menganggukan kepalanya
Semuanya pun duduk di kursi makan mereka masing-masing. Ambar sudah bicara berdua dengan putranya, meski tak seperti dulu namun Bryan memberikan respon yang tidak buruk. Hanya saja Bryan sedikit menjaga jarak dari ibunya. Bahkan terlihat datar dan dingin berbeda dengan sebelumnya yang selalu murah senyum dan semangat.
Ambar diam-diam menyesali keputusannya namun semua sudah terlambat. Ambar sendiri tak yakin jika merubah keputusannya akan kembali seperti dulu. Ambar bahkan merasa bersalah saat melihat putranya jatuh sakit berhari-hari karena kejadian itu. bahkan igauan putranya membuat hati Ambar tercubit.
"Aku akan berangkat dulu, ada hal yang ingin aku urus sebelum ke kantor." Pamit Bryan dengan wajah datarnya.
"Kau yakin kau sudah sehat?" Tanya Arwana sekali lagi untuk memastikan. Meski wajah Bryan sudah tidak sepucat kemarin-kemarin, namun Arwana tetap saja mencemaskan putranya yang bahkan tidak pernah terlihat sakit itu. Karena Bryan selalu menutupinya dengan senyum lebar bahagianya.
"Aku baik-baik saja Pi." Jawab Bryan meyakinkan Arwana.
"Aku berangkat dulu Pi, mi." Pamit Bryan tanpa menoleh pada Ambar dan bergegas menuju garasi untuk mengambil mobilnya yang sudah hampir dua minggu ini tidak dipakainya.
.
.
"Kerjakan ini! Nanti setelah makan siang kita meeting dengan klien!" Titah Rey menatap dokumen di mejanya setelah memanggil Karina untuk mendekat.
Meja Karina berada di dalam ruangan Rey. Ima, sekretaris Rey yang lama mejanya berada di luar ruangannya begitu juga dengan Aldi, dia punya ruangan sendiri untuk tempat bekerjanya. Enak ide siapa yang meletakkan meja kerja Karina berada satu ruangan dengan Rey, yang bahkan sebelumnya tidak mau satu ruangan dengan siapapun, apapun alasannya.
"Tapi tuan?" Tanya Karina menunggu reaksi Rey.
"Ada apa?" Tanya Rey mendongak menatap Karina yang merasa ragu untuk mengatakannya.
"Maaf sebelumnya, saya terbiasa bekerja di bagian keuangan dan pembukuan yang berhubungan dengan uang, tapi... Sekarang saya adalah sekretaris kedua anda. Saya tidak yakin... Apa saya mampu melakukannya." Jelas Karina terdiam menjeda ucapannya.
"Lalu?"
__ADS_1
"Ya?"
"Lalu kenapa?"
"Saya tidak yakin untuk melakukan pekerjaan seorang sekretaris, jadi... Apakah tidak lebih baik saya bekerja di bagian keuangan saja?" Tawar Karina karena takut membuat kesalahan. Bagaimana pun juga sekretaris bukanlah keahliannya.
Rey menatap Karina dalam, yang ditatap terdiam merasa malu karena seintens itu Rey menatapnya.
"Apa motto mu saat bekerja disini?" Tanya balik Rey.
"Akan mencoba untuk bekerja sebaik-baiknya." Jawab Karina lancar masih loading maksud pertanyaan Rey.
"Lakukanlah sekarang!" Titah Rey menunjuk berkas di atas mejanya dengan dagunya.
Karina terdiam mencerna hingga beberapa saat akhirnya dia mengerti maksud ucapan Rey dan mottonya. Karina menghela nafas panjang menundukkan kepalanya dan sesaat kemudian dia mendongak menatap Rey yang masih menatapnya bahkan melihat semua yang dilakukan Karina.
"Sa-saya... Akan berusaha tuan." Jawab Karina akhirnya membuat Rey tersenyum yang membuat Karina tersentak kaget melihat senyum Rey yang memang jarang dia lakukan, apalagi di hadapannya orang lain.
"Apa ada pertanyaan lagi?" Tanya Rey dengan raut wajah yang sudah kembali datar dan dingin.
Karina meletakkan berkas-berkas pekerjaan yang tidak terlalu banyak itu di meja kerjanya. Dia pun duduk menghadap laptop yang memang sudah disiapkan khusus untuknya bekerja. Rey sendiri diam-diam melirik apa yang dilakukan Karina. Bahkan ekspresi wajahnya berubah-ubah seolah terlalu berat berpikir tentang pekerjaannya. Namun Karina tetap melakukan pekerjaan sesuai apa yang diketahuinya.
Setelah nanti istirahat makan siang dia akan bertanya pada sekretaris pertama yaitu Ima.
"Kau bisa bertanya jika ada hal yang ingin kau ketahui." Ucap Rey ambigu membuat Karina sontak menoleh menatap Rey.
"Terima kasih tuan, sejauh ini masih bisa saya atasi." Jawab Karina tersenyum yakin.
"Oke." Entah kenapa Rey tidak suka. Dia ingin Karina merecoki nya dengan pertanyaan atau kesulitan apapun tentang pekerjaannya. Bahkan dia rela jika Rey bertanya tentang hal pribadi padanya juga.
Namun dia tak mungkin menunjukkan langsung pada Karina. Yang mungkin saja membuat Karina infil padanya nanti. Rey berjanji akan mendekatinya pelan-pelan. Bullshit tentang kekasihnya. Rey benar-benar tak mau tahu siapa pria itu. Yang dia tahu selama Karina belum menikah, Rey akan berjuang. Rey bahkan menolak saat Aldi mengajukan diri untuk menyelidiki tentang Karina dan semua hal tentang Karina.
.
.
__ADS_1
"Saya selaku CEO perusahaan ini dan pemilik serta pemegang saham terbesar di perusahaan ingin mengenalkan seseorang yang akan menggantikan posisi saya nanti." Seru Arwana dalam pertemuan darurat pemegang saham.
Semua orang terdiam, mereka yang sejak tadi bertanya-tanya siapa pemuda yang dibawa Arwana saat dia masuk ke dalam perusahaan. Setahu mereka putra Arwana sedang berada di luar negeri dan lama tidak kembali. Dan sekarang bahkan dia mengenalkan seorang pemuda pada mereka semua. Bryan yang memang tidak diketahui publik siapa dan wajahnya hanya terdiam meski dia tak ingin sebenarnya. Namun hati kecilnya mengatakan kalau kedudukan dan kekuasaannya akan berguna suatu saat nanti.
"Majulah nak!" Titah Arwana menatap Bryan yang tadi duduk di belakang kursi Arwana karena permintaan Arwana juga. Bryab berdiri merapikan jasnya yang tidak kusut sama sekali dan melangkah maju berdiri di sisi Arwana.
"Dia Bryan Adams Airlangga, putra saya yang akan menjadi penerus perusahaan saya." Seru Arwana menatap semua para pemegang saham satu persatu melihat raut wajahnya.
"Maaf tuan, bukankah putra anda bernama Reynaldi?" Tanya salah seorang pemegang saham disana. Arwana sontak menatap pria paruh baya hampir seumuran dengannya itu, pria itu adalah pemegang saham terbesar kedua setelah Arwana.
"Itu memang benar, putraku memang tidak disini. Dia sudah mempunyai perusahaannya sendiri sehingga dia tidak menginginkan menjadi penerus di perusahaan ini. Namun karena saya sudah waktunya mengundurkan diri karena usia, saya memilih untuk memberikan jabatan yang seharusnya untuk putra pertama saya kepada putra kedua saja, Bryan." Jelas Arwana panjang lebar membuat semua orang menganggukkan kepalanya mengerti.
"Apa anda yakin putra pertama anda tidak menginginkannya meski sudah memiliki perusahaan sendiri. Tetap saja dia adalah pewaris utama yang saha untuk mendapatkannya." Ucap pria itu lagi masih belum menyerah.
"Itu akan menjadi urusanku nanti." Tegas Arwana menatap tajam pria paruh baya yang dipanggil Romi itu.
"Saya hanya butuh kejelasan, saya sebagai pemegang saham terbesar kedua tentu saja tak mau mendapatkan imbas karena perseteruan dua orang saudara." Ucap Romi dengan berani membuat Arwana menjadi kehilangan kesabaran namun dia tidak bisa meluapkannya begitu saja di tempat meeting.
"Saya mengerti. Saya tidak serta merta langsung memberikan tanggung jawab besar langsung padanya. Saya akan memantaunya untuk beberapa waktu kedepannya. Dalam dua bulan, dalam dua bulan saya memberikan waktu padanya, jika dalam dua bulan ke depan dia tidak bisa menyelesaikan proyek Ambal** yang sedang perusahaan kita kerjakan. Saya akan menurunkannya untuk menjadi karyawan biasa seperti yang lainnya." Putus Arwana membuat semuanya terdiam ada yang pro dan kontra.
"Itu adalah proyek berharga, bagaimana mungkin anda memberikan padanya yang notabene masih baru dalam hal kerja sama proyek? Meski ijazah tinggi belum tentu sama saat di lapangan." Protes Romi lagi membuat Arwana marah namun sentuhan lembut Bryan membuat Arwana menoleh menatap Bryan.
"Apakah saya boleh bicara?" Tanya Bryan angkat bicara setelah lama terdiam menyimak perdebatan tersebut. Semua orang langsung menatap Bryan penuh intimidasi, tapi Bryan tak gentar sama sekali. Dia sudah terbiasa dengan wajah-wajah seperti yang dimunculkan dalam meeting tersebut.
Bisik-bisik para pemegang saham membuat Bryan menatap mereka satu persatu seolah menandai, siapa saja yang terlihat mendukung juga yang terlihat tidak mendukung. Hingga semua orang pun diam karena tak ada yang bicara baik Arwana maupun Bryan.
"Satu bulan, saya akan membuktikan untuk menyelesaikannya. Jika dalam satu bulan saya tidak bisa menyelesaikannya, saya akan secara sukarela mengundurkan diri. Dan semua itu akan tertulis di perjanjian hitam diatas putih." Tegas Bryan menatap tajam dan dingin menelisik satu persatu para pemegang saham.
Semua orang langsung terdiam tak ada yang berani berbisik maupun menginterupsinya, bahkan Romi yang sejak tadi bicara hanya diam.
"Untuk masalah sebagai pewaris, kita tunggu kakak saya pulang dan setelah itu barulah keputusan para pemegang saham menunjuk kami, siapa yang lebih berhak." Lanjut Bryan saat Arwana hendak protes langsung dijawab gelengan kepala oleh Bryan. Sehingga mereka hanya bisa diam.
.
.
__ADS_1
TBC