Suami Dan Adik Ipar

Suami Dan Adik Ipar
Bab 31


__ADS_3

Rey dan Karina sudah turun dari pesawat tujuan bandara Schipho* Amsterda* pada pukul satu malam tanpa transit. Untung saja Rey sudah memesan untuk dijemput orang kepercayaannya dari perusahaan yang ada di negara tersebut. Karina menarik kopernya sedikit kesulitan karena langkah Rey yang panjang hingga membuat Rey pun menarik koper Karina bersamaan dengan kopernya juga.


Karina hanya tersenyum melihat perlakuan Rey namun kata-kata Rey selanjutnya membuat pujian Karina pada bosnya langsung ditepis.


"Siput." Guman Rey yang masih bisa didengar oleh Karina sambil manyun membuat Rey diam-diam tersenyum tipis melangkah di depan Karina.


"Siapa suruh mengajakku." Guman Karina balik tapi tidak didengar Rey yang sudah hampir mencapai pintu keluar bandara menghampiri orang kepercayaannya yang sudah menyambutnya untuk menerima kedua koper yang dibawa Rey.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, Rey duduk terdiam begitu juga Karina. Meski ini bukan penerbangan pertamanya namun entah kenapa kepala Karina terasa berdenyut sakit. Mungkin karena penerbangan ini sangat lama dan jauh bahkan tanpa transit yang biasanya Karina tidak pernah terbang sejauh itu karena dulu dia jarang ikut perjalanan bisnis sampai ke luar negeri. Paling pas workshop saja ke luar pulau dan masih satu negara.


Entah sejak kapan Karina terlelap sambil bersandar di sandaran kursi mobil. Rey melirik belum tahu kalau Karina tertidur. Saat kepala Karina tanpa sengaja bersandar di bahunya bersamaan dengan Rey yang sedang melirik sehingga membuatnya tersentak kaget.


Namun saat tahu Karina tertidur lelap Rey menghembuskan napas pelan tak mau mengganggu tidur Karina.


"Pelankan!" Titah Rey dalam bahasa Beland* yang langsung diiyakan oleh sopir. Kecepatan mobil pun sedikit diturunkan oleh sopir. Rey ikut memejamkan matanya karena mengantuk dan kepalanya ikut menyandar di kepala Karina yang juga terlelap mungkin karena mereka terlalu capek di dalam pesawat tadi.


Siapapun yang melihat mereka pasti bisa menebak kalau mereka seperti sepasang kekasih meski itu tidak benar. Tanpa sadar keduanya terlihat nyaman satu sama lain.


Hingga sudah sampai hotel, sopir hanya diam di belakang kemudi mobil tanpa berani membangunkan salah satu dari mereka. Sopir sudah terdiam selama satu jam namun belum juga ada tanda-tanda salah satu dari mereka akan bangun.


Rey yang merasa mobil sudah tidak bergerak membuka matanya perlahan. Dia masih belum ingat saat ini dia tidur dimana. Rey terkejut saat melihat wajah Karina tepat di depan matanya saat dia membuka matanya karena entah sejak Karina membaringkan tubuhnya miring dengan paha Rey dijadikan bantalan. Rey hanya menggelengkan kepalanya tak percaya. Rey menatap ke arah kemudi tidak mendapati sopir ada disana. Dia pun menatap sekeliling merasa familiar dengan tempat itu adalah hotel yang sering dijadikannya tempat menginap jika berkunjung ke Beland* selain mansion Oma nya.


Rey menurunkan jendela kaca mobil belakang memberi kode pada sang sopir untuk mendekat karena tak mau membuat Karina terbangun dalam tidur lelapnya.


"Bagaimana?" Tanya Rey lirih nyaris tak terdengar.


"Semua sudah saya siapkan tuan." Jawab sopir sekaligus orang kepercayaannya itu tegas.


"Kau bawa koper ke kamar masing-masing, aku akan mengangkatnya." Titah Rey lagi langsung diiyakan pria itu tanpa ragu.


Sopir yang sudah mengeluarkan koper bosnya tadi pun langsung menariknya masuk ke dalam gedung hotel mewah bintang lima itu. Dengan perlahan Rey membopong tubuh Karina agar tidak terbangun. Rey bisa menatap wajah lelah dari Karina terlihat sedikit pucat dan kusut.

__ADS_1


"Kau pasti lelah." Bisik Rey tersenyum tipis.


.


.


Karina membuka matanya terkejut pagi harinya. Dia menatap sekeliling mengingat apa yang terjadi semalam.


"Oh my God." Karina menepuk jidatnya terkejut mengingat apa yang terjadi semalam. Dia pun sontak menatap tubuhnya yang masih berpakaian lengkap seperti saat mereka turun dari pesawat.


"Sial." Guman Karina sontak bangun namun merasakan kepalanya berdenyut pusing pengaruh jet lag.


Karina duduk lagi di ranjang menatap sekeliling kalau dia sudah ada di dalam kamar hotel. Karina langsung mencari dimana keberadaan kopernya. Dia merasa untuk segera mandi air hangat, dengan begitu mungkin kepalanya akan sedikit lebih baik.


Dalam mandinya Karina memilih untuk berendam di bathtub yang ada di dalam kamar hotel itu. Dalam benaknya bertanya-tanya siapa yang telah mengangkat tubuhnya tadi sampai ke dalam kamar hotelnya.


"Tidak mungkin kan tuan Rey yang mengangkatku?" Guman Karina mengetuk dagunya segera menepis pikirannya.


"Bos kan galak tak mungkin kan dia sudi membopongku? Apalagi sampai ke dalam kamar hotel ini." Guman Karina langsung menggelengkan kepalanya menepis hal itu.


"Tidak-tidak, aku yakin pria yang menjemput kami tadi. Ya, kau benar Karin." Guman Karina tersenyum yakin.


.


.


Tok tok tok


Karina mengetuk pintu kamar hotel Rey yang terletak berhadapan dengan kamarnya.


Cklek

__ADS_1


"Selamat pagi tuan. Meeting pagi ini pukul sembilan pagi, satu jam lagi kita bertemu klien." Beri tahu Karina saya pintu kamar hotel Rey terbuka. Karena begitu yakinnya Rey muncul dari balik pintu Karina langsung memberi tahu jadwal mereka pagi itu.


"Masuklah!" Titah Rey kembali berbalik masuk ke dalam kamarnya karena dia memang masih belum bersiap setelah dia mandi.


"Eh?" Karina terdiam di tempatnya tidak masuk atau pergi.


Bukankah tidak baik wanita dan laki-laki berdua saja di dalam kamar? Pasti yang ketiganya adalah setan bukan? Batin Karina tak menghiraukan ucapan Rey.


Rey yang mengernyit tak melihat Karina masuk ke dalam kamarnya langsung kembali melangkah ke arah pintu yang masih dibukanya itu lebar.


"Masuk;" Titah Rey lagi dengan nada dingin dan datar yang sudah ditanggapi biasa oleh Karina.


"Terima kasih tuan, saya akan menunggu di luar saja tuan." Jawab Karina tegas sambil tersenyum ramah.


"Apa aku mau dibantah?" Suara dingin Rey semakin dingin saja membuat Karina lagi-lagi nyalinya menciut.


"Masuk!" Belum juga Karina membantah titah tegas Rey kembali terdengar.


"Ba-baik tuan." Karina pun terpaksa masuk ke dalam dengan pelan, membuka pintu kamar hotel dengan lebar tak mau ada orang lain berpikiran buruk tentang mereka meskipun di negara tersebut hal itu sudah biasa.


"Siapkan pakaianku!" Titah Rey saat Karina juga ikut masuk.


"Ya?" Karina masih loading dengan titah Rey.


"Kenapa aku selalu mengulang kata-kataku lagi jika denganmu!" Seru Rey membuat nyali Karina kembali menciut kembali.


"Ba-baik tuan." Karina segera bergerak mendekati koper Rey yang ada di sudut ruangan kamar hotel. Sepertinya karena kelelahan semalam kopernya belum ditata di dalam lemari. Mungkin nanti menjadi tugasnya setelah mereka bertemu dengan klien hari ini. Begitulah isi pikiran Karina hari ini kira-kira.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2