
"Reynaldi!" Panggil seseorang dengan lantangnya saat melihat Rey sedang kebingungan mencari-cari keberadaan Karina. Dan lagi Jessica terus mengikuti langkah Rey.
"Kakek!" Jessica memanggil pria paruh baya yang memanggil Rey tadi. Rey terpaksa berhenti sebentar karena tak ingin dianggap tidak sopan.
"Apa kabar tuan." Sapa Rey sopan meski merasa cemas karena dibenaknya hanya ada nama Karina.
"Kita baru bertemu beberapa hari lalu, tentu saja aku masih baik-baik saja." Jawab Thomas yakin.
"Kau sudah bertemu dengannya?" Jawab Thomas beralih menatap cucunya.
"Iya kakek, dan kakek tahu, Rey mengacuhkanku. Bahkan dia kemari dengan sekretarisnya." Adu Jessica sambil mempeotkan bibirnya ke depan terlihat menggemaskan di mata semua orang.
"Benarkah?" Rey hanya diam dengan tatapan memicing tajam padanya dari Thomas.
"Maaf, saya harus..."
"Rey, kau mau kemana? Kenapa tidak minum dulu?" Cegah Jessica sambil mengulurkan segelas minuman pada Rey.
"Tidak, aku..."
"Kau terlihat terburu-buru nak?" Tanya Thomas menatap tajam pada Rey yang hanya ditanggapi acuh oleh Rey.
"Saya harus segera pergi, saya ada urusan." Pamit Rey namun seseorang menyela ucapan Rey membuat Rey mengurungkan niatnya untuk pergi karena pria yang datang adalah klien penting perusahaan.
"Tuan muda Setyawan, selamat atas pencapaiannya." Ucap pria tadi sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Terima kasih." Jawab Rey singkat.
"Saya bersulang untuk anda." Ucap pria itu sambil menunjukkan gelasnya untuk cheers dengan Rey, namun karena Rey sedang tidak membawa gelas minuman dan Rey tak bisa menolaknya, di terpaksa meraih gelas minuman yang disodorkan padanya dari Jessica tadi.
__ADS_1
"Cheers." Jawab Rey meminum hanya satu tegukan hingga kemudian akhirnya dia pamit merasa sudah menghormati rekan bisnisnya.
"Maaf, saya permisi!" Pamit Rey langsung menyelonong pergi begitu saja tak mempedulikan siapapun yang anda di situ dan dia pun meletakkan gelasnya sembarang di meja meski hanya meminum seteguk saja. Senyum seringai muncul di bibir Jessica setelah Rey berlalu. Dia memilih membiarkan Rey sebentar sebelum kemudian dia akan mengikutinya sebentar lagi. Setidaknya sampai obat yang diberikan pada Rey itu berfungsi.
Rey mencoba mencari ke toilet dan kini dia menyusuri toilet perempuan yang sepi. Namun teriakan seseorang yang dikenalnya membuat Rey memicingkan mata dan telinganya. Entah kenapa dia merasa cemas dan perasaannya buruk. Rey segera mencari sumber suara Karina dan terkejut mendapati Karina diseret seorang pria sampai masuk ke dalam lift membuat Rey sontak berlari dan menatap tajam pada pria yang tidak dikenalnya tersebut.
"Brengse*" Umpat Rey kesal namun pintu lift terlambat ditutup membuat Rey emosi memukul spontan pintu lift. Rey menatap angka lantai di atas pintu lift yang ada di dinding menuju ke lantai dua puluh. Rey segera masuk ke dalam lift sebelahnya yang kebetulan sudah terbuka.
"Tunggu aku Karin!" Guman Rey gelisah di dalam lift. Entah kenapa tubuhnya semakin terasa panas, Rey mengendurkan dasinya yang terasa mencekik karena melihat lift bergerak lambat.
Ting
Mata Rey langsung berbinar cerah saat pintu lift terbuka. Rey segera keluar dari melihat kanan dan kiri. Terlihat seorang pria membopong wanita seperti karung beras, dilihat gaun yang dipakai sama dengan yang dipakai Karina membuat Rey emosi seketika dan kondisi Karina bisa ditebak kalau Karina sedang pingsan. Mungkin tadi dipukul pria tersebut hingga pingsan karena Karina tadi tampak memberontak saat hendak dipaksa masuk ke dalam lift.
Bagh
"Brengse*, sialan!" Umpat Rey langsung menyerang pria itu membabi buta memberikan bogeman mentah berkali-kali padanya tanpa ampun. Apalagi tubuhnya terasa panas dan agresif sehingga semakin kencang dan sensitif.
Rey bahkan belum memperdulikan Karina yang terjatuh tiba-tiba di dekat dia memukuli pria asing tersebut. Karina merasa kesadaran menghampiri meski masih merasa pusing efek minuman anggur tadi.
"Tuan.." Rey langsung tersadar dari keberingasannya dan sontak menoleh menatap Karina yang entah kenapa terlihat menarik dan seksi.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Rey menatap Karina cemas sampai yang mencoba bangun namun kesulitan. Rey malah terdiam meneguk salivanya kasar melihat gaun karena yang lengannya turun hampir memperlihatkan salah satu dadanya.
"Ukh..." Karina terlihat kesusahan hingga sempoyongan saat hendak berdiri, Rey spontan membantunya bangun namun entah kenapa tubuhnya malah semakin panas menginginkan sentuhan lebih dari Karina.
****, apa yang terjadi denganku?
Tubuhku rasanya panas sekali.
__ADS_1
Batin Rey terpaksa menahan hasratnya sambil membantu Karina berdiri dari lantai untuk kembali ke kamar mereka yang berada di lantai yang sama.
Karina mencari kunci kamarnya namun tidak berhasil karena dia merasa semakin lemas dan tidak bertenaga membuat hampir jatuh langsung ditopang otomatis oleh Rey yang semakin mendekatkan jarak tubuh mereka.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Rey menahan nafasnya yang semakin terlihat memburu.
.
.
Jessica mencari-cari keberadaan Rey yang mungkin saja reaksi obatnya sudah bereaksi. Jessica memang memasukkan sedikit obat perangsang di minuman Rey tadi meski sedikit tapi kadar dosisnya sangat besar. Jessica terpaksa melakukannya karena berkali-kali Rey menolak untuk dijodohkan dengannya.
Dan inilah satu-satunya cara yang ditempuhnya agar perjodohan mereka berjalan lancar. Tadi Jessica sudah bertanya bagian resepsionis dimana kamar Rey menginap. Dan sekarang Jessica sedang menuju ke sana untuk mendatangi Rey dan melakukan apa yang sudah direncanakan dan Rey akan menjadi miliknya seutuhnya.
Sejauh Jessica mengenal Rey, pria itu adalah pria lugu yang membatasi diri untuk dekat dengan siapa pun apalagi seorang wanita. Dia malah terlihat jijik. Banyak yang mengatakan kalau Rey seorang ga*, tapi Jessica tak peduli asal dia bisa menjadi satu-satunya istri sah keluarga Setyawan tak membuat Jessica mundur. Dia hanya butuh status dan uangnya.
Jessica seorang glamor yang tidak lepas dari kemewahan, meski kakeknya kaya tapi tidak sekaya Rey sehingga Jessica terobsesi untuk mendapatkan Rey. Dia berjanji akan melakukan segala cara untuk mendapatkan Rey menjadi miliknya apalagi didukung oleh kakeknya yang berteman baik dengan Oma Rey.
"Kemana dia tadi ya?" Guman Jessica melangkah menuju kamar Rey yang diberi tahukan resepsionis tadi.
Jessica sudah berdiri di depan pintu kamar hotel dan mulai menekan bel pintu. Namun hampir beberapa kali dia menekan bel tidak ada tanda-tanda ada orang yang muncul dari dalam kamar. Dan hal itu membuat Jessica kesal karena merasa dibohongi oleh petugas resepsionis yang memberikan informasi yang salah.
Jessica meraih ponselnya untuk menghubungi resepsionis dan tetap mendapatkan informasi kalau kamar tempat Rey menginap benar di nomer itu. Hingga Jessica memaksa room boy untuk membawakan kunci cadangan kamar Rey dengan beralasan kalau dia mencemaskan Rey. Karena takut room boy tersebut terpaksa membukakan pintu kamar hotel Rey.
.
.
TBC
__ADS_1