
Bryan duduk berhadapan dengan Karina di meja kafe dekat apartemen Karina. Untungnya sekarang Karina masuk shift malam, sehingga dia memilih untuk menemuinya pagi ini.
"Bagaimana kabarmu?" Tanya Karina melihat kondisi Bryan terlihat tidak baik-baik saja terlihat dari matanya yang cekung karena kurang tidur entah karena apa. Karina sendiri juga tak berani bertanya karena Bryan hanya diam saja.
Entah kenapa suasana saat ini membuat keduanya canggung. Mungkin karena ada hal yang membuat mereka ragu untuk mengungkapkan satu sama lain, apalagi yang akan diungkapkan akan menyakiti keduanya masing-masing.
"Baik." Jawab Bryan singkat.
"Oh.. Syukurlah.." Jawab Karina sedikit terkejut, entah kenapa dia merasa kalau Bryan sedang tidak baik-baik saja.
"Kau sendiri? Kau baik-baik saja kan?" Tanya balik Bryan dengan kecanggungan yang sangat, biasanya keduanya tidak seperti itu. Bahkan tak ada kecanggungan diantara keduanya.
"Hmm.. Aku baik." Jawab Karina.
Keduanya kembali terdiam tak ada yang bicara. Karina memilih meminum teh pesanannya yang sudah tinggal setengah, Bryan pun ikut menyeruput kopinya dan hal itu dilakukan keduanya bersamaan hingga suara sedotan minuman membuat keduanya saling menatap.
'Hahaha.."
"Hahaha.."
Keduanya pun sama-sama tertawa menyadari kekonyolan mereka.
"Kenapa kita jadi secanggung ini?" Karina yang berkata akhirnya memecah kecanggungan diantara keduanya.
"Kau benar." Karina menganggukkan kepalanya dan Bryan langsung merubah raut wajahnya kembali datar meski tidak dingin lagi. Karina yang peka menyadari perubahan raut wajahnya.
"Katakan apa yang ingin kau katakan dulu!" Ucap Karina membuat Bryan tersentak ditebak tepat sasaran.
"Kau duluan!" Bryan malah memilih untuk memberikan kesempatan pertama untuk Karina bicara.
"Kenapa harus aku dulu?" Canda Karina tersenyum simpul.
"Lady first." Karina kembali tersenyum mendengarnya.
"Baiklah. Aku duluan." Bryan malah menyerobot membuat Karina hanya tersenyum.
Bryan terlihat menghembuskan nafas sebelum bicara entah kenapa dia terlihat putus asa.
__ADS_1
"Ayo kita putus!"
Deg
Detak jantung Karina seolah berhenti berdetak mendengar ucapan kekasih yang dicintainya itu. Sontak hal itu membuat Karina menatap mata Bryan untuk mencari kebohongan di mata pria yang sudah mengisi hari-harinya tidak cukup setahun atau dua tahun itu.
Bryan menatap Karina was-was, menunggu reaksi Karina. Meski hubungan mereka belum sejauh itu tapi Karina pernah dijamahnya meski hanya sebatas pinggang ke atas dan dia yakin siapapun gadis yang diperlakukan seperti itu dan tidak jadi dinikahi dan diputuskan begitu saja padahal baru dua hari yang lalu dia meminta gadis di hadapannya ini bersabar dan berjuang untuk hubungan mereka.
"Oke." Bryan langsung melotot menatap tak percaya dengan jawaban Karina yang tanpa bertanya apa alasannya malah mengatakan setuju tentang ajakannya putus.
"A-apa?" Tanya Bryan tak percaya dengan jawaban Karina dan memilih untuk memastikan pendengarannya tidak salah.
"Ayo kita putus!" Ucap Karina tersenyum semanis mungkin berusaha menyembunyikan sakit hatinya.
"Maaf." Ucap Bryan menundukkan kepalanya merasakan sesak di dadanya yang membuat suaranya tercekat tak mampu bicara apalagi. Bukan ini jawaban yang diinginkannya meski dia harus dan terpaksa. Tapi batinnya merasakan ada yang salah dengan jawaban gadis yang dicintainya sangat dalam ini.
"Tidak apa-apa. Kita memang tidak berjodoh.. mungkin." Jawab Karina membuang pandangannya ke arah lain tak mau Bryan melihat air matanya agar dia tak merasa bersalah. Karina sendiri sadar siapa dia siapa Bryan, kalau sejak awal dia menyadari hal itu, tentunya dia tak mungkin sesakit ini untuk menjalin hubungan.
"Maaf." Hanya ucapan maaf yang bisa diucapkan Bryan karena tanpa sadar air matanya menetes yang langsung dihapusnya. Dan untungnya Karina juga membuang pandangan ke arah lain sehingga tidak menyadari air mata Bryan.
"Kurasa aku harus pergi. Terima kasih untuk semuanyla." Karina segera berdiri untuk pergi meninggalkan kafe, air matanya sudah tidak sanggup dia tahan dan ingin segera diluapkan.
Karina langsung berlari ke sebuah gang jalan dekat kafe tak bisa lagi untuk meluapkan air matanya lagi. Karina berkali-kali memukuli dadanya yang terasa sesak dan sakit.
"Kau kuat Karin, kau kuat." Bisik Karina tak henti-hentinya dadanya dipukul berusaha untuk meredakan sesak didadanya.
.
.
"Brengsek!" Umpat Rey melempar berkasnya. Karena perjalanan bisnisnya dia terpaksa harus mengurungkan niatnya untuk tidak menemui Karina padahal sebentar lagi dia bisa mendapatkan nomer ponselnya.
"Ada apa tuan?" Tanya Aldi yang baru saja masuk ke dalam ruangan bosnya. Raut wajah bosnya tidak terlihat baik.
"Kau bertanya ada apa? Sampai kapan aku harus disini? Kapan kita pulang?" Kesal Rey menatap murka pada Aldi.
"Sabarlah bos. Besok sepertinya kita bisa pulang."
__ADS_1
"Sungguh?" Tanya Rey dengan penuh semangat membuat Aldi cemberut melihat perubahan wajah drastis bosnya.
"Tentu, aku yang akan menyelesaikannya disini. Bos bisa kembali dulu."
"Oke." Aldi terlihat menghela nafas mendengar nada semangat bosnya.
.
.
Karina berkali-kali terlihat melamun di depan rak jajanan di supermarket tempatnya bekerja.
"Mbak!" Panggil rekan kerjanya yang berusia jauh di bawahnya. Karena kebanyakan pekerja di supermarket itu masih fresh graduated dan single. Karina diterima bekerja karena masih single dan cantik. Sang manager menerima bekerja berharap supermarket yang diawasi meningkat penjualannya sehingga dia memperkerjakan Karina yang sudah berumur daripada karyawan lain.
"Eh...Mel." Jawab Karina terkejut di tepuk pundaknya oleh rekan kerjanya.
"Mbak melamun lagi?"
"Oh... Maaf." Jawab Karina merasa bersalah melanjutkan kembali menata barang-barang di raknya masing-masing.
"Gak masalah akunya mbk, takutnya pak manager menegur mbak, meski tidak mungkin sih. Soalnya kan mbak kan kesayangan pak manager?" Ujar Mela bercanda.
"Kamu ngomong apa sih? Btw makasih sudah menegur jadi gak ditegur pria mes*m itu." Jawab Karina tersenyum menatap Mela, Mela sendiri terkikik mendengar candaan Karina karena yang dikatakan Karina benar.
"Berkat kedatangan mbak disini, kemes*annya sedikit berkurang karena mbak yang menyindirnya lusa."
"Orang seperti itu memang perlu ditegur, agar sadar."
"Mbak benar, tapi kami mana berani."
"Ayo kerja lagi!"
"He he iya mbak." Keduanya pun bekerja sama untuk menyelesaikan pekerjaannya menata barang-barang dagangan untuk dipajang.
Karina yang mendorong trolinya dan Mela yang menatanya, karena Mela lebih berpengalaman meski Karina sesekali membantu. Untungnya para karyawan supermarket semua baik-baik tidak ada yang julid mungkin karena masih muda dan baru lulus sekolah. Karina merasa bersyukur karena diterima dengan baik meski usianya di atas mereka. Dan itu mampu membantu sedikit melupakan masalahnya tadi pagi.
.
__ADS_1
.
TBC