Suami Dan Adik Ipar

Suami Dan Adik Ipar
Bab 95


__ADS_3

Seminggu setelah pertemuannya dengan Bastian seminggu itu pula pesan dan panggilannya tidak diangkat atau malah sering di luar jangkauan membuat Karina terdiam memilih untuk tidak lagi menghubunginya. Dia menilai kalau ini lah yang memang seharusnya dia lakukan. Menanda tangani berkas gugatan perceraian yang diajukan oleh suaminya.


Meski hanya pernikahan seumur jagung, entah kenapa Karina merasa sedih dan kehilangan. Dia tidak tahu apa itu artinya. Apakah dia mulai mencintai suaminya ataukah hanya karena rasa nyaman di saat bersamanya.


Hari ini kedatangan Bram yang ditunggu Karina.


Tok tok tok


"Masuk!" Titah Karina menutup berkas yang sedang dilihatnya.


Cklek


"Maaf nyonya, tuan Bram sudah datang." Beri tahu Ima dengan sikap profesionalnya.


"Suruh dia masuk!" Jawab Karina dingin. Entah kemana keramahannya yang selama ini ditunjukkan berubah menjadi wajah datar dan dingin.


"Baik." Ima langsung membuka lebar pintu meminta Bram masuk ke dalam yang langsung diangguki sopan oleh Bram dan masuk.


Terlihat Karina sudah duduk di sofa tunggal menunggu Bram masuk dan langsung mempersilakan duduk tanpa basa-basi.


"Silakan duduk!" Titah Karina dengan wajah datar dan dingin tak ada lagi senyum ramah yang ditunjukkan seperti terakhir kali mereka bertemu.


"Terima kasih."


Sruk


Karina mendorong sebuah berkas coklat yang diberikan Bram terakhir kalinya, Bram langsung paham dan menerima uluran tangan itu.


Bram membukanya dan melihat arah tanda tangan yang seharusnya diisi Karina namun masih kosong membuat Bram mengernyit.


"Maaf nyonya, tapi ini belum ditandatangani." Beri tahu Bram kembali menyodorkan berkas gugatan cerai tersebut ke arah depan meja Karina.


"Saya ingin meminta satu hal sebelum saya menanda tanganinya." Ucap Karina tegas.


"Oh apakah itu?" Tanya Bram masih menunjukkan wajah ramahnya.

__ADS_1


"Saya menolak harta gono-gini yang tertera kecuali rumah panti asuhan." Jawab Karina tegas masih mempertahankan wajah datar dan dinginnya.


"Ya? Tapi?"


"Saya rasa sudah cukup perbincangannya, silakan anda bahas dengan klien anda, pintu keluar sebelah sana jika anda tidak lupa." Jawab Karina sarkas menunjukan pintu keluar yang sama dengan pintu masuk Bram tadi.


Bram hanya melongo terdiam tak percaya mendengar ketegasan tanpa mau dibantah wanita di hadapannya itu. Bahkan wajah ramah lebih senyuman kemarin tidak terlihat malah semakin dingin dan datar seperti tak tersentuh.


Apakah mereka marahan?


Apa mereka belum bertemu?


Kalau sudah bertemu tak mungkin tuan muda Setyawan membatalkannya, bahkan dia sudah mewanti-wanti diriku kalau aku harus memberikan semua harta tersebut sebagai gono gini perceraian mereka. Meski tidak ada anak di antara mereka.


Bram menghela nafas lelah, menatap berkas cerai tersebut, dia sedang mengalami kebimbangan. Antara menurut keinginan kliennya atau istri kliennya tersebut. Dia menjadi bingung.


"Maaf nyonya, kurasa beliau akan menolak." Jawab tegas Bram namun Karina tetap diam tak menjawab malah mengacuhkannya.


Saat itu pula menghela nafas panjang menggelengkan kepalanya pergi meninggalkan ruang kerja Karina. Bersamaan itu pula ponsel Karina berdering dan Karina segera mengangkatnya melihat nama ayahnya tertera di layar ponselnya.


"..."


"Malam ini?"


"..."


"Aku... Baiklah. Aku akan datang." Jawab Karina tak mungkin menghindar lagi. Dia sudah beberapa hari ini menolak bertemu karena beberapa pekerjaan dan berusaha menghubungi suaminya namun gagal dan seolah suaminya sengaja menghindarinya dan tidak ingin bertemu dengannya.


Karina merasa frustasi meski setelah itu dia memilih untuk menuruti apa yang diinginkan suaminya, perceraian. Meski dengan berat hati Karina mengabulkannya. Namun demi mengulur waktu, Karina pun mengajukan penolakan tentang harta gono-gini yang diberikan suaminya meski sebenarnya dia tidak berhak sama sekali.


Karina segera menyelesaikan pekerjaannya sebelum akhirnya harus pergi makan malam nanti bersama ayahnya. Dan ayahnya ingin memperkenalkan dirinya pada anak-anaknya. Siap tidak siap Karina harus siap tak mungkin menolaknya terus terusan. Hingga akhirnya dia menyetujuinya, apapun nanti pendapat anak-anak ayahnya yang lain.


Pukul empat sore Karina segera membereskan pekerjaannya untuk segera pulang. Meski masih jam segini dia ingin mempersiapkan diri untuk bertemu dengan anak-anak ayahnya yang lain. Selama mereka berpisah, ayahnya juga mengirimkan beberapa kartu unlimited untuk dipakai sebagai uang jajan Karina.


Karina benar-benar dengan keras menolak namun ucapan sedih Bastian tak mampu membuat Karina menolak lagi. Dan ya, dia memang berhak atas semua milik ayahnya yang sudah seharusnya dia nikmati sejak dulu.

__ADS_1


Karina memutuskan untuk mampir ke salon melakukan perawatan tubuh dari ujung rambut hingga ujung kaki di salon mahal kecantikan yang terkenal di kota. Meski dulu saat menjadi istri Reynaldi yang kaya raya tak membuat Karina seboros itu sebagai seorang istri. Dia dulu memilih untuk berhemat dengan mendatangi salon biasa yang juga melakukan perawatan namun tidak semahal yang didatanginya saat ini.


"Selamat sore nona!" Sapa resepsionis salon tersebut tersenyum ramah.


"Saya sudah membuat janji kemarin." Jawab Karina masih dengan wajah datar dan dingin.


"Atas nama siapa?"


"Karina." Karina hanya menyebut nama depannya tanpa menyebutkan nama belakangnya karena tak mau membuat kehebohan di salon terkenal tersebut. Apalagi menyebut nama belakang suaminya yang siapa pun akan mengenalnya sebagai konglomerat muda nomor satu di negara ini.


"Silakan nona, pegawai kami akan menunjukkan anda!" Jawab resepsionis tersebut tersenyum ramah sambil melambaikan tangan pada seorang wanita muda pelayan salon.


"Ada yang bisa saya bantu nona?" Jawab pegawai tadi yang langsung diberi tahu apa tugasnya terhadap Karina.


"Baik nona."


"Silakan nyonya!" Ucap pegawai muda tersebut merujuk pada Karina yang langsung dipelototi oleh resepsionis tadi karena memanggil Karina dengan 'nyonya' padahal dia menyebutnya 'nona'.


"Tidak masalah." Karina melerai mereka karena pegawai muda tadi terlihat ketakutan karena salah panggil. Pasalnya dia baru sebulan bekerja di salon tersebut. Juga pernah melakukan kesalahan dalam panggilan terhadap pelanggan salon nyaris membuatnya dipecat hanya karena perkara salah sebut nama penggilan.


"Tunjukkan sekarang!" Titah Karina dingin tak mau mengurusi masalah sepele tersebut. Jiwa seorang wanita konglomerat yang kaya mulai melekat di tubuh Karina setelah diangkat sebagai wakil CEO di perusahaan sebagai istri dari CEO.


"Mari silakan nyonya!" Pinta pegawai muda tadi takut-takut melakukan kesalahan lagi, untungnya kali ini Karina tidak mempermasalahkan kesalahannya bahkan terlihat acuh.


Karena bagaimana pun juga, pegawai muda tersebut pernah mendapatkan teguran dari manager salon akan dipecat jika melakukan kesalahan sekali lagi dan pelanggan tidak terima. Seharusnya dia harus bersyukur dan berterima kasih pada Karina dengan melayaninya sebaik mungkin.


"Karina?" Karina sontak menoleh menatap ke arah suara yang memanggilnya saat dia sudah berganti pakaian hendak masuk ke ruang pemijatan. Firasat buruk menghampirinya kala dia merasa familiar dengan suara yang memanggilnya tersebut.


Karina pun menoleh mendapati seseorang yang benar-benar tidak diinginkan untuk bertemu dalam ketidak sengajaan tersebut membuat Karina yang sudah berwajah dingin semakin menunjukkan ekspresi dinginnya lagi.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2