Suami Dan Adik Ipar

Suami Dan Adik Ipar
Bab 27


__ADS_3

"Ayo kita berangkat!" Ajak Rey sambil memakai jas kerjanya yang memang sejak pagi dia melepasnya dan meletakkan di tempatnya.


"Eh?" Karina terkejut dengan ajakan bosnya.


"Jangan bilang kau lupa kalau kita akan menemui klien?" Tanya Rey menatap tajam Karina yang memang dia tidak tahu.


"Bukankah dengan tuan Aldi anda akan pergi?" Ucap Karina balik bertanya. Secara dia baru bekerja hari ini, tak mungkin bosnya akan langsung mempercayainya untuk bertemu dengan klien. Lagipula masih banyak yang harus dia pelajari. Dan juga ini masih jam makan siang, bukankah tadi katanya setelah makan siang bertemu dengan kliennya.


"Siapa bilang?" Tanya Rey tajam membuat nyali Karina tiba-tiba menciut. Entah kenapa emosi pria di hadapannya ini sangat mudah terpancing padahal dia hanya bertanya.


"Sa-saya masih baru tuan, masih banyak yang harus saya pelajari... Jadi..."


"Tidak ada bantahan!" Potong Rey cepat tak mau bicara panjang lebar.


"Bukankah pertemuannya setelah makan siang dan seharusnya kita makan siang dulu tuan." Protes Karina tapi tetap berdiri bersiap membawa berkas yang memang sudah dititahkan Rey sejak tadi dan akan digunakan saat bertemu klien tadi.


"Kita makan siang dulu."


"Ta-tapi..."


Cklek


Rey tak menggubris pertanyaan Karina lagi langsung keluar dari dalam ruang kerjanya, Karina sendiri tak bertanya lagi memilih untuk mengikuti langkah Rey dari belakang.


"Ima, aku makan siang di luar setelah itu langsung menemui klien!" Titah Rey cepat saat menghampiri Ima yang sudah bersiap untuk makan siang juga.


"Baik tuan." Jawab Ima dengan sigap dan menundukkan kepalanya sopan. Dia juga melirik Karina yang setia mengikuti setiap langkah Rey.


Rey masuk ke dalam lift khusus eksekutif dan memilih untuk turun langsung ke basemen parkiran khusus eksekutif juga. Dia terlalu malas lewat lobi jika tidak ada sesuatu yang mengharuskannya.


"Kau siapkan saja nanti berkasnya! Dengar dan catat apa yang dibahas nanti!" Titah Rey sambil berjalan menuju mobilnya diparkir. Sopir kantor yang sudah tahu juga jadwal Rey langsung membukakan pintu mobil untuk bosnya.


Karina masih terdiam bingung mau duduk di mana, hingga dia pun memutuskan untuk duduk di kursi depan bersebelahan dengan sang sopir.

__ADS_1


"Siapa yang menyuruhmu duduk di situ?" Tanya Rey menatap tajam pada Karina yang sudah hampir memasukkan kepalanya bersiap untuk duduk. Sopir yang masih berada di luar mobil juga mendengarnya hanya terdiam merasa canggung melihat perdebatan bos dan sekretarisnya yang baru saja dilihatnya hari ini.


Karina mengurungkan niatnya untuk duduk di kursi depan dan bergerak membuka pintu belakang mobil tempat Rey duduk.


Mobil dilajukan dengan kecepatan sedang oleh sopir setelah perdebatan tadi selesai. Karina duduk sopan hampir menempel pada pintu mobil dengan kecanggungan yang teramat sangat. Jika dulu dia duduk dengan atasannya di perusahaan lamanya biasa saja karena memang sudah lama bekerja. Namun sekarang dia terlihat canggung dan kaku meski tidak terlalu mempermasalahkannya. Tapi bagaimana pun juga dia tetaplah karyawan baru di perusahaan ini meski pengalaman kerjanya sudah lama.


Keduanya saling terdiam di dalam mobil tanpa ada suara atau berbicara apapun. Rey sendiri sibuk dengan tabletnya mempelajari data terbaru tentang kerja samanya dengan klien nya yang akan ditemuinya hari ini nanti.


Hingga tanpa sadar mobil sudah terparkir sempurna di restoran mewah tempat biasa dia singgah untuk makan.


Rey keluar dari mobil setelah sopir keluar membukakan pintu mobil untuknya. Sedang Karina sendiri keluar sendiri mengikuti langkah Rey di belakangnya. Meski dia sedikit was-was dan ragu untuk makan di restoran mewah ini. Selain budget belum tentu mampu untuk membayar biaya makannya nanti di restoran itu.


.


.


"Maafkan papi." Ucap Arwana setelah selesai dengan meeting pemegang saham untuk memperkenalkan Bryan pada karyawannya.


"Seharusnya sudah menjadi hak ku untuk menunjukmu atau siapapun yang aku mau tanpa banyak protes." Jawab Arwana.


"Aku baik-baik saja Pi, malah aku senang karena aku sendiri ingin menunjukkan pada mereka kalau aku mampu." Arwana hanya menggunakan kepalanya.


"Papi percaya padamu."


"Terima kasih sudah memberikan kepercayaan papi padaku."


"Tentu saja, kau adalah putraku."


"Apa rencanamu sekarang?" Tanya Arwana yang melihat Bryan berkeliling di ruang kerjanya menilai apa yang dilihatnya di dalam ruangannya tersebut.


"Aku ingin melihat berkas data tentang proyek kerja sama yang kita bahas tadi." Ucap Bryan yang langsung diangguki Arwana dan melangkah ke kursi kerjanya dan mulai menyalakan laptop mencari hal yang dimaksud Bryan.


"Pakailah laptopnya ini sementara untuk mempelajari, aku akan mengirimkan berkas ini nanti ke laptop khusus untukmu sendiri!"

__ADS_1


"Tentu Pi." Bryan duduk di kursi yang tadi diduduki Arwana dan mulai serius dengan laptop tersebut. Mempelajari tentang proyek yang dijadikan penilaian untuk membuktikan pekerjaannya.


Arwana menatap Bryan yang sudah mulai serius bekerja dan memilih untuk duduk di kursi depan Bryan duduk dan mencari berkas yang harus dia tanda tangani.


"Kalau ada yang tidak kau mengerti kau bisa tanyakan pada papi." Arwana memecahkan keheningan setelah satu jam sama-sama terdiam.


"Iya Pi." Jawab Bryan singkat masih fokus ke dalam layar laptop menatap proyek kerja sama tersebut.


Arwana menatap puas pada Bryan melihat antusiasnya yang sedang mempelajari pekerjaan di perusahaannya.


Mengenai putranya yang enggan pulang karena marah saat mengenalkannya pada Ambar membuat Arwana menunjukkan wajah sendunya. Dia sudah meminta maaf pada putranya namun putranya itu tampaknya tidak ada inisiatif untuk memaafkannya.


Kau tidak melupakan papa kan nak? Batin Arwana dalam hati hingga kemudian menghembuskan nafas kasar merasa frustasi. Karena hingga saat ini kurang lebih dua puluh tahun putranya itu enggan pulang karena memang tidak merestui pernikahannya dengan Ambar yang membawa putranya juga saat itu.


.


.


"Sepertinya sudah waktunya pergi tuan?" Ajak Karina setelah melirik jam tangannya sudah hampir pukul dua siang.


"Tidak perlu." Bantah Rey masih menyibukkan dirinya dengan tablet setelah selesai makan siang padahal mejanya pun sudah diberesi oleh pelayan membuat Karina terdiam bengong mendengar ucapan Rey.


"Maksud tuan?"


"Kliennya sudah datang." Rey langsung berdiri diikuti Karina yang ternyata ada dua orang pria yang datang menghampiri mejanya membuat Karina langsung mengerti kalau mereka lah klien yang ditunggu mereka.


Setelah berbasa-basi salam sapa, keduanya pun duduk diikuti Karina juga sekretaris pria yang dibawa kliennya. Seperti instruksi Rey tadi Karina hanya diam dan mulai mencatat serta tak lupa menyalakan rekaman di ponselnya. Karena Karina memang baru kali ini bekerja sebagai seorang sekretaris dan inilah yang bisa dipelajari secara perlahan.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2