
"Maafkan aku, aku tidak sengaja, sungguh." Ucap Ima saat jam makan siang bertemu dengan Karina.
"Sudah mbak jangan katakan lagi! Kau tahu aku semakin malu jika mbak terus mengatakannya." Jawab Karina dengan wajah memerah.
"Baiklah. Aku benar-benar shock." Karina meringis malu.
Saat ini Karina terpaksa makan siang di kantin bersama Ima karena Rey dan Aldi sedang meeting dengan beberapa klien yang sedang ada masalah dengan proyeknya. Rencana makan siang yang direncanakan keduanya buyar karena masalah itu tak kunjung selesai dan beberapa saat lalu sebelum jam makan siang Rey menghubungi Karina meminta maaf karena tidak bisa makan siang bersama karena masalahnya belum selesai. Dan disinilah kini, Karina dengan Ima makan siang bersama seperti titah Rey.
"Jadi...?"
"Apa?" Tanya Karina pura-pura bodoh dengan pertanyaan Ima.
"Aku sudah mengira di awal sebenarnya, tapi... Aku tak mau gegabah karena takut berujung fitnah." Ucap Ima. Karina hanya tersenyum tak menjawab apapun. Dia belum siap semua orang tahu tentang pernikahan mereka. Setidaknya sampai pernikahan mereka dilakukan pemberkatan di gereja bulan depan.
"Entah apa hubungan kalian, semoga langgeng." Ucap Ima lagi dan dalam hati Karina terdiam sendu, entah dia tidak yakin dengan hubungan mereka ke depannya. Semoga dia bisa menerima suaminya sebagai pria yang dicintainya nanti.
.
.
"Ayo kita pulang!" Ajak Rey mengembuskan napas lega setelah berhasil menyelesaikan pekerjaannya meski hampir larut malam.
__ADS_1
"Baik tuan."
"Bagaimana bisa ada masalah seperti ini?" Tanya Rey di dalam mobil perjalanan untuk pulang langsung ke apartemennya. Dia sudah sangat merindukan istrinya.
"Sepertinya ada yang berkhianat tuan."
"Kau sudah tahu siapa?"
"Saya masih menyelidiki dalangnya. Orang-orang tadi hanya mengikuti perintah saja."
"Usut sampai tuntas, aku tak mau ada lagi masalah seperti ini lagi!"
"Baik tuan."
"Kau sudah pulang?" Tanya Rey dalam panggilan ponselnya.
"Iya."
"Aku akan segera pulang."
"Hati-hati."
__ADS_1
"Baiklah. Aku merindukanmu." Karina terdiam tidak menjawab ungkapan kerinduan dari suaminya.
"Tunggu aku!" Lanjut Rey meski sedikit terpancar rasa kecewanya tak mendapatkan balasan rasa rindunya. Rey mengembuskan napas kasar setelah menutup panggilannya.
"Selama apapun aku akan bersabar menunggumu." Guman Rey menatap layar ponselnya sendu.
.
.
Karina terdiam di ranjangnya menatap layar ponselnya yang sudah menghitam tanda panggilan sudah dimatikan. Dia sedikit merasa bersalah karena tak mampu menjawab ungkapan kerinduan suaminya. Dia tidak ingin membohongi dirinya sendiri maupun suaminya. Dia akan mengungkapkannya nanti saat dia juga memiliki perasaan yang sama pada suaminya itu.
"Maaf." Guman Karina. Dia melirik jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam. Sungguh aneh, dia masih belum bisa tertidur entah karena apa yang jelas dia merasa ada yang kurang saat tidur sendiri. Seolah dia menginginkan keberadaan seseorang di sisi ranjangnya.
Karina pun menghela nafas panjang meletakkan kembali ponselnya di meja nakas samping tempat tidurnya. Dia memilih untuk membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya sejenak.
Pagi hari Karina membuka matanya, entah pukul berapa dia terlelap namun saat merasakan berat di pinggangnya dia pun melirik kalau lengan kekar suaminya sudah bertengger manis disana, entah pukul berapa dia tiba hingga dia tidak ingat kapan suaminya sudah ada di sisi nya. Karina melepaskan dekapan itu perlahan karena dia hendak menuntaskan hasratnya untuk ke kamar mandi.
Karina langsung berlari begitu berhasil melepasnya dan segera menuju kamar mandi sekaligus bersiap untuk bekerja pagi ini.
.
__ADS_1
.
TBC