Suami Dan Adik Ipar

Suami Dan Adik Ipar
Bab 43


__ADS_3

Pukul tujuh malam pesta perusahaan ABC sudah mulai berdatangan para tamu undangan yang notabene adalah karyawan perusahaan. Selain untuk memperkenalkan CEO baru penerus CEO lama. Pesta itu juga untuk memperkenalkan ke publik Bryan sebagai putra dari pengusaha sukses Arwana Atmajaya.


Setelah lama Arwana yang tidak pernah muncul memperkenalkan siapa putranya, kini dia pun sudah siap menunjuk Bryan sebagai penerusnya.


Bryan sudah bersiap di kamarnya, berdiri menghadap cermin seluruh badan di kamarnya tersebut. Memandang lekat ke depan dengan pakaian jas formal yang disiapkan maminya. Meski dia belum sepenuhnya memaafkan maminya. Bryan tidak menolak perhatian kecil maminya.


Tatapan matanya sendu mengingat cintanya yang terpaksa kandas. Dengan penuh tekad setelah ini, Bryan berjanji akan memperjuangkan cintanya meski tanpa restu orang tuanya.


"Tunggu aku sayang! Kuharap kau masih menjadi milikku!" Guman Bryan merapikan jasnya yang sudah terlihat rapi.


Cklek


Gio membuka pintu mobil untuk Bryan dan mobil pun melaju dengan kecepatan sedang menuju ballroom gedung perusahaan tempat pesta diadakan.


Tak sampai satu jam Bryan sudah sampai ke tujuan. Diikuti Gio yang selalu berada di belakangnya. Dengan wajah datar dan dinginnya Bryan masuk ke dalam ballroom gedung pesta yang sudah terdapat banyak tamu undangan yang merupakan para karyawan perusahaan.


MC pun memulai acara karena tokoh utama sudah datang. Arwana dan Ambar sudah berangkat dan tiba terlebih dahulu di ballroom segera nenitahkan MC untuk segera memulai acara.


Acara pun dimulai dari sambutan Arwana yang memperkenalkan Bryan di seluruh tamu undangan dan Bryan pun dipanggil untuk memberikan sambutan namun Bryan hanya memperkenalkan diri tidak mengatakan apapun hal yang berarti.


"Apa kabar tuan Bryan, selamat telah diangkat menjadi CEO baru?" Sapa seorang gadis membuat Bryan sontak menoleh menatap tak suka pada gadis tersebut.


"Siapa?" Tanya Bryan menatap gadis itu mengernyit merasa tak mengenalnya. Masih mempertahankan wajah datar dan dinginnya tersebut.

__ADS_1


"Ah, anda tidak ingat saya?" Kening Bryan semakin dalam mengernyit merasa jengah melihat gadis di depannya itu. Tak sedikit para gadis yang mendekatinya sejak kuliah dulu. Dan Bryan tak pernah menggubrisnya, dia hanya setia pada kekasihnya saat itu yang masih dicintainya sampai saat ini meski hubungan mereka putus.


"Saya Aura? Aura Maria Hutama." Ucap gadis itu dengan gaya anggun dan elegannya tersenyum sopan menatap Bryan.


"Nona Hutama?" Ucap Bryan mengernyit sesaat dia mengingat siapa gadis itu meski dia tak sempat bertemu tapi dia diberi tahu maminya setelah itu dan Bryan sempat mendapat laporan dari Gio tentang gadis di hadapannya ini. Gadis yang pernah dijodohkan dengannya. Gadis penyebab hubungannya kandas dengan kekasihnya. Refleks tangan Bryan mengepal meski wajahnya tidak masih tetap berwajah dingin dan datar.


"Panggil saja saya Aura tuan Bryan." Jawab Aura dengan tenangnya.


"Sepertinya itu tidak mungkin terjadi nona Hutama." Jawab Bryan sedikit sinis namun tidak menunjukkannya. Hanya Gio yang menyadari perubahan ekspresi wajah tuannya karena dia selalu berada di sisi tuan mudanya. Aura terdiam merasa kecewa karena merasa diacuhkan oleh Bryan. Padahal beberapa waktu lalu mereka sempat hendak dijodohkan meskipun akhirnya gagal.


"Oh, sekendak hati anda saja memanggil saya, karena sepertinya kita seumuran dan kita pun pernah bertemu saat kuliah S2 di NY city." Bryan terdiam mencoba mengingat wajah gadis itu, tidak banyak orang Indonesia yang seangkatan dengannya satu kampus dengannya. Kebanyakan dari mereka kakak tingkat atau adik tingkat. Karena dulu fokus Bryan hanya belajar, belajar dan belajar. Dia mengurangi pergaulan dengan para gadis-gadis hanya ke beberapa teman pria saja.


"Terlalu banyak yang saya kenal di sana." Elak Bryan tak mau berpikir terlalu jauh, toh itu sudah lama dan dia tidak berniat mengingat siapapun kecuali Karina.


"Maaf, masih ada banyak tamu yang harus saya temui." Tolak Bryan memotong ucapan Aura membuat wajah Aura menggelap karena kesal namun image nya sebagai seorang gadis ramah dan baik membuat Aura menahan diri untuk tidak berteriak.


"Terima kasih sudah menyempatkan berbincang dengan saya tuan muda." Jawab Aura tak membuat Bryan menggubrisnya hanya menatap sinis pada gadis yang terlihat tidak tulus itu.


.


.


"Ayo kuantar ke apartemen!" Ajak Rey setelah mereka tiba di bandara.

__ADS_1


"Tuan... Saya..."


"Tidak ada bantahan!" Potong Rey cepat sebelum Karina menolaknya.


Cklek


Rey membuka pintu mobil bagian belakang sopir untuk Karina setelah kemudian dia juga masuk di sisi satunya lagi. Mobil pun dilajukan dengan kecepatan sedang membuat Rey menghela nafas menyamankan duduknya. Rey pun menyebut alamat apartemen Karina yang sudah diketahuinya meski dia belum pernah kesana. Dia mendapatkannya dari Aldi saat menyelidiki tentang Karina.


"Besok istirahatlah tidak usah bekerja!" Titah Rey saat Karina hendak menutup pintu apartemen tanpa mempersilakan Rey untuk mampir karena hari sudah larut malam.


"Saya baik-baik saja." Tolak Karina tegas menatap Rey yang juga menatapnya datar dan dingin.


"Ini perintah!" Tegas Rey yang hendak diprotes Karina namun pintunya segera ditutup Rey setelah mendorong koper Karina didorong masuk ke dalam apartemen membuat Karina tak sempat untuk protes karena dorongan koper membuat tubuhnya mau tak mau menjauh dari pintu.


Cklek


"Pemaksa!" Kesal Karina setelah pintu apartemennya tertutup rapat.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2