
"Permisi nona Karin?" Panggil Bastian saat melihat Rey sedang berbincang dengan kliennya yang lain dan Karina memilih pamit untuk kembali ke mobil karena merasa perutnya sakit. Bastian yang pura-pura pamit ke toilet pada putrinya menghampiri Karina yang melangkah ke arah mobilnya diparkir.
"Ya tuan." Jawab Karina sopan membuat Bastian termenung.
"Bolehkah saya minta nomor ponsel anda?" Pinta Bastian yang terlihat mirip permohonan.
"Maaf tuan, anda bisa menghubungi nomor ponsel saya yang ini." Karina menyodorkan sebuah kartu nama yang berisi nomor ponsel kantor yang menjadi fasilitasnya sekarang.
"Oh terima kasih. Boleh saya bertanya sesuatu lagi?" Karina mengernyit heran namun dia tidak mau berpikir negatif, tatapan pria ini sarat akan kerinduan yang begitu kelam di matanya.
"Iya silakan?"
"Apa kau mengenal Nina?"
Deg
Karina hampir terhuyung jika saja dia tidak berdiri tegak namun dia tak mau menunjukkan kelemahan apapun di hadapan siapapun.
"Saya tidak mengenal nama itu." Jawab Karina tegas karena dia memang tidak mengenal nama itu namun dia pernah membacanya nama itu di suatu tempat, tapi dia lupa.
Bastian hanya terdiam menatap hampa wajah Karina yang terlihat mirip dengan wanitanya di masa lalu tapi...
"Apa yang anda inginkan?" Suara bariton Rey yang tiba-tiba muncul membuat keduanya tersentak kaget. Rey menatap tajam Karina meski bergantian menatap Bastian tajam karena tidak suka seseorang menganggu miliknya. Dia bisa saja berteriak marah kalau saja mereka tidak berada di tempat umum. Rey masih menghargai istrinya yang tidak ingin hubungan mereka go publik.
"Ah, urusan saya sudah selesai dengan nona Karina. Permisi tuan Rey dan nona Karina." Pamit Bastian tersenyum lebar seolah tidak terjadi apapun.
Rey beralih menatap Karina lekat meminta penjelasan tentang kedatangan Bastian menghampirinya dalam tatapan mata penuh intimidasi.
"Perutku sakit." Karina mengalihkan perhatian Rey sambil memegangi perutnya yang terasa nyeri di bawah perut.
__ADS_1
"Kau baik-baik saja?" Tanya Rey cemas dia segera membopong tubuh istrinya ke mobil dibantu sopir membukakan pintu mobil ikut cemas.
"Kyaa...aku baik-baik saja, jangan mengagetkanku mas." Seru Karina malu, untung saja mereka sudah dekat dengan mobil mereka diparkir.
"Kau baik-baik saja? Bagian mana yang sakit? Kita ke rumah sakit." Titah Rey dengan nada cemas dan khawatir.
"Tidak perlu mas hanya penyakit datang bulan saja." Elak Karina.
"A-apa.. Datang bulan?" Tanya Rey mengernyit bingung.
"Iya. Nanti juga sembuh."
"Tunggu!"
"Ya?" Mereka saling menatap.
"Bukankah kau sedang hamil? Apa itu artinya kau keguguran?" Tanya Rey membuat Karina mengernyit terkejut.
"Oma."
"Itu ... Tidak." Jawab Karina sambil meringis, dia memang selalu kesakitan di hari pertama dia datang bulan. Itulah yang terjadi tadi di toilet saat dia sedikit lebih lama kembali. Untung saja dia hafal tanggalnya jadi dia selalu menyediakan dan membawa perlengkapannya jika sewaktu-waktu tiba.
"Jadi kau tidak hamil?" Tanya Rey terlihat kecewa.
"Sayangnya tidak. Apa kau kecewa?" Tanya Karina melihat wajah suaminya kecewa.
"Tentu saja tidak, itu artinya aku harus berjuang lebih keras lagi kan?" Goda Rey menaik turunkan alisnya membuat Karina tertawa namun sesaat langsung meringis merasa nyeri lagi.
"Sakit kah? Mau periksa ke rumah sakit?" Tawar Rey penuh perhatian.
__ADS_1
"Tidak. Istirahat sebentar akan lebih baik." Jawab Karina menyandarkan tubuhnya di sandaran jok mobil yang mulai melaju dengan kecepatan rendah sesuai instruksi Rey yang tidak mau melihat istrinya kesakitan.
"Antar kami ke apartemen!" Titah Rey tegas yang diangguki sopir. Rey menarik kepala istrinya agar bersandar di bahunya dengan nyaman.
.
.
Bryan disibukkan dengan pekerjaannya. Niat hati ingin mendatangi Karina tapi dia harus pergi ke luar negeri mengurus pekerjaannya yang semakin berkembang pesat sejak di pegangnya. Dengan proposal kerja sama yang dibuatnya, Bryan mampu menggaet perusahaan asing untuk bekerja sama dengan perusahaannya. Sehingga sudah hampir satu bulan lebih dia masih belum bisa kembali ke tanah air.
"Apa masih belum selesai?" Tanya Bryan mulai frustasi.
"Sepertinya seminggu ke depan masih sangat sibuk tuan." Jawab Gio membuat Bryan menghembuskan nafas kasar. Dia ingin sekali mengumpat namun dia harus berjuang keras untuk merebut Karina dari kakak tirinya yang memang kekayaannya jauh di atas perusahaan papinya.
Dan Bryan juga sudah mengambil alih aset perusahaan hingga lima puluh persen dan dia lah sekarang pemegang saham terbesar di perusahaan tersebut. Namun dia merasa masih belum cukup jika ingin menarik perhatian Karina bahkan merebutnya jika Karina menginginkan harta dan kekuasaan. Bagaimana pun juga Rey masih jauh di atasnya.
"Bisakah dipercepat?" Protes Bryan mulai kesal.
"Maaf tuan, bagaimana pun juga ini kerja sama go internasional anda untuk pertama kalinya, jadi akan lebih baik jika anda sendiri yang mengurusnya." Saran Gio.
"Apa itu masih jauh dengan miliknya?"
"....maaf tuan." Jawab Gio merasa bersalah dengan jawabannya.
"Itu artinya aku harus berjuang lebih keras lagi kan?" Gio hanya mampu menundukkan kepalanya tak mampu memberikan jawaban yang sudah pasti itu.
"Baiklah. Aku tidak akan menyerah." Jawab Bryan yakin.
.
__ADS_1
.
TBC