Suami Dan Adik Ipar

Suami Dan Adik Ipar
Bab 17


__ADS_3

Pagi itu Karina berangkat pagi karena kebagian shift pagi. Dia sudah bersiap untuk berangkat hingga kemudian ponselnya berdering. Karina melirik layar ponselnya menunjukkan nama ibu panti yang menghubunginya hingga dia segera mengangkatnya. Ibu panti tak pernah menghubunginya jika bukan karena hal penting.


"Ya Bu?"


"Nak Karin. Hiks...hiks..." Suara serak dan isak tangis terdengar dari seberang ponsel membuat Karina cemas.


"Ada apa Bu?" Tanya Karina berusaha tenang meski dia sendiri juga cemas.


"Pemilik tanah panti datang nak, mereka memberi waktu sampai besok untuk kami pindah." Isak tangis masih terdengar, ibu panti menjelaskan dengan sesenggukan.


"Maksud pemilik tanah?" Karina masih belum loading karena merasa sakit hati mendengar tangisan ibu panti yang sudah dianggapnya seperti ibu kandungnya sendiri.


Ibu panti pun akhirnya bercerita, kalau pagi tadi pemilik tanah yang dibangun rumah panti tempat tinggal anak-anak panti akan dibeli seseorang. Sehingga mereka hanya diberi waktu dua hari untuk pindah. Karena tanah itu bukan hak milik bangunan panti, ibu panti terpaksa mengiyakan meski setiap bulan mereka membayar sewa tanah.


Dan karena tanah sudah dikehendaki seseorang untuk dibeli dengan harga yang lumayan mahal membuat pemilik tanah gelap mata dan memilih untuk menjualnya dari pada disewa oleh panti asuhan. Meski tidak kasar pemilik tanah mengharuskan untuk segera pindah atas keinginan pemilik tanah yang baru.


Kalau sampai tidak pindah segera pemilik tanah terpaksa mengusir secara paksa nanti jika batas waktu yang diberikan tidak segera pindah.


Hati Karina mencelos mendengar cerita ibu panti semakin membuatnya merasa sedih. Dia memang sedikit mengerti tentang pemilik tanah tempat bangunan panti berada, dia sangat perhitungan sekali. Meski sewanya tidak mahal hal itu tetap saja memberatkan panti asuhan karena pemasukan mereka hanya dari donatur saja. Itu pun tidak banyak.


"Berapa pemilik tanah itu bilang Bu?" Tanya Karina karena tahu apa maksud pemilik tanah itu. Dia berharap uang pesangonnya cukup untuk membayar agar mereka tidak diusir.


"Itu sangat banyak nak, lebih baik kita pindah." Jawab ibu panti.


"Berapa bu, semoga uang Karin cukup."


"Du-dua ..." Jawab ibu panti ragu.


"Dua apa Bu?"


"Dua ratus juta."


"A-a.. Oh.. Saya lihat dulu uang saya Bu?" Jawab Karina.


"Itu uang yang sangat banyak nak, padahal tanahnya tidak semahal itu." Ucap ibu panti menenangkan.


"Nggak apa Bu, uang tabungan Karin ada, ibu bisa pakai dulu. Nanti minta pak Dadang mengurusnya ya Bu, agar langsung dibalik nama sertifikatnya?"


"Ta-tapi nak, itu uang tabungan kamu...itu..."


"Bu, ibu sudah Karin anggap sebagai ibu kandungku sendiri, jadi nggak apa-apa, pakai saja."


"Terima kasih nak, ibu selalu merepotkan kamu."


"Bu, itu semua juga demi adik-adik. Kalian sudah seperti keluargaku sendiri." Jawab Karina.

__ADS_1


Setelah panggilannya ditutup, Karina segera mengirim uang itu via mobile. Dia tak mau anak-anak panti terlantar karena tanah sewa bangunan panti mereka diusir. Lebih baik dia menggunakan uangnya yang entah akan digunakan untuk apa.


.


.


Sore hari Karina pulang setelah menyelesaikan pekerjaannya di shift paginya. Karina mendapat pesan dari ibu panti kalau masalah sudah terselesaikan. Karina menghembuskan nafas lega mendengarnya, tinggal mengurus sertifikat kepemilikan sedang diurus pak Dadang suami ibu panti.


Belum juga dia sampai ke apartemen seorang pria menghadang jalannya membuat Karina mengernyit menatap pria yang berjas rapi itu. Wajahnya datar meski sudah berumur dia masih tetap tampan.


"Permisi, saya mau lewat." Ucap Karina namun pria itu tidak bergeming dari tempatnya berdiri menutup jalan Karina.


"Maaf nona, nyonya ingin bertemu dengan anda." Karina mengernyit menatap pria itu.


"Nyonya?"


"Mari silahkan masuk!" Ajak pria itu menunjuk pintu mobil yang terbuka.


"Siapa nyonya kalian?"


"Nyonya besar Atmajaya."


Deg


"Mari nona!" Ajak pria itu sekali lagi membuyarkan lamunannya sejenak.


Mobil melaju dengan sedikit tenang yang tidak jauh dari tempat Karina dijemput. Hingga mereka tiba di sebuah restoran tempat mereka bertemu beberapa waktu lalu. Jantung Karina sedang tidak baik-baik saja. Ucapan permohonan Bryan kemarin kembali terngiang-ngiang di benaknya untuk mempertahankan hubungannya. Karina turun dari mobil berharap semuanya baik-baik saja.


"Mari silahkan masuk!" Ucap pria tadi masuk ke dalam diikuti Karina yang hanya memilih untuk menurut saja.


Tok tok tok


"Masuk!"


Cklek


Wajah anggun Ambar menyambut Karina untuk masuk dan duduk di kursi yang dulu pernah dia duduki.


"Kau masih belum menyerah?" Tanya Ambar meletakkan cangkir teh nya dengan elegan.


"Maaf, saya tidak bisa meninggalkannya." Tegas Karina menatap wajah Ambar dengan tenang meski jantungnya tidak berhenti berdebar.


"Sepertinya semua yang kulakukan belum membuatmu menyerah juga ya?" Ucap Ambar menatap Karina dengan pandangan menusuk.


"Kami berjanji untuk memperjuangkan restu anda nyonya. Dan saya mohon..."

__ADS_1


"Hahaha... hahaha... Kau membuatku tertawa saja. Kau pikir suatu saat aku akan merestui kalian? Hahaha..." Tawa Ambar meremehkan membuat Karina terdiam. Kedua tangannya mengepal di bawah meja dengan wajah masih berusaha tenang.


"Jadikan dirimu kaya, mungkin aku akan mempertimbangkan! Hahaha..." Ucap Ambar dengan nada meremehkan.


"Apa saya seburuk itu dimata nyonya? Padahal semua harta dan kekayaan tidak dibawa mati." Jawab Karina tegas.


"Kau benar, harta dan kekayaan tidak dibawa mati tapi jika manusia hidup tidak punya uang serasa mau mati." Ucapan menohok Ambar membuat Karina terdiam. Di sudut hati kecilnya membernarkan semua ucapan Ambar membuatnya terdiam tak mampu berkomentar.


"Apa aku harus melakukan hal yang lebih ekstrim lagi agar kau menyerah?" Karina mengernyit masih belum mengerti apa yang dikatakan Ambar.


"Kurasa membuat anak-anak itu sengsara itu cukup."


Deg


Suara Ambar tentang anak membuat jantung Karina langsung berdetak.


Tidak mungkin, jangan bilang semua yang terjadi di panti karenanya? Batin Karina bertanya-tanya namun mulutnya terkunci.


"Kurasa uangmu pun sudah habis."


Deg


Kembali jantungnya berdetak demi mendengar ucapan Ambar.


"A-apa maksud nyonya?" Tanya Karina ragu.


"Kau pikir, apa alasan kau dipecat? Masih baik aku meminta mereka untuk memberimu uang pesangon dan berharap kau meninggalkan putraku, tapi ternyata kau malah membuatku gerah untuk bermain-main." Jelas Ambar menjeda ucapannya.


"Jadi?"


"Ya, aku yang memecatmu dan tanah panti asuhan itu aku juga."


"Anda menggunakan cara licik. Kukira anda wanita terhormat sehingga tidak melibatkan orang terdekat saya."


"Hahaha... Kau terlalu naif nak. Aku sudah memintamu baik-baik namun kau malah memancing amarahku. Jika kau masih tetap tidak menyerah, jangan salahkan aku bertindak lebih pada anak-anak yang menggemaskan itu."


"A-apa yang akan anda lakukan?" Tanya Karina gugup menggeleng tak percaya mendengar ancaman Ambar.


"Entahlah, kurasa aku sudah memberikanmu kesempatan. Jadi, jangan salahkan aku jika bertindak berlebihan." Ambar segera berdiri dari tempat duduknya namun Karina langsung berlutut di sebelah kursi Ambar memohon padanya.


"Kumohon nyonya, sa-saya akan meninggalkannya tapi kumohon jangan sakiti mereka. Mereka tidak tahu apa-apa." Cegah Karina membuat Ambar yang melihatnya tersenyum smirk..


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2