Suami Dan Adik Ipar

Suami Dan Adik Ipar
Bab 60


__ADS_3

"Kau tidak sarapan nak?" Tanya Ambar melihat putranya langsung pamit tanpa duduk untuk sarapan.


"Aku tidak lapar mi." Jawab Bryan acuh sambil terus melangkah.


"Mau mami bawakan bekal?" Tawar Ambar.


"Tidak."


"Setidaknya kau harus mengisi perutmu sedikit." Ucapan tegas Arwana membuat Bryan memilih menurut meski sebenarnya dia tidak berselera.


"Oh ya, keluarga Aura menanyakan kabarmu? Mereka mengundang kita untuk makan malam." Ucap Ambar entah kepada siapa namun matanya menatap Bryan.


Ting


Suara sendok garpu diletakkan di piring oleh Bryan membuat kedua orang tua itu menatap Bryan.


"Aku sudah selesai." Pamit Bryan meski sebenarnya nasinya tidak berkurang sama sekali.


Ambar terdiam menghela nafas panjang. Arwana menatap punggung putranya dengan sendu.


"Apa dia belum melupakannya?" Ujar Ambar menatap suaminya.


"Mungkin?" Jawab Arwana singkat melanjutkan makannya.


"Tapi kita tidak bisa menolak undangan makan malam mereka." Ucap Ambar lagi.


"Aku akan bicara dengannya." Ambar menganggukkan kepalanya.


"Apa Rey akan baik-baik saja dengan pernikahan itu? Entah kenapa kalau kemesraan mereka hanya pura-pura. Aku takut dia dimanfaatkan wanita itu." Ucap Ambar hati-hati.


"Karina bukan wanita seperti itu meski dia berasal dari panti asuhan. Rey tahu mana yang baik dan buruk baginya." Jawab Arwana.


"Tapi semudah itu dia menerima lamaran Rey setelah putus dari Bryan. Bagaimana kalau dia hanya memanfaatkan kekayaan Rey setelah dia tidak mendapatkan apapun dengan mendekati Bryan?"


"Huff... Kita lihat saja nanti."


"Kau harus memperingatkan wanita itu. Kalau saja hubunganku dengan Rey baik, aku pasti akan mendekati wanita itu lagi dan berharap dia mundur dari Rey."


"Kau tidak bisa melakukan hal itu hanya karena tak menyukai Karina. Rey berbeda dengan Bryan, dia malah akan semakin menjadi jika kau melarangnya. Kau tahu sendiri Rey seperti apa."

__ADS_1


"Maka dari itu, kau lah yang seharusnya bicara pada Rey, kalau tidak bisa bicaralah pada wanita itu. Atau kita akan terlambat saat semua harta Rey sudah diambil wanita itu."


"Aku pergi dulu." Arwana memilih pamit dari pada berdebat dengan istrinya yang tidak akan menang itu.


"Kau mau kemana?"


"Menemui Bryan untuk ikut makan malam."


"Hati-hati!" Seru Ambar tersenyum seringai sambil melanjutkan sarapannya.


.


.


"Tuan muda."


"Hmm." Bryan tak memperhatikan Gio, dia tampak acuh tak acuh.


"Meeting setengah jam lagi."


"Hmm." Seperti itu terus jawaban Bryan saat Gio mengatakan sesuatu membuat Gio menghela nafas panjang.


Cklek


"Tuan besar." Sapa Gio sopan sambil menundukkan kepalanya.


"Bryan ada?"


Gio langsung membuka pintu ruangan Bryan lebar mempersilakan Arwana masuk ke dalam. Arwana melangkah masuk menatap putranya yang terdiam di kursi kerjanya menatap ke arah jendela kaca di samping mejanya. Tampak melamun menatap kosong ke arah jendela tersebut.


Arwana menoleh menatap Gio yang hanya menundukkan kepalanya tak berani mengatakan apapun tentang tuan mudanya.


"Bryan!" Panggil Arwana yang lagi-lagi hanya dijawab deheman. Arwana kembali menoleh menatap Gio mengernyit heran.


"Sejak dua hari yang lalu tuan muda seperti itu." Jawab Gio akhirnya.


"Aku akan bicara padanya."


"Saya permisi tuan." Pamit Gio yang langsung mengerti apa yang dikatakan Arwana.

__ADS_1


"Kau akan seperti ini terus?" Tanya Arwana duduk di kursi depan meja kerja Bryan.


"Bryan!" Seru Arwana lebih keras lagi suaranya hampir terdengar seperti teriakkan.


"Eh.. Papi?" Bryan terkejut sontak menoleh mendapati Arwana ada di ruangannya. Dia melirik sekitar, Gio sudah tidak ada disana. Arwana hanya bisa menghela nafas panjang.


"Sampai kapan kau akan seperti ini?"


"Apa maksud papi?" Tanya Bryan berpura-pura bodoh sambil menanda tangani berkas untuk meeting nanti.


"Kau kira papi tidak tahu? Papi tahu semuanya, mulai menyelidiki tentang Karina, mengawasi Karina, menyuruh orang mengikutinya. Apalagi? Bahkan papi tahu hal itu." Beri tahu Arwana dengan tatapan tajam.


"Maaf Pi, aku harus meeting." Bryan beranjak dari duduknya.


"Sampai kapan kau akan seperti ini? Bahkan sekarang dia sudah menjadi kakak iparmu." Pernyataan Arwana membuat tubuh Bryan membeku di tempatnya bahkan dia berniat untuk mengabaikan ucapan Arwana.


"Apa kalian akan saling berebut hanya karena seorang wanita? Bahkan dia tidak bisa bertahan untuk menunggumu, memilih untuk menikah dengan kakakmu yang lebih segalanya darimu." Lanjut Arwana lagi membuat kedua jemari tangan Bryan mengepal merasa direndahkan.


"Apa kau yakin dia benar-benar mencintaimu? Apa kau yakin cintanya padamu tulus dan tidak memandang hartamu? Nyatanya dia tidak sabar menunggumu dan memilih untuk menikah dengan pria lain yang sayangnya adalah kakakmu sendiri." Ucap Arwana melanjutkan kata-katanya tanpa memikirkan perasaan Bryan yang terasa diremas-remas.


"Cukup Pi. Kalau itu perlu aku akan merebutnya." Tegas Bryan sambil membalikkan tubuhnya menatap Arwana.


"Dan kau akan kalah." Bryan terdiam.


"Rey memiliki segalanya, uang, kekayaan, kekuasaan. Dan kau, apa yang kau punya? Kenapa kau tidak melupakannya? Dan tunjukkan padanya kalau kau baik-baik saja meski dia tidak berada di sisimu. Kenapa kau hanya ingin merendahkanmu hanya karena seorang wanita yang begitu mudah melupakan cintamu dan menerima pria lain sebagai suaminya." Ucap Arwana panjang lebar membuat tubuh Bryan lagi-lagi membeku mendengar pernyataan yang menohok hati terdalamnya.


Benarkah? Apa karena aku miskin dia mengiyakan ajakanku putus?


Apa memang dia mengincar harta? Kekuasaan?


Batin Bryan berkecamuk menatap kosong dengan pikiran melanglang buana entah kemana.


Arwana menghela nafas panjang merasa bersalah karena menjelek-jelekkan Karina karena tak mau terjadi pertumpahan darah di antara kedua putranya meski bukan saudara kandung. Arwana hanya ingin Bryan menyadari kalau Karina bukanlah jodohnya dan berhenti berharap kalau suatu saat mereka akan bersatu. Dan Arwana tahu betul kalau Rey sangat mencintai Karina meski Karina belum memiliki rasa itu.


Meski dia tahu perlakuan mereka malam itu hanyalah sandiwara yang disusun keduanya. Namun Arwana tahu kalau sorot mata putranya sudah terjerumus jauh ke dalam hati Karina.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2