Suami Dan Adik Ipar

Suami Dan Adik Ipar
Bab 69


__ADS_3

Sudah satu bulan pernikahan mereka dan semua berjalan baik-baik saja. Bahkan mereka terlihat mesra di setiap waktu. Rey tak malu-malu lagi menunjukkan kemesraan dan perhatiannya pada sang istri begitu juga Karina. Meski hatinya sepenuhnya masih belum mencintai suaminya setidaknya dia sudah sedikit melupakan perasaannya yang salah pada sang mantan.


Pemberkatan pernikahan juga sudah dilakukan dua minggu yang lalu di gereja katedral dekat mansion Oma Rey di Amsterda*. Karina sangat bahagia pernikahan yang dilakukan secara agama dan pemberkatan dengan janji suci telah dilakukan. Karina sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu setia mencintai suaminya meski sekarang belum sepenuhnya.


Dan hal itu membuat Jessica, gadis yang sempat dijodohkan dengan Rey menjadi kesal dan marah. Namun dia tidak bisa melakukan apapun karena bagaimana pun juga opa Jessica yang merupakan rekan bisnis Rey yang kekayaannya jauh di bawah Rey tak bisa melakukan apapun selain ikut menghadiri pernikahan pemberkatan sekaligus menjadi saksi pernikahan tersebut.


"Kau sudah siap?" Tanya Rey lembut dari kursi kerjanya tak jauh dari meja kerja Karina.


"Sudah tuan."


"Sayang?" Protes Rey memelas menatap istrinya.


"Maaf." Ucap Karina tersenyum, dia sudah terbiasa memanggil seperti itu karena bagaimana pun juga mereka tetap atasan dan bawahan di tempat kerja.


"Ayo kita berangkat, meeting satu jam lagi!" Ajak Rey berdiri dari tempat duduknya menghampiri istrinya yang juga beranjak dari tempat duduknya sambil menenteng berkas untuk pembahasan meeting nanti.


"Biar aku bawakan!" Rey merebut tas tentengan yang berisi berkas yang lumayan berat itu.


"Tak apa mas.. aku..."


"Ayo!" Rey mengulurkan jemari tangannya sebelah kiri karena yang sebelah kanan menenteng tas tadi. Karina hanya menggelengkan kepalanya tak percaya dengan modus suaminya bahkan kini dia tersenyum gedek melihat tingkah mesra suaminya.


"Kau yakin?"


"Ya, kau hanya perlu menggandengnya." Jawab Rey tersenyum tipis. Karina menerima uluran tangan tersebut.


"Semua orang pasti akan curiga?" Elak Karina.


"Aku tak peduli, sudah sejak lama aku ingin mengumumkan statusmu sebagai istriku. Kau yakin selalu menolaknya." Rey menarik istrinya untuk segera keluar dari dalam ruang kerja.

__ADS_1


"Tapi mas, mbak Ima belum tahu tentang kita."


"Sstt, Aldi sudah memberi tahunya." Jawaban Rey membuat Karina sontak melotot mendengar pernyataan yang baru diketahuinya itu.


"Benarkah? Pantas saja mbak Ima terlihat canggung padaku, pasti dia takut aku mengatakan semua keluhannya tentangmu." Ucap Karina hanya mengikuti langkah istrinya.


"Memang apa yang dikeluhkanny tentangku?" Rey menatap Karina penuh penasaran.


"Ra ha si a." Karina tertawa lepas membuat Rey ikutan tertawa meski hanya menggerakkan bibirnya lebih lebar mengikuti langkah istrinya menuju lift. Ima sepertinya sedang tidak ada di tempatnya karena dia dan Aldi sedang meeting juga dengan rekan bisnis yang lainnya dan Rey lah yang menyuruh mereka.


"Siapa klien kita kali ini?" Tanya Karina basa-basi meski dia sudah tahu nama perusahaannya.


"Tuan Bastian. Dia CEO nya yang ingin langsung bertemu denganku." Jawab Rey kembali menautkan jemari tangannya dengan tangan istrinya lembut. Karina menganggukan kepalanya tanda mengerti.


.


.


"Mas, aku ke toilet dulu ya?" Izin Karina sebelum memasuki restoran mewah yang ada di mall tersebut.


"Mau kuantar?" Tawar Rey sambil menaik turunkan alisnya menggoda istrinya.


"Yak, sembarangan. Klien sudah menunggumu." Kesal Karina meski itu tahu Rey hanya bercanda dan dia pun juga bercanda.


"Hati-hati dan jangan lama, aku akan merindukanmu nanti." Goda Rey membuat Karina mendelik mendengar seruan suaminya membuat semua orang yang lewat menatap keduanya aneh.


"Aku selalu mencintaimu sayang." Guman Rey sambil menatap punggung istrinya yang mulai berbalik menuju toilet.


"Saya ingin bertemu dengan tuan Bastian." Beri tahu Rey menatap pelayan yang berdiri tak jauh dari pintu ruang VIP di restoran mewah yang privat itu.

__ADS_1


"Beliau sudah menunggu di dalam tuan." Jawab pelayan tersebut yang sudah mengenal Rey dari apa yang dipesan tuan Bastian tadi sebelum dia masuk ke dalam. Dan pelayan itu tentu saja mengenal Reynaldi yang merupakan CEO termuda yang mampu mendirikan perusahaan di usianya yang masih muda.


Tok tok tok


"Masuk!" Titah suara dari dalam ruangan dan pelayan tersebut langsung membukakan pintu untuk Rey.


"Beliau sudah datang tuan." Beri tahu pelayan tersebut. Pelayan tersebut langsung menyingkir dari pintu memberi jalan untuk Rey masuk.


Rey masuk menatap wajah familiar tuan Bastian yang usianya mungkin sudah hampir kepala tujuh tapi masih terlihat sehat dan bugar mungkin karena rajin berolahraga. Dan di sisi Bastian terdapat gadis muda yang cukup cantik namun masih cantik istrinya, begitulah benak Rey kira-kira. Rey menebak kalau gadis itu adalah sekretaris Bastian terlihat berkas-berkas yang ada di meja depannya.


"Masuklah tuan Reynald!" Tawar Bastian sopan sambil berdiri mempersilakan Rey untuk duduk begitu juga gadis itu ikut berdiri membungkuk hormat pada Rey yang melihatnya penuh damba karena dia tertarik pada Rey yang tampan karena mereka pernah bertemu di sebuah pesta perusahaan yang membuatnya langsung tertarik pada Rey.


"Apa kabar tuan Bastian?" Sapa Rey sopan meski dia tidak suka dengan tatapan memuja dari gadis di sisi Bastian.


"Baik tuan muda. Kuharap anda juga baik-baik saja?" Jawab Bastian sambil tersenyum basa-basi, menanyakan balik kabar Rey, bagaimana pun juga kekayaannya masih di bawah Rey dan dia masih investornya. Biasanya dia memang bertemu dengan asisten pribadi Rey yaitu Aldi. Namun karena ada sesuatu dia terpaksa sedikit memaksa untuk bertemu dengan Rey.


"Saya sangat baik tuan, terima kasih." Jawab Rey acuh.


"Oh ya perkenalkan, dia sekretaris saya sekarang dan juga dia putri kedua saya Reina Ashari." Ucap Bastian sambil memperkenalkan sekretarisnya yang ternyata juga putrinya. Rey sendiri heran kenapa dia dikenalkan secara pribadi pada putri pria tua itu. Tapi demi kerja sama dia hanya mengikuti alur saja.


"Reynaldi."


"Reina." Jawab gadis tersebut malu-malu merasa meleleh mendengar ucapan Rey meskipun terdengar dingin.


"Dia baru beberapa minggu ini bekerja menemani saya, putri saya sepertinya mencemaskan orang tua ini yang mulai tidak sehat." Ucap Bastian beralasan terlihat sekali basa-basi. Entah kenapa Rey tidak suka, dia merasakan firasat buruk diperkenalkan langsung oleh putri kliennya ini.


"Hmm." Jawab Rey acuh sambil melirik jam tangannya kalau istrinya sudah lebih dari lima belas menit di toilet belum juga kembali. Dia mulai bosan dengan basa-basi Bastian padanya.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2