
Dua hari setelah hari itu, paket datang ke unit apartemen tempat Rey dan Karina tinggal. Bukan tukang paket seperti pada umumnya, dia kurir kantor yang bertugas untuk mengantar barang dari kantor.
"Ya?" Tanya Karina setelah membuka pintu apartemen.
"Saya disuruh tuan muda untuk mengantarkan barang ini kepada Nyonya." Ucap pria itu sambil menyodorkan sebuah kotak.
"Terima kasih." Jawab Karina tanpa banyak bertanya.
Sore hari, Rey pulang ke apartemen untuk menjemput istrinya. Bibirnya terus mengembang dengan senyuman.
Cklek
Tit
Pintu terbuka, Rey melangkah masuk mencari keberadaan istrinya di dalam namun dia tak menemukan di manapun.
Cklek
"Kau sudah pulang?" Tanya Karina sudah memakai gaun yang diberikan Rey, dia sedang bersiap di depan cermin rias kamarnya.
"Oh ah.. Eh iya.. Aku mandi dan bersiap dulu." Rey gelagapan langsung ke dalam kamar mandi.
Cklek
Rey menatap istrinya yang sedang berdiri di depan jendela kamar menatap keluar jendela sudah bersiap untuk makan malam. Rey melirik sisi ranjang terdapat pakaian semiformal jas sesuai apa yang dikatakan Rey sebelum masuk ke dalam kamar mandi tadi.
"Kita akan kemana?" Tanya Karina melihat suaminya sedang bersiap.
"Makan malam dengan ayahku, Aku ingin memperkenalkanmu." Jawab Rey acuh, karena dia memang tidak berniat untuk memperkenalkan mereka melihat hubungan mereka yang sudah merenggang. Apalagi saat pengumuman pewaris perusahaan ayahnya yang diberikan kepada putra tirinya membuat Rey semakin marah pada pria tua itu.
__ADS_1
"Dimana mereka tinggal?" Tanya Karina basa-basi.
"Kau tak perlu berakrab dengan mereka, cukup mereka tahu siapa kau itu lebih dari cukup. Hubungan kami tidak sebaik itu." Jelas Rey dengan wajah sendu yang ditutupi dengan wajah datar dan dinginnya.
"ayo!" Ajak Rey segera setelah dia selesai bersiap, dia memang tak mau terlalu lama membahas hubungannya dengan ayahnya yang sudah bahagia dengan wanita lain.
.
.
"Pukul berapa acara itu?" Tanya Bryan saat mereka sedang dalam perjalanan pulang ke mansion.
"Pukul ltujuh tepat." Jawab Gio. Bryan melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul tujuh lebih lima belas menit. Itu artinya dia sudah terlambat lima belas menit, dia berharap orang itu masih ada disana karena dia tahu hubungan mereka tidak baik-baik saja.
"Bukankah dia datang untuk memperkenalkan istrinya?" Tanya Bryan lagi.
"Kukira dia tidak akan pernah menikah?" Guman Brya yang tidak dijawab Gio karena pertanyaan Bryan seperti memang tidak membutuhkan jawabannya.
"Silakan tuan!" Gio membukakan pintu mobil untuk Bryan.
"Aku akan ke kamar dulu untuk bersiap, sepertinya dia masih ada disini." Ucap Bryan yang hanya diangguki oleh Gio yang mengikuti Bryan dari belakang.
Grep
Karina menggenggam jemari tangan Rey erat. Rey sendiri tak mengerti dengan sikap Karina yang begitu terkejut dan juga khawatir di wajahnya.
"Dia istri saya." Ucapan membuat dua orang tua di depannya juga sama-sama terkejut melihat kejutan yang dibawa Rey.
"A-apa maksudmu Rey?" Tanya Arwana tak percaya melihat kenyataan yang ada di depannya ini.
__ADS_1
Karina hanya menundukkan kepalanya terkejut tak mampu menatap wajah Ambar dan Arwana di depannya yang sedang menatapnya horror.
Kenyataan macam apa ini Tuhan?
Apa hubungan mereka? Bukankah Rey anak tunggal? Juga... Ah tidak, dia hanya mengatakan kalau dia anak tiri dari ayahnya Arwana.
Di saat semua orang yang ada di ruang tamu sedang tegang, suara Bryan yang baru saja tiba setelah pulang bekerja membuat nafas Karina tercekat mengenali suara pria yang berdiri di belakangnya itu.
"Kakak, Kau sudah datang?" Tanya Bryan ramah dan sopan. Yang membuat lagi-lagi tubuhnya menegang dan kaku di tempatnya berdiri. Tak beda jauh dengan kedua orang tua itu juga ikut menegang dan membeku menatap Bryan horror.
Mereka berdua tahu kalau hubungan keduanya telah berakhir setelah pembatalan perjodohan Bryan dengan keluarga Hutama asal Bryan bersedia mengakhiri hubungannya dengan kekasihnya dan itu pun dilturuti oleh Brlyan. Tapi kedua orang tua itu tahu kalau perasaan cinta Bryan masih ada pada mantan kekasihnya. Dan mereka berdua takut melihat reaksi putranya saat melihat kenyataan kalau sekarang mereka menjadi ipar meski hanya tiri.
Bryan mengeryit melihat orang tuanya terdiam kaku dengan tubuh menegang, Bryan belum mengerti apa yang sedang terjadi. Namun matanya langsung melotot dan menyorot tajam siapa wanita yang ada di hadapannya.
"Karin." Lirih Bryan dalam samar yang tidak didengar siapapun namun bisa dibaca gerak bibirnya oleh Karina yang juga menatapnya terkejut dan sendu. Seolah merasa bersalah dengan kenyataan yang terjadi sekarang.
"A-apaan ii\=ni?" Tanya Bryan melihat kepada kedua orang tuanya juga Karina bergantian. Rey yang peka seolah menyadari ada hal yang tidak beres terjadi pada mereka semua.
"Apa kita tidak jadi makan malam?" Suara Rey memecah keheningan dan Ambar langsung pura-pura tidak terjadi apapun dan bersikap ramah. Dia tidak bisa menyatakan sekarang pada anak tirinya, biarkan suaminya yang mengatakannya selaku ayah kandungnya.
"A-ayo kita makan malam!" Ajak Ambar menggandeng tangan suaminya menuju ruang makan yang memang sudah siap.
Bryan hanya diam menatap sendu ke arah punggung Rey dan Karina. Mereka tadi sudah diperkenalkan oleh Rey dan memilih untuk berpura-pura tidak saling mengenal saja dan masuk ke dalam mengurungkan niatnya untuk membersihkan diri terlebih dulu. Dia ingin makan malam bersama saja sambil menatap Karina, wanita yang dirindukannya selama ini yang telah menjadi saudara iparnya kini. Bryan tertawa getir dalam keterdiamannya.
.
.
TBC
__ADS_1