Suami Dan Adik Ipar

Suami Dan Adik Ipar
Bab 6


__ADS_3

"Tuan, ayah anda mengundang anda untuk makan malam." Beri tahu Aldi pada Rey saat dalam perjalanan kembali ke hotel tempatnya tinggal selama disini.


"Katakan kalau aku sibuk!" Jawab Rey acuh.


"Huff ... Bukankah kau datang kemari ingin bertemu dengannya?" Tanya Aldi.


"Entahlah." Jawab Rey kembali acuh, dia memilih untuk membuang pandangannya ke luar jendela dari pada menanggapi ucapan Aldi.


.


.


"Hai .. " Sapa Bryan melambaikan tangannya pada Karina yang muncul di basemen parkiran sepeda motor Karina. Karena Bryan yakin, kekasihnya itu lupa kalau dia yang akan menjemputnya karena sibuk dengan pekerjaannya.


"Say..." Karina tidak melanjutkan panggilannya namun ekor matanya melirik ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada siapapun.


Bryan langsung merentangkan kedua tangannya namun Karina tak segera menyambutnya karena malu jika ada yang memergokinya.


Karina menatap kembali sekeliling mencari-cari sesuatu.


"Kau mencari apa sayang, sampai mengabaikanku?" Tanya Bryan pura-pura kesal karena diabaikan.


"Sepeda motorku?" Dengan matanya masih jelalatan di sekitar basemen khusus sepeda motor.


"Aku sudah menyuruh orang untuk mengantar ke basemen parkiran apartemenmu." Jawab Bryan enteng membuat Karina terkejut dan menggelengkan kepalanya tak percaya.


"Bukannya kunci motornya ada padaku?" Karina mengorek isi tas kerjanya namun dia tak mendapatkan kunci motor itu.


"Kenapa? Tadi aku mengambilnya saat kau sedang di ruangan pak Reno." Beri tahu Bryan menatap penuh sesal karena menggeledah tas Karina.


"Oh... Tak masalah." Bryan pun tersenyum sumringah. Memang seperti itulah mereka, bebas menyentuh barang pribadi masing-masing asal saling jujur keduanya. Mereka tak akan percaya ucapan siapapun selama ucapan itu tidak keluar dari bibir mereka masing-masing.


Seperti tadi, saat orang suruhan Bryan melapor kalau Karina sedang ada pertemuan dengan rekan bisnis berdua saja dengan Reno, atasannya di kantor. Kalau Karina adalah manager keuangan, Reno adalah general manager keuangan.


Dan Bryan tahu betul siapa Reno. Pria yang berusia selisih sepuluh tahun dengannya yang sudah memiliki istri dan dua orang anak. Dan Reno sangat mencintai mereka jadi dia yakin Reno tidak akan jelalatan pada sembarang wanita termasuk pada Karina.


"Ayo kita pergi! Kita perlu bersiap." Ajak Bryan menggandeng jemari tangan Karina dengan mesra. Karina hanya menurut diajak meninggalkan basemen parkiran perusahaannya.


Mobil Bryan melaju dengan kecepatan sedang. Alih-alih berbalik menuju apartemen Karina, Bryan menuju arah sebaliknya.


"Kita mau kemana sayang? Bukankah aku harus pulang dan ganti baju?" Tanya Karina melihat arah jalan yang berbeda.


"Kita langsung ke butik langganan aku, disana kita akan membeli gaun dan langsung ke rumah orang tuaku." Jelas Bryan sambil sibuk mengendarai mobilnya.


"Tapi aku harus mandi sayang, badanku lengket seharian bekerja." Jawab Karina.


"Kita ke apartemenku dulu, mandi. Akan kelamaan jika harus pulang ke apartemenmu." Jelas Bryan membuat Karina terdiam hanya menurut saja.

__ADS_1


Dia berpikir membenarkan ucapan Bryan. Dia tadi memang pulang sedikit terlambat karena harus menyelesaikan pekerjaannya karena tadi diajak keluar menemui rekan bisnisnya yang meminta penjelasan dan permintaan dari perusahaan tempatnya bekerja tentang proyek mereka.


Tak terasa mobil sudah terparkir cantik di parkiran depan apartemen mewah milik Bryan.


"Ayo!" Ajak Bryan sudah membukakan pintu mobil untuk Karina.


"Oh iya." Karina sedikit terkejut lamunannya buyar.


"Kau melamun?" Tanya Bryan melihat Karina terkejut. Karina hanya tersenyum sambil mengikuti langkah Bryan karena jarinya ditautkan sampai sulit untuknya terlepas.


"Tanggal lahirmu." Beri tahu Bryan meski Karina tidak bertanya. Hati Karina menghangat mendengar hal itu. Seolah dia sangat penting dalam hidup kekasihnya.


Tit


Cklek


"Masuklah!" Bryan membuka pintunya lebar memberikan jalan masuk pada Karina.


"Baru?"


"Hmm. Aku meminta seseorang mencari apartemen yang nyaman untuk tempat tinggal kita nanti setelah menikah. Belum lama, baru sebulan yang lalu." Lagi-lagi Karina merasakan kupu-kupu berterbangan di dalam perutnya mendengar kalimat yang so sweet.


"Jangan membuatku besar kepala!" Elak Karina merasakan wajahnya panas karena malu.


"Aku sungguh-sungguh ingin hidup bersama denganmu di dalam pernikahan. Dan bahagia bersama keluarga kecil kita." Bryan mendekap tubuh Karina dari belakang dengan mesra. Menyerukkan kepalanya ke leher Karina, mengendus aroma khas milik Karina yang sangat disukainya itu membuatnya candu.


"Hmm. Ah.. Bry..." Lenguh Karina merasakan geli bercampur nikmat di area lehernya dan dia menginginkan lebih dari itu.


"Karin..." Guman Bryan memberikan tanda merah di tengkuk Karina agar nanti tidak terlihat oleh orang tuanya. Dia tidak mau Karina dianggap wanita murahan karena dia berani melakukan hubungan intim meski hanya sebatas pinggang ke atas pada pria yang belum resmi menjadi suaminya. Namun Bryan yakin mereka akan menikah.


"Bry..." Karina semakin kelonjotan merasakan put**gnya dimainkan dengan ahli oleh Bryan. Keduanya mulai diselimuti hasrat yang tidak bisa dibendungnya lagi.


Namun suara ponsel Bryan membuat keduanya mengehentikan cumbuan mereka yang hampir saja tidak bisa ditahan.


"Aku lihat dulu, kau mandilah!" Ucap Bryan dengan nada serak menahan hasrat.


.


.


Pukul tujuh malam tepat, Bryan sampai di halaman mansion orang tuanya. Tepatnya mansion milik ayahnya.


"Ayo kita turun!" Ajak Bryan namun Karina malah langsung berkeringat dingin dan membeku melihat mansion megah milik keluarga kekasihnya.


"Kenapa?"


"Bry?"

__ADS_1


"Ya?"


"Kau yakin.. I-ini rumah orang tuamu?" Tanya Karina gugup tanpa sadar terbata-bata.


"Yeah, milik orang tuaku, tepatnya milik ayah tiriku. Bukankah kau tahu siapa aku dalam keluarga ini kan?"


"Ta-tapi... A-apa me-mereka a-akan... menerimaku?" Ucap Karina gugup ingin membatalkan niatnya untuk masuk ke dalam.


"Ada aku disini. Ku pun tidak berhak atas semua ini. Kekayaan ini adalah milik ayahku." Ucap Bryan mengelak.


"Tetap saja... Itu..."


"Kita coba bertemu dengan mereka. Kau tak mau kan membuat mereka kecewa?" Karina terdiam mencerna ucapan Bryan dan kembali berpikir. Dia diajarkan untuk menghormati orang yang lebih tua. Hadapi saja dulu, gimana hasilnya, kita lihat saja nanti.


"Oke." Bryan tersenyum mendengar jawaban yakin kekasihnya. Tinggal beberapa langkah lagi dia menuju milik Karina. Istrinya satu-satunya di hatinya.


"Selamat malam tuan muda." Sapa Albert saat melihat Bryan muncul di mansion Atmajaya.


"Selamat malam Albert. Dimana orang tuaku? Oh ya,, perkenalkan dia tunanganku, Karina." Ucap Bryan memperkenalkan Karina dengan bangga pada kepala pelayan keluarganya.


"Halo tuan... Saya Karina." Sapa Karina sopan.


"Panggil saja Albert nona seperti tuan muda. Selamat malam nona Karina. Mari silahkan ke dalam!" Jawab Albert sopan. Karina yang memang gugup hanya bisa mengangguk tak mampu berkata-kata karena pasti terbata-bata.


Albert masuk diikuti Bryan dan Karina dengan kedua jemarinya bertautan mesra dan senyum di bibirnya yang tak pernah pudar. Namun wajah Karina kaku karena gugup. Telapak tangan dinginnya terasa pada jemari Bryan yang semakin mengeratkan tautannya seolah menenangkan.


"Papi, mami." Sapa Bryan tersenyum lebar melihat kedua orang tuanya duduk di sofa ruang keluarga sebelum mereka menuju ruang makan yang sedang disiapkan pelayan.


Karina tersentak kaget mendapati seseorang yang duduk di kursi sofa ruang keluarga itu.


"Ah, kau Karina bagian keuangan kan?" Tanya Arwana lebih dulu sebelum Karina sempat bicara.


"Anda benar pak." Jawab Karina masih menjaga sopan santunnya. Sedang Ambar mengernyit menatap Karina dari ujung kaki ke ujung kepala. Entah kenapa dia merasa familiar dengan wajah itu. Dan hal itu membuatnya tidak suka dan kesal pada Karina entah karena apa.


"Selamat malam om dan Tante." Sapa sopan Karina menundukkan kepalanya.


"Jangan terlalu formal Karina! Itu hanya berlaku di kantor saja. Ternyata kau adalah kekasih putraku selama ini. Pintar sekali kalian menyembunyikan hubungan kalian." Komentar Arwana tertawa renyah.


Ambar masih diam terus memperhatikan penampilan kekasih putranya yang memang terlihat cantik dan anggun.


"Maaf tuan, nyonya. Makanan sudah siap." Beri tahu Albert tiba-tiba menyela karena sebenarnya makanan sudah siap hampir lima belas menit yang lalu. Dia ingin menyela namun merasa sungkan. Karena tak mau makanan mereka mendingin, Albert terpaksa menyela.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2