Suami Dan Adik Ipar

Suami Dan Adik Ipar
Bab 21


__ADS_3

Karina menatap gedung perusahaan XXX tempat Rey menghubunginya tadi, tapi Karina sendiri tidak tahu kalau Rey yang langsung menghubunginya. Karina hanya merasa familiar dengan nama Aldi yang disebut pria tadi namun karena dia sudah merasa senang karena panggilan interview hari ini tak mau berpikir terlalu jauh.


Karina masuk langsung disambut bagian resepsionis penerima tamu perusahaan. Dengan senyum lebarnya berusaha untuk ramah, Karina mendekati meja resepsionis yang langsung ditatap ramah juga oleh pegawai bagian resepsionis tersebut.


"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" Tanya gadis yang bername tag Vivi.


"Selamat siang. Ehm... Maaf, tadi saya mendapat panggilan untuk interview di perusahaan ini. Bisa saya bertemu dengan pak Aldi?" Tanya Karina tak lupa untuk menyapa balik dengan wajah penuh senyum.


Vivi tampak mengernyit pasalnya tidak ada pemberitahuan kalau perusahaan tempatnya bekerja membuka lowongan pekerjaan. Kalau memang ada panggilan interview tentunya sudah akan ada banyak pelamar yang tidak hanya satu orang saja. Karena bagaimana pun juga perusahaan tempatnya bekerja sekarang adalah perusahaan bonafit yang diinginkan siapapun untuk bekerja.


"Maaf mbak, sepertinya perusahaan kami tidak sedang membuka lowongan, jadi mungkin mbak salah alamat." Jawab Vivi tetap dengan tersenyum ramah, karena tugas utama resepsionis itulah salah satunya.


"Tapi saya tadi benar-benar dihubungi nona, dan beliau meminta saya datang ke perusahaan XXX untuk langsung menemui pak Aldi." Jawab Karina meyakinkan Vivi yang membuat Vivi semakin mengernyit.


Kalau nama Aldi dia memang tahu, beliau adalah asisten CEO dan sayangnya sekarang sedang tidak ada di perusahaan. Jadi bagaimana mungkin seseorang tersebut meminta orang untuk datang menemuinya. Dan Vivi tidak hanya sekali dua kali menemui seorang pelamar yang mengatakan hal yang sama. Vivi takut kalau Karina adalah seorang penipu yang mengada-ada dan mengatas namakan perusahaan.


Vivi tampak menghembuskan nafas jengah mengingat hal yang seperti sebelum-sebelumnya terjadi. Dia pun menatap Karina dari ujung kepala sampai ujung kaki. Cukup sopan dan elegan, seperti wanita karier pada umumnya bahkan malah terlihat berkelas.


"Kalau begitu siapa yang menghubungi anda tadi?" Tanya Vivi masih berusaha ramah meladeni 'penipu'.


"Oh..." Karina terdiam membeku karena tadi dia memang tidak sempat untuk bertanya dari siapa dan untuk apa membuat Karina menghela nafas panjang. Seharusnya dia tadi tidak langsung datang kemari hanya karena telpon iseng yang mengatas namakan perusahaan sekelas perusahaan XXX.


Vivi tersenyum smirk penuh kemenangan melihat Karina terdiam tak bisa menjawab membuatnya kembali tersenyum sinis pada Karina yang ketahuan menipu.

__ADS_1


"Kalau begitu silahkan pergi dari sini. Dan saya harap untuk selanjutnya jangan membuat berita yang mengada-ada mengatas namakan perusahaan XXX, karena saya akan melaporkan anda ke pihak yang berwajib atas pasal penipuan. Dan juga, perusahaan ini sedang tidak membuka lowongan kerja." Ucap Vivi tegas mengusir dengan sindirannya.


Karina terdiam, membenarkan semua ucapan Vivi yang memang masuk akal. Seharusnya dia menunggu untuk dihubungi lagi untuk lebih jelasnya. Dia yang terlalu bersemangat untuk datang, karena kekecewaannya di beberapa perusahaan yang menolaknya pagi ini entah karena alasan apa dia tak tahu, padahal bisa dikatakan baik soal tes yang dijalaninya. Seolah ada seseorang yang menyabotase namanya untuk bekerja di perusahaan.


"Maafkan saya nona." Ucap Karina menundukkan kepalanya merasa bersalah dan pergi meninggalkan perusahaan XXX dengan wajah kecewa.


"Sabar Karin, mungkin memang bukan rejekimu hari ini." Guman Karina mengepalkan tangannya ke udara memberi semangat pada dirinya sendiri.


.


.


Rey mengetuk-ngetuk meja kerjanya, berkali-kali dia melirik jam tangannya juga jam dinding bergantian memastikan kalau waktu yang ditunjukkan sama membuat Rey menghela nafas panjang merasa bosan, karena pekerjaannya sudah selesai.


"Apa dia tidak datang?" Guman Rey.


"Apa dia tidak percaya?" Rey terlihat gelisah mondar-mandir di ruangannya.


Tok tok tok


Rey tersenyum lega mendengar suara ketukan pintu.


"Itu dia?" Gimana Rey kembali menunjukkan tampang datar dan dinginnya seperti biasa karena memang begitulah wajah yang ditunjukkannya selama ini di depan orang lain.

__ADS_1


"Masuk!" Titah Rey kembali duduk di kursi kerjanya.


Cklek


Rey pura-pura mendongak menyibukkan dirinya dengan berkas yang sudah selesai sebenarnya karena dia hanya ingin terlihat keren di hadapan Karina. Namun wajahnya yang datar dan dingin namun terlihat semangat itu berganti kekecewaan.


"Ada apa?" Tanya Rey saat Ima sekertarisnya masuk dengan membawa sebuah berkas.


"Saya butuh tanda tangan anda tuan." Jawab Ima menyodorkan berkas yang dibawanya.


"Hmm." Jawab Rey acuh sekaligus kecewa.


"Terima kasih tuan." Ima menerima berkas yang sudah ditanda tangani.


"Apa... Dia belum datang?" Tanya Rey ragu.


"Ya?" Jawab Ima balik bertanya tidak mengerti pertanyaan bosnya.


"Lupakan!" Rey melambaikan tangannya tanda mengusir. Rey semakin gelisah setelah Ima keluar dari ruangannya.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2