
"Oh ya, pesankan tiket untuk dua orang, aku harus terbang ke Beland* besok!" Titah Rey di dalam lift yang menuju ke lantai tempat ruang kerja Rey.
"Baik tuan, atas nama anda dan siapa tuan?" Tanya Karina sambil mengetik di tabletnya yang menjadi pegangannya selama menjadi sekretaris Rey yang merangkap sebagi ponsel fasilitas perusahaan atas keinginan Rey karena tak mau nomer ponsel pribadi Karina diminta oleh sembarang orang termasuk kliennya yang selalu menatap penuh minat pada Karina meski Karina tak menanggapi atau memang Karina yang malas atau bersikap profesional dalam pekerjaannya.
"Namamu."
"Baik. Eh?" Entah kenapa ada yang janggal dengan ucapan bosnya.
"Namamu? Maksudnya tuan?" Tanya Karina sekali lagi untuk meyakinkan pendengarannya tidak salah.
"Ya, namamu, Karina." Tegas Rey bahkan dia membalikkan tubuhnya menatap Karina datar yang juga menatapnya.
"Maaf tuan, bukankah seharusnya tuan Aldi yang menemani anda perjalanan bisnis. Apalagi ke luar negeri." Tanya Karina memastikan kalau Rey lupa.
"Tidak. Aku yakin akan hal itu. Yaitu kamu." Tegas Rey lagi menatap Karina datar.
Ting
Suara pintu lift terbuka, Rey langsung keluar tak menjawab Karina lagi. Karina masih menggelengkan kepalanya tak percaya sambil mengikuti Rey ke ruang kerjanya. Tak lupa senyum sapaan dilemparkan pada Ima yang memang ditanggapi positif olehnya. Berbeda dengan tanggapan karyawan lainnya.
Namun hal itu tak ditanggapi serius oleh Karina yang memang dia memilih cuek. Karina menutup pintu ruang kerja CEO dan masuk masih hendak protes karena dia masih mengikuti langkah Rey yang kini sudah duduk di kursi kebesarannya.
"Tuan, sepertinya saya menolaknya." Ucap Karina tegas menatap Rey gugup karena ditatap tajam olehnya yang sudah terbiasa meski masih merasa gugup.
"Kau tahu aku tak mau dibantah kan?" Tanya Rey menatap Karina tajam penuh intimidasi.
"Tapi tuan..." Karina tak melanjutkan ucapannya saat melihat tatapan Rey semakin tajam padanya membuat Karina meneguk ludahnya kasar.
"Ba-baiklah tuan... Berapa hari kita akan disana?" Tanya Karina mengalihkan pandangannya menatap tabletnya melanjutkan pesanan tiketnya.
"Lima hari paling cepat." Rey mulai fokus dengan laptopnya untuk mengerjakan pekerjaannya.
"A-Apa?" Protes Karina kembali menatap Rey.
"Kenapa? Itu paling cepat, entah jika nanti ada masalah lainnya." Jawab Rey dengan tenangnya tanpa tahu Karina menatap Rey penuh protes namun tidak mampu.
__ADS_1
"Semua sudah siap tuan, kita akan berangkat besok pukul sembilan pagi." Beri tahu Karina dengan nada enggan setelah mendapat konfirmasi tentang pemesanan tiket pesawat mereka.
"Hmm."
.
.
Karina lagi-lagi dibuat terkejut saat tiba di lobi apartemennya ada mobil yang sama seperti kemarin berhenti tepat di depannya.
Tin tin
Karina tersentak mendengar bel mobil berbunyi merasa de javu.
"Masuk!" Titah Rey setelah Rey membuka jendela mobil penumpang bagian belakang dan sopir langsung turun untuk mengangkat koper Karina dan memasukkan ke bagasi mobil di belakang.
Karina tak banyak bicara dan protes langsung masuk di kursi penumpang bagian belakang di sebelah Rey yang duduk tenang dengan memainkan tabletnya dan bergantian dengan ponselnya.
Mobil pun melaju dengan tenang dan kecepatan sedang menuju bandara untuk flight tujuan mereka yaitu Beland*, yaitu negeri asal ibunda Rey.
"Saya sudah membawa semua yang ada minta tuan." Jawab Karina sambil mengikuti langkah Rey yang cepat. Yang awal-awalnya Karina tak mampu mengimbangi Karina langkah lebar Rey namun sekarang Karina mampu melakukannya karena tubuhnya yang tinggi langsing bak model.
.
.
Bryan sedang mengerjakan proyek yang hendak dirampungkannya itu. Sudah dua minggu dia mengerjakan tantangannya dan juga mendapat ruang kerja sendiri setelah mendapatkan semua data-data tentang proyek itu yang tak jauh dari ruang kerja Arwana.
Bryan terlihat serius menatap laptonya, bayangan di masa depan dia akan bersatu dengan Karina membuat dia semangat dan pantang menyerah. Dia sudah bisa menyelesaikan masalah yang terjadi di proyek tersebut dalam waktu dua minggu. Dia kini sedang mengecek bahwa masalah hal itu tidak akan terjadi karena dia perlu menunjukkan keberhasilannya di hadapan para pemegang saham minggu depan.
Tok tok tok
"Masuk!" Titah Bryan masih sibuk menatap laptopnya.
Cklek
__ADS_1
"Ada yang ingin saya sampaikan tuan muda?" Beri tahu pemuda itu yang membuat seketika Bryan mendongak menatap Gio.
Selain mendapat ruang kerjanya sendiri, Bryan juga meminta pada Arwana untuk memperkerjakan seorang asisten kepercayaan yang direkrut sendiri olehnya karena dia butuh seseorang untuk dia percayai. Dan Gio lah yang terlintas di pikirannya. Pria berwajah datar dand dingin sahabat Bryan saat kuliah S1 saat masih berpacaran dengan Karina dulu.
Gio yang saat itu masih bekerja sebagai kurir paket karena sangat sulit mencari pekerjaan karena dia dari status sosial yang rendah juga. Hanya saja Gio mempunyai orang tua yang bekerja sebagai guru honorer juga ayah yang purna guru.
Gio yang pintar, dia kuliah karena mendapat beasiswa karena kecerdasannya. Namun saat dia bekerja sebagai seorang sekretaris di sebuah perusahaan harus terpaksa berhenti bekerja karena perusahaan tersebut gulung tikar.
Bryan tak sengaja bertemu Gio saat mengantar paket perusahaan milik Arwana yaitu perusahaan ABC dua minggu lalu. Dan saai itu juga Bryan langsung menawari sahabatnya itu untuk menjadi asisten pribadinya saat ini. Gio yang memang membutuhkan pekerjaannya karena orang tuanya mulai udzur langsung tanpa basa-basi menerimanya. Dia merasa terharu sahabat baiknya masih mau bergaul dengannya yang bukan orang dari kalangan borjuis.
"Apa yang kau dapatkan?" Tanya Bryan menatap Gio penuh harap.
"Itu... Karina... Maksudku nona Karina kini bekerja sebagai sekretaris di perusahaan XXX." Jelas Gio singkat karena dia memang irit bicara hanya dengan orang tertentul dia bicara panjang. Gio memilih banyak bekerja sedikit bicara dari pada banyak bicara tapi sedikit bekerja.
"Tunggu! Perusahaan XXX?" Tanya Bryan mengingat sesuatu.
"Iya tuan. Ini." Jawab Gio sambil menyodorkan berkas tentang pencariannya tentang Karina.
Bryan menerima berkas itu dan membaca dengan teliti sambil menatap foto yang terlampir yang mendadak membuat hatinya sendu.
Syukurlah kau baik-baik saja. Aku merindukanmu. Batin Bryan sambil mengusap foto Karina yang terlihat baik-baik saja meski terlihat pipinya yang terlihat tirus daripada terakhir kali bertemu dengannya.
"Kau melihatnya Gio? Dia baik-baik saja kan?" Tanya Bryan dengan nada lembut.
"Iya tuan."
"Kenapa kau bersikap formal seperti itu padaku? Bukankah kita masih sahabat?" Tanya Bryan tersenyum yang bahkan tidak sampai ke mata karena kesedihan merindukan Karina.
"Semua akan baik-baik saja Bry." Bryan melebarkan senyumnya dan terdiam.
"Kau benar." Bryan kembali menatap beberapa foto Karina dengan pakaian formal kerjanya terlihat manis dan cantik.
.
.
__ADS_1
TBC