
Rey menatap Karina cemas melihat darah di tangannya saat menahan kepala Karina.
"Sayang! Kau baik-baik saja?" Panggil Rey dengan nada lemah penuh kecemasan.
"Tidak... Tidak mungkin...Karin! Bangun Karin! Maafkan aku! Maaf!" Racau Bryan melihat juga darah yang mengalir dari kepala Karina.
"Brengsek! Aku akan buat perhitungan denganmu jika terjadi sesuatu padanya?" Kesal Rey membopong tubuh Karina segera pergi meninggalkan ruang kerjanya dengan berteriak memanggil nama Aldi.
"Tidak! Tidak mungkin! Tangan ini... Tangan ini berani sekali! Sial! Sialan!" Racau Bryan merasa bersalah melihat wajah panik dan cemas Rey membopong tubuh Karina. Bryan terduduk lemas di lantai ruang kerja Rey masih meracau tak jelas merasa bersalah.
Ima dan Aldi yang saat itu sedang berbincang di meja kerja Ima kaget dan ikut panik, apalagi kemeja Rey sudah berlumuran darah mengira bosnya terluka.
"Tuan!" Seru Aldi panik mendekati Rey.
"Siapkan mobil cepat! Hubungi rumah sakit, aku akan datang dalam waktu lima belas menit! Cepat!" Titah Rey tegas dengan raut wajah panik dan khawatir.
Aldi hanya mengangguk mengiyakan sambil mengeluarkan ponselnya. Ima mengikuti bosnya dan bertanya dengan nada panik dan cemas pula namun tidak digubris oleh Rey yang terus menatap Karina sambil memanggil-manggilnya agar cepat sadar. Rey akan merasa sangat bersalah jika sampai terjadi sesuatu yang fatal pada istrinya. Dia merutuki kebodohannya karena tak mampu melindungi wanita yang dicintainya itu.
"Kau disini, temani Aldi mengurus pekerjaan!" Titah Rey tegas menatap Ima yang langsung mengangguk patuh setelah itu pintu lift tertutup rapat. Tak sampai tiga menit, lift sudah sampai lantai lobi kantor. Rey segera menuju lobi yang sudah terdapat mobilnya untuk membawa Rey yang membopong Karina menuju rumah sakit. Karyawan yang tidak sengaja melintas terkejut melihat wajah panik dan cemas bosnya sambil membopong tubuh Karina ke arah mobilnya.
"Ke rumah sakit! Cepat!" Seru Rey menitah sopirnya yang langsung tancap gas setelah mengiyakan perintah Rey.
Semua karyawan yang melihat langsung heboh di grup karena baru kali ini melihat ekspresi wajah bosnya yang tidak seperti biasanya yang selalu datar dan dingin. Apalagi membopong tubuh sekretarisnya yang digosipkan sedang dekat karena menggoda sang bos demi jabatan dan agar dekat dengan bos mereka.
__ADS_1
"Dokter! Dokter!" Teriak Rey menggelegar di seluruh lorong rumah sakit, untung saja pihak rumah sakit sudah diberi tahu oleh Aldi dan sudah menyiapkan segala keperluan termasuk brankar di depan lobi rumah sakit yang langsung saja Rey meletakkan tubuh Karina dengan penuh kecemasan dan ketakutan.
"Selamatkan istriku!" Titah Rey tegas menatap dokter pribadinya yang memang praktek di rumah sakit milik Oma nya tersebut.
"Sa-saya usahakan tuan muda." Jawab dokter tersebut gugup. Rey kemudian menjelaskan apa yang terjadi pada Karina dan dokter tersebut mengangguk-anggukkan kepalanya paham dan segera masuk ke ruang UGD untuk menangani pasien lebih lanjut.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Bryan menghampiri Rey yang sedang mondar-mandir tidak jelas di depan ruang UGD.
Bagh
Bugh
Bagh
Bugh
"Brengsek! Kau...kau...jika terjadi sesuatu padanya. Kau tidak akan bisa hidup lagi." Ancam Rey menatap tajam Bryan yang sudah terduduk lemas di lantai rumah sakit dengan kondisi babak belur dipukuli Rey dan tak berani membalas karena merasa bersalah membuat Karina celaka.
Aku pun akan memilih untuk mati jika sampai terjadi sesuatu yang fatal padanya? Batin Bryan menatap lantai rumah sakit dengan tatapan mata kosong. Seketika bayangan kenangan indah dengan Karina saat mereka dulu bersama terlintas membuat air mata Bryan tiba-tiba menetes tanpa diminta. Bryan tersenyum getir merasa bersalah dan berpikir untuk menghukum dirinya sendiri nanti jika dia sudah mendapat kabar dari dokter ruang UGD.
Ting
Suara lampu ruang UGD mati setelah lima jam.
__ADS_1
Cklek
Dokter keluar yang langsung disambut Rey diambang pintu menanyakan keadaannya. Begitu juga Bryan mengikuti meski tak berani berdiri dekat dengan Rey. Dia memilih menjauh karena tak mau menerima amukan dari kakak tirinya.
"Bagaimana dokter?" Tanya Rey menatap dokter cemas dan panik.
"Syukurlah pasien baik-baik saja. Hanya benturan kepalan tangan tidak terlalu kencang tapi memang keras. Sepertinya ada kebocoran kulit kepala meski tidak sampai organ dalam. Kami masih menunggu hasil cek laboratorium dan rontgen nya. Sejauh ini hanya gegar otak ringan saja. Dan kebocoran tadi sepertinya mengenai mungkin cincin di jemarinya pelaku." Jelas dokter panjang lebar membuat Rey sedikit lega meski belum sepenuhnya lega karena hasil cek laboratorium dan rontgen belum keluar.
Bryan terdiam mengangkat jemari tangannya yang tidak sengaja memukul Karina tadi menatap cincin di jari manisnya yang sempat disematkan Karina saat dia melamarnya bahkan karena terlalu mencintai Karina, Bryan enggan melepasnya berharap suatu saat mereka akan kembali bersatu entah kapan. Namun ternyata cincin itu pula yang memberikan luka pada Karina membuat Bryan. Terdiam membeku di tempat. Ingin dia membuangnya tapi dia masih berharap kalau akan bersatu kembali tapi karena dia enggan membuangnya membuatnya melukai Karina meski tidak secara langsung.
Apa Tuhan benar-benar sudah tidak merestui hubungan kami?
Apa hubungan kami memang harus kandas sampai disini?
Dan mengikhlaskannya dengan kakak tirinya?
Batin Bryan berkecamuk dengan rasa bersalah yang begitu mendominasi. Bryan memejamkan matanya dengan berat hati melepaskan cincin mereka dulu dan memasukkan ke dalam jas nya yang sudah berantakan tanpa berniat untuk merapikannya.
Maafkan aku! Maaf!
Batin Bryan meninggalkan lorong rumah sakit setelah melihat Karina keluar dari dalam ruang UGD yang dipindahkan ke ruang perawatan.
.
__ADS_1
.
TBC