Suami Dan Adik Ipar

Suami Dan Adik Ipar
Bab 77


__ADS_3

Rey masih bertahan di sisi ranjang perawatan Karina. Sudah hampir lima jam Karina masih belum sadarkan diri. Tadi dia sudah menemui dokter dan mendengar penjelasan tentang hasil cek laboratorium dan rontgen kepala dari hasil pemeriksaan yang dilakukan dokter. Rey sedikit bernafas lega mendengar kata dokter tidak ada masalah serius dengan hasil cek tersebut. Hanya gegar otak ringan dan itu bisa disembuhkan dengan banyak istirahat dan bedrest.


Rey menatap wajah istrinya sendu yang masih betah memejamkan matanya di ranjang. Dia sudah menghubungi ibu panti dan suaminya. Dan dia langsung melarang mereka untuk datang karena adik-adik panti tidak ada yang menjaga. Rey mengatakan akan sepenuhnya menjaga Karina dengan baik. Dia memberi tahu mereka karena mereka juga berhak tahu dan agar mereka tidak kepikiran. Karena saat itu mereka menghubungi ponsel Karina dan Rey bingung harus menjawab apa.


"Bangunlah sayang! Maaf, karena aku kau seperti ini?" Guman Rey menatap nanar Karina sambil menggenggam erat jemari tangannya.


Tok tok tok


Pintu ruang perawatan VIP karina diketuk dari luar.


"Masuk!" Titah Rey yang sudah bisa menebak siapa yang mengetuknya karena dia lah yang memerintahkannya untuk datang sambil membawa pekerjaannya kemari jika ada yang mendesak. Dan itu harus segera mendapatkan persetujuan dari bosnya.


"Ini berkas yang anda minta tuan." Ucap Aldi setelah masuk ke dalam sambil membawa beberapa berkas penting. Dia sempat melirik Karina yang masih memejamkan mata seolah sedang tidur saja.


Rey beranjak dari sisi ranjang Karina dan duduk di sofa yang masih berada di dalam ruang tersebut. Menerima berkas yang harus ditandatangani olehnya. Sambil berbincang sebentar tentang pekerjaan tersebut namun tak membuat Karina terbangun.


.


.

__ADS_1


Di tempat lain, seorang pria paruh baya meski usianya tidak lagi muda namun masih terlihat gagah duduk di sebuah restoran mewah. Berkali-kali dia melihat jam tangan mahalnya untuk melihat waktu dan matanya tak berhenti menatap ke arah pintu. Berharap orang yang ditunggunya muncul. Padahal waktu jam makan siang sudah terlewati satu jam yang lalu.


Pria itu meraih ponselnya dan melirik layar ponsel berharap ada notifikasi pesan atau panggilan yang mungkin terlewat olehnya. Namun nihil, orang yang ditunggunya belum juga muncul. Padahal dia tadi sudah menyanggupi meski orang itu belum mengatakan iya untuk datang menemuinya.


"Tuan, meeting akan segera dimulai?" Beri tahu asistennya yang terus setia berdiri di sisinya.


"Sebentar lagi." Jawab pria paruh baya itu menghela nafas panjang.


"Kita akan terlambat tuan?" Beri tahu asistennya tersebut.


"Huff...aku akan menghubunginya dulu sekali lagi." Jawab pria itu melakukan panggilan telepon namun tidak diangkat meski tersambung membuat pria itu sudah berulang kali menghela nafas berat.


"Tuan?"


"Silakan tuan!" Asistennya menunjukkan jalan.


"Kau cari tahu tentangnya? Mungkin terjadi sesuatu yang buruk padanya? Firasatku tak pernah salah." Titah pria itu pada asistennya yang sudah mulai melajukan mobilnya menuju kantor. Karena meeting bulanan akan segera dimulai dan meeting itu tidak akan dimulai jika pimpinan perusahaan seperti Bastian tidak datang.


"Baik tuan." Jawab Lucas mengangguk kepalanya sambil melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.

__ADS_1


.


.


"Ukh." Karina membuka matanya perlahan merasakan kepalanya berdenyut sakit. Matanya terasa silau namun terasa segar seolah dia sedang beristirahat panjang karena lama dirinya tidak beristirahat dengan benar.


Saat hendak mengangkat tangannya terasa berat dan dia pun menoleh ke arah tangannya yang terbebas dari infus ternyata seseorang mendekap jemari tangannya lembut hingga ketiduran dan menindih jemari tangannya.


Karina terdiam menatap suaminya yang memiringkan kepalanya menghadap padanya. Dia pun tersenyum merasa dicintai dan diperhatikan oleh suaminya. Dalam sudut hati terkecilnya mulai muncul perasaan yang hangat. Namun berbeda dengan perasaannya pada Bryan dulu.


Ah, Bryan? Iya, tadi dia melerai mereka yang sedang berkelahi dan tak sengaja pukulan Bryan mengenai kepala belakangnya karena melerai perkelahian tersebut. tanpa pikir panjang Karina langsung mendekap tubuh suaminya tak mau perkelahian terus terjadi. Namun dia salah strategi dan menjadi sasaran pukulan membuatnya pingsan seketika sebelum mengatakan kau baik-baik saja pada suaminya.


"Kau sudah bangun sayang?" Suara Rey memecah lamunan Karina. Dia pun tersenyum lebar menunjukkan kalau dia sudah baik-baik saja meski wajahnya masih sangat pucat karena terlalu banyak tidur.


Bahkan sekarang sudah pukul empat sore. Itu artinya Karina pingsan dan tertidur hampir tujuh jam. Pantas saja Karina merasa tubuhnya lebih baik.


"Aku akan panggil dokter." Ucap Rey menekan bel di dekat ranjang Karina untuk memanggil dokter. Karina hanya tersenyum tak menjawab karena merasa tubuhnya lemas dan kepala yang berdenyut sakit saat digunakan untuk bergerak sedikit saja.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2