
Rey mengusak rambutnya kasar, dia mondar-mandir di dalam kamar apartemen yang ditinggalinya selama di negara ini. Dia bukan tak mau tinggal dengan Oma nya. Karena tak membawa istrinya, Oma nya pasti akan menanyakan selalu kapan istrimu menyusul kemari.
Rey tak mampu membohongi Oma nya berkali-kali. Hingga akhirnya Rey dengan alasan sibuk di kantor dia akan banyak di kantor dan mungkin saja tidur disana. Oma nya sangat marah, namun karena pekerjaan Rey benar-benar banyak. Omanya pun mengizinkan Rey dengan terpaksa.
Namun bukan itu yang menjadi kecemasan sekarang. Dirinya masih shock dengan kejadian semalam. Apalagi saat bangun tidur tadi, dia mendapati dirinya yang tengah telanjang bulat tanpa sehelai benangpun dengan seorang wanita yang bukan istrinya.
"Sial. Sial." Umpat Rey kesal, dia bingung apa yang harus dilakukannya. Dia merasa bersalah sudah mengkhianati istrinya.
Ting
Suara ponselnya berdenting tanda pesan masuk. Rey segera meraihnya ragu, takut-takut kalau istrinya yang mengirim pesan.
"Ya?" Rey pun menghubungi orang yang mengirim pesan tersebut setelah membaca pesannya.
"Penerbangan pesawat anda dua jam lagi tuan, apa anda sudah bersiap?" Tanya Bernard di seberang ponsel. Rey terdiam, dia baru ingat akan kembali ke tanah air hari ini. Dia melirik jam dinding apartemen menunjukkan pukul sembilan pagi namun kondisi tubuh Rey sungguh sangat berantakan. Berbeda seperti biasanya yang sangat rapi.
"Oke." Jawab Rey singkat dan pergi untuk membersihkan dirinya.
.
.
"Semua sudah siap tuan." Ucap Bernard saat mereka sudah sampai di bandara.
"Oh... Thanks." Jawab Rey seperti orang bodoh saja. Dia banyak melamun di dalam mobil saat perjalanan menuju bandara. Bernard hanya menatap intens bosnya itu.
"Anda baik-baik saja tuan?" Tanya Bernard merasa Rey tidak fokus hanya menatap layar ponselnya yang tidak di skrol sama sekali. Hanya ditatap lekat sejak tadi.
"Ya?"
"Sepertinya anda sedang tidak baik-baik saja." Ucap Bernard pergi dari sana membuat Rey terdiam menatap Bernard datar kemudian kembali sibuk dengan ponselnya.
"Silakan tuan!" Bernard menyerahkan sebuah minuman botol isotonik untuk Rey berharap dapat mengurangi kondisinya.
"Oh... Thanks." Jawab Rey menerima uluran minuman itu dan meneguknya sekilas.
"Apa aku harus bertanya padanya?" Suara Rey tiba-tiba membuat Bernard menoleh menatap Rey.
"Itu lebih baik. Kau sendiri tidak salah paham karena sudah mendapatkan jawaban dari rasa penasaranmu." Jawab Bernard bersikap seperti seorang teman.
"Bagaimana kalau aku juga membuat kesalahan?" Bernard terdiam menatap lekat Rey, Rey yang tadinya sibuk dengan ponselnya menatap Bernard datar namun raut sendu juga terdapat disana.
"Apa kesalahanmu sangat besar?" Tanya Bernard menatap Rey serius.
"..." Rey menundukkan kepalanya tak berani menjawab memilih membuang pandangannya ke sembarang arah.
__ADS_1
"Sepertinya kalian harus saling bicara." Saran Bernard akhirnya dan suara panggilan dari pesawat tujuan tanah air mulai diserukan, Bernard membantu Rey membawakan barang-barangnya menuju bagasi.
Rey terdiam sebelum masuk pintu pesawat dan berbalik menatap Bernard yang juga menatapnya lekat. Namun Rey akhirnya kembali berbalik dan melangkah masuk ke dalam pesawat tanpa mengucapkan apapun. Bernard hanya terdiam mengernyit namun kemudian menghela nafas panjang.
"Semoga semua baik-baik saja."
Sret
Seorang wanita melintasi dengan topi lebar menutupi sebagian wajahnya, syal yang berwarna merah menyala membelit lehernya sambil tas branded bergelayut di lengan kanannya masuk ke dalam pesawat melewati Bernard yang sedang berbalik berlawanan arah dengan wanita yang melintas tadi. Bernard pun pergi meninggalkan bandara.
.
.
"Nyonya, biar saya antar!" Tawar Aldi melihat Karina melangkah meninggalkan ruang kerja Rey.
"Aku harus mampir dulu."
"Akan saya antar!" Tegas Aldi membuat Karina menghembuskan nafas kasar.
"Baiklah." Jawab Karina pasrah.
Aldi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, Karina hanya terdiam tak bicara apapun. Dia hanya menatap luar jendela kaca mobil menatap bangunan yang dilewatinya. Tatapan matanya kosong, lebih dominan rasa sedih melingkupinya. Karina sebenarnya masih ingin beristirahat di apartemen menunggu suaminya pulang dan ingin bertanya apa kesalahannya hingga suaminya menghindarinya.
Karina sadar suaminya menghindarinya tapi dia juga cemas disaat yang bersamaan. Sehingga dia memilih untuk 'melarikan diri' tanpa asistennya yang biasanya tidak pernah absen seharipun. Namun saat kemarin menerima pesan dari nomer asing. Hati Karina luluh lantak, hancur lebur. Padahal dia sudah mulai membuka hatinya lebar-lebar untuk suaminya dan melupakan mantan kekasihnya.
Karina dengan penuh harapan menghubungi hacker demi meyakinkan dirinya kalau suaminya tidak akan pernah mengkhianatinya namun dengan begitu mudahnya itu dipatahkan ucapan hacker tersebut bahwa foto itu asli.
Hati hancur Karina yang semula hancur semakin hancur saja. Kalau saja dia tidak waras otaknya mungkin dia akan memilih untuk membunuh dirinya sendiri saat itu juga. Namun otak Karina sudah waras, perasaan cinta yang sudah dibuka kini tertutup rapat lagi. Dia akan tetap menutupnya selamanya. Bahkan dia akan memilih tidak hidup dengan cinta. Bullshit tentang cinta. Apalagi dirinya yang hanya seorang anak panti asuhan yang tidak jelas asal-usulnya.
Seolah Karina sedang membenarkan ucapan Ambar, mami Bryan dulu. Kalau seorang anak panti asuhan yang tidak jelas asal-usulnya memang seharusnya tidak seharusnya berada di lingkungan mereka.
"Nyonya jadi ke supermarket?" Tanya Aldi memecah lamunan Karina.
"Di bawah apartemen saja." Jawab Karina datar.
"Baik nyonya."
Mobil yang dikendarai Aldi berhenti di depan pintu supermarket. Karina segera turun untuk berbelanja.
"Kau bisa pergi, aku akan meminta bantuan sekuriti untuk membawa ke atas." Ucap Karina terdengar seperti perintah yang spontan diiyakan Aldi.
Karina mulai mengambil troli dan berkeliling ke supermarket untuk berbelanja kebutuhannya. Dia mencoba membuang penat pikirannya sebentar dengan mengalihkan berbelanja.
Saat semua sudah cukup Karina mengantri di depan kasir. Setelah selesai dia pun membawa belanjaannya kembali ke apartemen.
__ADS_1
"Nona Karina!" Panggil seseorang tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini membuat Karina menoleh merasa familiar dengan suaranya.
"Tuan Bastian."
.
.
"Anda sudah sembuh?" Tanya Bastian basa-basi setelah keduanya lama terdiam.
Kini mereka duduk di sebuah cafe tak jauh dari supermarket tadi. Karina menuruti keinginan Bastian untuk berbincang sebentar dengannya entah untuk urusan apa. Padahal kerja sama bisnisnya bukan Karina yang mengurusnya.
"Ah... Aku tidak sengaja mendengar kalau tuan Reynaldi sibuk mengurus sekretarisnya yang sakit. Entah kenapa aku menebak andalah orangnya." Jelas Bastian tersenyum lebar membuat Karina terdiam entah kenapa dia selalu merasa nyaman dengan pria paruh baya itu.
"Terima kasih sudah menanyakannya. Saya sudah sembuh." Jawab Karina basa-basi sopan santun.
"Oh.. Syukurlah." Jawab Bastian dengan nada benar-benar merasa lega mendengar Karina sudah sembuh.
"Anda menemui saya bukan untuk ini saja kan?" Tanya Karina langsung karena mereka sejak tadi kembali terdiam. Bastian sendiri juga bingung ingin bicara dan memulainya dari mana.
"Oh bukan, tentu saja bukan. Hanya saja, saya bingung ingin memulai bicara dari mana." Jawab Bastian kembali terdiam membuat Karina menatap Bastian lekat.
"Jangan salah paham! Saya benar-benar ingin mengatakan sesuatu yang penting. Hanya saja, saya takut anda tidak percaya." Jelas Bastian lagi dengan ragu. Dia pun mengeluarkan sesuatu dari dalam saku kemeja yang masih di dalam jas kerjanya.
Bastian menggeser kertas itu setelah menatapnya lama dan memperlihatkan pada Karina untuk melihatnya.
"A-apa..." Suara Karina berhenti saat mengenali foto yang disodorkan Bastian.
"I-ini... Dari mana anda mendapat foto ibu saya."
Deg
Bastian menatap Karina lekat mendengar jawaban yang tidak dikiranya akan muncul di bibir Karina.
"Apa... Dia bernama Mira?"
"Ya? Ini... Maaf... Apa anda sedang memata-matai saya..." Lagi-lagi suara Karina tidak jadi diucapkan saat melihat pria di sebelah foto ibunya. Dan mereka terlihat mesra seperti sepasang kekasih atau suami istri? Karina menatap foto dan beralih menatap Bastian berkali-kali memastikan kalau tebakannya salah.
"Tidak mungkin. Jangan bilang..." Karina sontak menutup mulutnya tak percaya. Kalau foto pria yang bersama ibunya saat masih muda itu sangat mirip dengan pria paruh baya di hadapannya ini.
"Ya, kau benar. Akulah pria yang ada di foto itu." Karina menggeleng tak percaya mendengar ucapan Bastian sambil menutup mulutnya terkejut.
.
.
__ADS_1
TBC