Suami Dan Adik Ipar

Suami Dan Adik Ipar
Bab 94


__ADS_3

"Sepertinya nyonya ada meeting di luar tuan, karena sampai saat ini beliau belum datang." Jawab Ima dalam pesan chat pada Aldi. Meski begitu dia tidak sepenuhnya berbohong namun tetap saja hal itu membuatnya was-was karena omelan Aldi.


Ting


Ponsel berbunyi tanda pesan chat nya di balas membuat Ima ketar-ketir.


"Ok." Dua huruf, itulah jawaban Aldi dalam pesan chatnya, entah Ima harus marah atau senang karena jawaban singkat dari pesan chat panjangnya hanya dijawab seperti itu.


Ima menghembuskan nafas lega, itu lebih baik dari pada dia mendapatkan omelan panjang dari Aldi yang bertanya untuk detailnya tentang nyonya. Apalagi sekarang nyonya entah dimana membuat Ima sendiri bingung menjelaskan apa jika dia sebenarnya tidak mengatakan seluruh kebenaran cerita.


"Kemana kau nyonya?" Guman Ima melanjutkan pekerjaannya.


"Semoga beliau baik-baik saja." Guman Ima lagi.


.


.


"Saya harus bekerja...ukh." Keluh Karina saat hendak beranjak dari tempat tidur.


"Kau harus banyak istirahat, dokter mengatakan kau kelelahan karena terlalu banyak bekerja. Apa atasanmu begitu banyak memberikanmu pekerjaan?" Tanya Bastian tiba-tiba bertanya dengan nada sedikit sarkas merasa kesal yang tidak beralasan pada Rey.


"Tidak. Karena dia sedang tidak ada di tempat jadi saya yang menjadi wakilnya." Jawab Karina sendu yang juga disadari oleh pria paruh baya itu.


"Dia begitu mempercayaimu." Entah itu pernyataan atau pertanyaan, Karina tetap diam takut tidak mampu mengendalikan perasaannya jika membahas tentang suaminya.


"Kau terlalu lelah, kau harus bedrest total jadi lebih baik cuti lah." Saran Bastian.


"Itu tidak mungkin, bagaimana pun juga saya hanya seorang pekerja." Elak Karina.


"Bagaimana kalau kau resign saja dan bekerja di tempat ayah?" Sesantai itu Bastian sudah bicara pada Karina, padahal baru lagi tadi mereka saling menerima satu sama lain. Bastian sudah bersiap layaknya pada kedua putrinya yang lain.


"Saya bekerja disana karena saya ingin mandiri, tidak tergantung pada orang lain." Ah, sepertinya tidak seperti itu, Rey yang memintaku dulu untuk bekerja disana karena aku di PHK di tempat lama. Batin Karina melanjutkan.


Sedang Bastian merasa tertohok dengan jawaban Karina, dia lupa yang diajak bicara bukan putrinya Reina tapi Karina. Putrinya yang baru saja menerimanya sebagai ayah yang telah lama menelantarkannya sejak bayi.


"Maaf... aku tidak bermaksud seperti itu." Jawab Bastian merasa bersalah.


"Tak masalah. Saya harus pulang."


"Bisakah kau menginap sebentar lagi disini?" Pinta Bastian penuh harap. Karina terdiam menatap lekat pria paruh baya yang mengaku ayahnya itu.


"Maaf, saya tidak bisa."

__ADS_1


"Setidaknya semalam lagi, aku ingin memperkenalkanmu pada keluarga kita. Kita bisa..."


"Maaf, saya tidak bisa. Lebih tepatnya saya belum siap." Jawab Karina ragu tak mau membuat pria di hadapannya itu merasa bersalah.


"Oh, kau benar. Kita bisa tunda hal itu. Bagaimana kalau semalam lagi? I-itu kalau...kau tidak keberatan." Ucap Bastian menatap Karina sendu.


"Baiklah."


"Oh, terima kasih."


Grep


"Setidaknya aku ingin kita dekat terlebih dahulu. Terima kasih putriku." Jawab Bastian antusias sambil mendekap erat tubuh Karina yang hanya bisa menerima tak mampu menolak atau membalas pelukan tersebut.


"Oh ya, maid akan memasak untuk makan siangmu." Ucap Bastian tersenyum lebar terus menerus merasa bahagia karena putrinya mau menginap di apartemennya.


"Terima kasih."


"Mandilah kalau ingin mandi. Tapi gunakan air hangat di dalam kamar mandi. Jangan sampai kau demam lagi! Akan kuambilkan pakaian ganti untukmu." Ucap Bastian.


"Oh baik."


"Butuh bantuan?" Tawar Bastian melihat Karina sedikit kesulitan.


"Tidak, terima kasih." Bastian hanya tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya menatap Karina yang sudah melangkah ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar tersebut. Dia pun melangkah ke luar kamar dan tak lupa menutup kembali pintu kamar.


"Baik tuan." Jawab Lucas segera berdiri dari duduknya meninggalkan pekerjaannya karena hal itu mendesak dia terpaksa meninggalkan pekerjaannya.


.


.


"Huff... Ini bahkan sudah jam makan siang tapi nyonya belum juga datang dan memberi tahu dimana dia misal tidak datang ke kantor. Aku akan menghubunginya." Ucap Ima saat perjalanan ke lantai lima tempat kantin kantor sambil melirik jam tangannya kalau sudah setengah hari penuh nyonya nya tidak menghubunginya. Bukan apa-apa, Ima sedang tak mau mencari masalah dengan asisten bosnya.


"Kau kemana Karina?" Lirih Ima yang tak didengar siapapun. Namun tepat saat dia hendak menelepon, panjang umur. Orang yang ingin dihubungi juga menghubunginya saat ini. Ima tidak mau kehilangan kesempatan.


"Iya nyonya?" Tanya Ima terdengar antusias dan nafas penuh kelegaan melihat layar ponselnya menunjukkan nama nyonya bosnya.


"Maafkan aku mbak, aku baru bisa menghubungimu."


"Tidak masalah nyonya."


"Hari ini aku cuti dulu. Aku sedang tidak enak badan dan ingin tidur seharian ini. Tolong...!"

__ADS_1


"Apa? Nyonya sakit? Apa saya perlu menghubungi dokter untuk memeriksa anda atau saya akan kesana merawat anda?" Jawab Ima antusias dan cemas mendengar nyonya bosnya tidak enak badan, dan hal itu berarti sakit kan? Ima tiba-tiba otaknya nge-lag. Dia merasa cemas dan panik, bagaimana dia menyampaikan hal ini pada asisten bosnya.


"Tidak mbak, aku sudah diperiksa dokter juga sudah makan dan minum obat. Mbak hanya perlu membatalkan jadwalku hari ini." Jelas Karina panjang lebar.


"Oh tentu saja nyonya. Semoga anda cepat sembuh dan beristirahat saja yang cukup!" Jawab Ima yang diangguki oleh Karina di seberang meski tahu Ima tidak bisa melihatnya.


"Maaf merepotkan mbak." Ucap Karina tadi merasa bersalah membuat Ima sontak menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tidak masalah nyonya, kesehatan anda jauh lebih penting." Jawab Ima yakin.


"Terima kasih mbak."


"Sama-sama nyonya."


Karina menghela nafas lega setelah menghubungi Ima, sekretaris kantor. Dia baru saja selesai membersihkan diri setelah kemudian menghubungi Ima agar tidak cemas.


Tok tok tok


"Ya?" Jawab Karina menoleh ke arah pintu yang diketuk dari luar.


"Mau makan siang di meja makan?" Tawar Bastian setelah memastikan masakan yang dimasak maid siap.


"Oh tentu saja." Karina meletakkan ponselnya dan melangkah ke luar kamar menuju meja makan mengikuti langkah Bastian.


"Silakan!" Ucap Bastian membuka kursi untuk Karina membuat Karina tersenyum melihat Bastian yang romantis.


"Terima kasih." Jawab Karina tersenyum dan duduk di kursi makan.


"Bubur?" Tanya Karina melihat makanannya bubur tim meski ada banyak bahan-bahan makanan sehat di dalamnya.


"Kau masih belum sepenuhnya pulih, dokter bilang makan makanan lembut untukmu." Jawab Bastian menatap putrinya lembut.


"Oke." Jawab Karina dengan berat hati meski sebenarnya dia sudah baik-baik saja.


"Nanti makan malam, bagaimana kalau kita makan di luar?" Tawar Bastian melihat Karina tidak bersemangat melihat bubur untuknya.


"Tentu saja." Jawab Karina antusias. Dia ingin egois saat ini, dia ingin merasakan bagaimana memiliki seorang ayah.


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2