
Pukul tujuh malam, Karina sudah siap dengan gaun pesta yang dikirimkan bosnya tadi sore. Rey mewajibkan dirinya untuk datang sebagai partner di pesta malam itu. Mau tak mau Karina mengiyakan karena seperti biasanya bosnya itu tidak bisa dibantah apalagi ditolak. Untuk keamanan pekerjaannya, Karina lebih baik menurut, toh dia bisa makan gratis di pesta nanti. Pesta bisnis kalangan menengah ke atas yang memang sudah sering dihadiri Karina sebelumnya tapi untuk taraf nasional. Namun baru kali ini dia diajak ke pesta perusahaan bertaraf internasional.
Meski ada kebanggaan tersendiri baginya namun tetap saja hal itu membuatnya tidak nyaman. Meski dia menguasai bahasa Inggri* dan sedikit bahasa Beland* namun bersosialisasi dengan orang baru sedikit membuatnya kesulitan, gugup. Siapa yang tidak gugup menghadiri orang baru, apalagi di sebuah pesta perusahaan. Dan dia dituntut tidak boleh membuat kesalahan karena akan membuat perusahaan mendapat masalah.
Tok tok tok
Pintu kamar hotelnya diketuk dari luar membuat kegugupan Karina semakin besar saja. Berulang kali dia meyakinkan dirinya sendiri kalau semua pesta perusahaan sama saja meski itu bertaraf Nasional maupun internasional.
Cklek
"Ya?" Rey langsung berbalik begitu pintu kamar Karina dibuka. Rey yang awalnya acuh tak acuh terdiam membeku melihat penampilan sempurna Karina. Gaun hitam sebatas lutut itu dengan lengan sabrina meski tidak terlalu ketat membuat Karina terlihat anggun, elegan dan berkelas.
Karina seperti wanita sosialita kebanyakan. Karina tersipu merasa gugup dipandang lekat oleh bosnya.
"A-apa penampilan buruk?" Tanya Karina gugup takut melakukan kesalahan dalam penampilannya. Karena dia tadi menolak dengan tegas para MUA yang hendak melakukan make over padanya. Dia merasa sanggup untuk mempercantik dirinya sendiri.
"Siput." Jawab Rey dengan wajah datar, keterkejutannya sudah mampu dikendalikan. Kalau saja dia tidak segera sadar dalam ketakjubannya menatap Karina pasti sebentar lagi dia akan menubruk tubuh wanita itu dan menguncinya rapat-rapat di dalam kamar dan mengukung...nya...
"****!" Umpat Rey pelan.
"Ya tuan?" Tanya Karina masih merasa kesal di ejek 'siput' oleh bosnya. Namun dia tak bisa menjawabnya hanya mengomel dalam hati mengumpati bosnya.
"Jangan jauh-jauh dariku dan berbuat kesalahan!" Nasehat Rey saat mereka hendak masuk ke hall ballroom hotel tempat mereka menginap yang berada di lantai dua puluh, sedang kamar mereka berada di lantai tiga puluh lima lantai paling atas, kamar presiden suite room khusus untuknya.
Rey menoleh menatap Karina datar karena lengannya tidak segera digamit Karina untuk menunjukkan pada semua orang kalau mereka pasangan.
"A-ada apa tuan?" Tanya Karina mengernyit bingung.
"Apa kau baru sekali ini pergi ke sebuah pesta? ... Dan aku rasa tidak." Tegas Rey menatap Karina yang bingung bergantian menatap lengannya yang disikukan siap untuk digandeng.
"Oh... Maaf tuan." Karina langsung meraih lengan Rey dengan erat untuk mengurangi kegugupannya. Rey tersenyum tipis sangat tipis merasa gemas dengan raut wajah Karina yang gugup malah terlihat menggemaskan.
Pintu ballroom dibuka menampilkan tokoh utama pesta yaitu tuan muda Setyawan. Semua mata menatap kagum padanya namun semua orang juga terkejut. Apalagi melihat Rey menggandeng seorang gadis cantik. Semua orang mulai bisik-bisik membicarakan Rey, karena setahu mereka Rey seorang yang anti wanita.
__ADS_1
Bahkan tidak ada wanita yang pernah digandengnya selain asisten pribadinya yaitu Aldi. Bahkan ada yang mengira mereka adalah pasangan karena terlalu sering bersama. Namun sekarang seolah mematahkan rumor tentang kebelokan Rey yang dengan yakinnya menggandeng lengan seorang gadis yang diketahui para rekan bisnisnya adalah sekretaris kedua tuan muda Setyawan.
"Selamat malam tuan muda, bagaimana kabar anda?" Sapa seseorang yang langsung mendekati Rey.
"Hmm." Jawab Rey dengan wajah datarnya.
"Boleh saya tahu siapa gadis cantik pendamping anda?" Tanya seorang rekan bisnis yang lain. Rey menoleh menatap tajam pada pemuda rekan bisnisnya juga.
"Perkenalkan, saya sekretaris tuan Rey, nama saya..."
"Bisa kau ambilkan minum untukku?" Sela Rey menatap Karina tajam, Karina sendiri mengernyit bingung kenapa Rey marah padanya. Namun dia hanya mampu mengiyakan perintah Rey tanpa mampu menolak, dia hanya tersenyum merasa bersalah pada pemuda yang berkenalan dengannya tadi dan segera pergi menuju area minuman disajikan.
"Sepertinya kau memang bukan orang yang penting selain kacung bosmu?" Ucap seseorang dengan sarkas mendekati Karina yang sedang memilih minuman untuk Rey. Wanita itu mendekati Karina sambil mengambil wine yang memang juga disiapkan disitu.
Karina hanya diam acuh tak menanggapi wanita yang tiba-tiba mengoceh tidak jelas di dekatnya. Karena memang tak merasa kenal, Karina tak menghiraukannya malah sibuk memilih minuman yang tidak beralkohol karena Rey tadi sudah memberi tahunya kalau dia disuruh dicegah jika ingin minum minuman beralkohol.
"Hei nona, kau tidak mendengarku?" Tanya wanita itu lagi dengan kesalnya menatap Karina tajam.
"Yak!" Seru wanita itu hampir saja berteriak karena kesal. Karina hanya menggelengkan kepalanya tak percaya dengan kelakuan wanita dengan gaun yang minim kekurangan bahan itu meski terlihat mewah dan glamor.
"Maaf, tapi saya tidak mau bicara dengan orang yang tidak saya kenal, apalagi berbicara kasar pada saya." Ucap Karina telak dan tegas langsung pergi menuju ke tempat Rey dengan membawa jus anggur.
"Dasar wanita sialan!" Umpat wanita itu kesal diacuhkan Karina.
Karina tadi membawa dua minuman, satu untuk bosnya dan satu untuk dirinya sendiri karena dia juga lemah dalam alkohol dia memilih jus anggur juga, sama dengan Rey.
Rey menerima minuman itu langsung tanpa basa-basi langsung menyeruputnya sedikit namun dia langsung mengernyit merasakan minuman itu. Dan dia sontak berbalik menatap Karina yang ternyata sudah tidak ada di belakangnya. Rey mencari-cari di seluruh hall dan melupakan rekan-rekan bisnisnya yang saling bercerita yang malah membuat Rey muak. Karena kebanyakan mereka menjilat dan membual tentang pekerjaan mereka.
Bruk
"Aduh." Lirih Karina karena wanita yang bernama Jessica tadi mendorongnya hingga membentur dinding di lorong toilet. Ya, tadi Karina pergi ke toilet, karena Rey sedang berbincang dengan rekan-rekannya Karina memilih untuk langsung ke toilet tanpa pamit pada Rey. Toh, dia akan segera kembali setelah selesai membuang hajatnya.
Apalagi sekarang dia merasakan kepalanya berdenyut setelah menyeruput jus anggurnya yang terasa pahit di awal namun manis di belakang kemudian. Karina menatap jus anggurnya merasa aneh. Dia baru tahu jus anggur di luar negeri berbeda dengan jus anggur di tanah air.
__ADS_1
"Apa memang jus anggur disini sedikit pahit ya?" Guman Karina hingga dia pun merasa butuh ke toilet sebentar.
Namun karena merasa kepalanya berdenyut membuat Karina sedikit oleng berjalan padahal dia hanya menyeruput sedikit. Dan tiba-tiba wanita bernama Jessica yang mendekatinya saat mengambil minuman tadi mendorongnya dan disinilah Karina sekarang terduduk lemas di lorong toilet yang sepi.
"Kau tahu apa salahmu?" Ucap Jessica menatap tajam pada Karina yang hanya mampu memijat pelipisnya.
"Apa salahku?" Jawab Karina dengan linglungnya.
"Salahmu karena mendekati Reynaldi!" Seru Jessica sambil mendorong-dorong kepala Karina.
"Tuan Rey?"
"Ah, kau ternyata memang hanya kacungnya saja?" Karina mendongak menatap Jessica dengan mata mulai buram karena tak tahan dengan denyutan kepalanya.
"Kau dengar!" Seru Jessica lagi yang tidak ditanggapi Karina karena merasa seperti orang mabuk.
"Kau tahu Rey adalah tunanganku." Tegas Jessica mendorong sekali lagi kepala Karina tanpa belas kasihan dan meninggalkannya begitu saja.
Sedang Rey yang sejak tadi berkeliling hall mencari keberadaan Karina merasa cemas karena tak mendapatkan keberadaannya namun sejauh mata memandang dia tak menemukan keberadaan Karina. Kecemasan dan kepanikan mulai melanda Rey, dia takut terjadi sesuatu dengan Karina apalagi minuman yang dibawa Karina bukanlah jus anggur namun adalah minuman beralkohol anggur yang mempunyai kadar alkohol yang tinggi m
Dan Karina sangat lemah terhadap alkohol tak sampai satu gelas, satu seruput saja anggur tersebut mampu membuat mabuk kehilangan kesadaran bahkan mungkin meracau tidak jelas. Rey takut keadaan Karina tersebut dimanfaatkan oleh orang lain. Apalagi di negara ini menganut sistem pergaulan **** bebas.
"****." Umpat Rey kesal.
"Hai Rey!" Sapa Jessica pada Rey langsung bergelayut manja di lengan Rey yang langsung ditepis kasar oleh Rey dan hal itu membuat Rey langsung menatap tajam Jessica.
Rey memang memiliki pobia terhadap sentuhan wanita kecuali Oma dan Karina. Entah karena apa.
.
.
TBC
__ADS_1