
"Apa yang kau dapatkan?"
"Nona Karina dirawat di rumah sakit sejak pagi tadi."
"Apa? Apa yang terjadi?"
"Informasi yang saya dapatkan hanya itu, tapi saya belum mendapatkan tentang penyakitnya. Rumor yang terdengar saat dibawa ke rumah sakit nona Karina kepalanya berlumuran darah." Jelas Lucas membuat Bastian langsung cemas.
"Kita ke rumah sakit!"
"Baik tuan."
"Oh ya, sekalian minta tolong dokter untuk melakukan tes DNA."
"Ya?" Tanya Lucas tidak mengerti.
"Lakukan apa yang kukatakan!"
"Ba-baik tuan."
"Semoga firasatku benar." Guman Bastian.
Sesampainya di rumah sakit, Bastian langsung menemui direktur rumah sakit sebelum menghampiri ruang perawatan Karina. Direktur rumah sakit adalah sahabatnya bahkan pria itu juga yang membantu istrinya dulu saat melahirkannya.
Cklek
"Yak! Kau tak bisa mengetuk pintu?" Seru pria paruh baya itu kesal meski tidak benar-benar marah.
"Maaf, aku ada keperluan mendesak." Jawab Bastian langsung menghampiri meja kerja sahabatnya tersebut.
"Huh... Ada apa?" Tanya pria bernama Martin itu.
"Bisa aku minta tolong!" Pinta Bastian penuh harap.
"Ya?"
.
.
"Apa aku besok sudah bisa pulang?" Tanya Karina menatap suaminya.
__ADS_1
"Kita bicarakan nanti saat dokter berkunjung." Jawab Rey membantu istrinya berganti pakaian meski hanya pakaian pasien.
"Aku ingin pulang."
"Huff... Kalau dokter mengizinkan." Tegas Rey.
"Kau harus membantuku mas, aku bosan di rumah sakit." Keluh Karina sudah tiga hari dia dirawat dan merasa tubuhnya sudah baik-baik saja.
"Perbanmu belum dibuka, itu artinya kau belum sembuh?" Jelas Rey dengan nada lembut.
"Tapi sudah tidak pusing lagi. Aku sudah lebih baik." Keluh Karina menatap suaminya penuh permohonan.
"Dokter mengatakan kau harus banyak istirahat minimal satu minggu, ini baru tiga hari."
"Aku bisa istirahat di rumah kan?"
"Tidak ada yang akan menjagamu nanti."
"Kau kan ada? Ada bibi maid juga? Atau kita bawa satu perawat juga nanti." Pinta Karina penuh harap membuat Rey menghela nafas kasar. Dia memang tidak bisa menolak keinginan istrinya, apalagi dengan wajahnya yang terlihat imut dan menggemaskan.
"Tunggu dokter datang."
"Cium!" Ucap Rey menunjuk bibirnya mendekatkan tubuhnya pada istrinya, apalagi tadi dia habis mengganti pakaian istrinya yang membuatnya panas dingin melihat lekuk tubuh istrinya yang sedikit tirus.
"Mas!" Seru Karina menundukkan kepalanya tersipu malu-malu.
"Kenapa? Kau bahkan tidak memperhatikan suamimu ini selama kau dirawat." Rengek Rey terdengar mengeluh.
"Eh... ta-tapi kan... a-aku sakit." Jawab Karina gugup.
"Kau tahu dirimu sakit kan, jadi biarkan beristirahat di rumah sakit dulu." Ucap Rey meninggalkan istrinya masuk ke dalam toilet.
"I-itu... Mas, kau sudah janji tadi?" Seru Karina tidak terima karena dijebak suaminya hingga dia termakan omongannya sendiri.
"Tidak. Dokter mengatakan satu minggu yang satu minggu." Seru Rey dari dalam kamar mandi sambil tersenyum tipis di dalam mendengar rengekan istrinya. Dia merasa bahagia karena istrinya sudah bisa menerima pernikahan mereka lebih cepat dari perkiraannya.
"Aku mencintaimu." Guman Rey menatap cermin wastafel yang ada di toilet kamar perawatan Karina.
.
.
__ADS_1
Tok tok tok
"Masuk!" Seru Karina dari dalam kamar perawatan. suaminya izin untuk keluar sebentar menemui klien penting di restoran dekat rumah sakit. Meski sebenarnya Rey tak mau pergi, tapi Karina memaksanya untuk pergi karena tak mau Rey menelantarkan pekerjaannya hanya karena menungguinya.
Rey pun menyewa perawat wanita pribadi untuk merawat Karina selama dia bekerja. Dan saat itu perawat sedang mengambilkan cairan infus yang sudah habis untuk cadangan pergantian nanti.
Cklek
Pintu terbuka seseorang berdiri di sana sambil wajahnya ditutupi dengan bunga mawar putih besar yang menutupi hampir setengah tubuhnya membuat Karina mengernyit heran dan langsung teringat seseorang.
"Bryan!" Lirih Karina membuat bunga yang menutupi sebagian tubuhnya itu disingkirkan dan langsung tersenyum lebar karena Karina masih mengingat semua tentang dirinya termasuk ciri khas dirinya yang selalu datang seperti itu membuat kejutan.
"Terima kasih masih mengingatnya." Ucap Bryan lembut membuat Karina terdiam.
"Su-suamiku sedang bekerja." Ucap Karina membuang pandangannya ke arah lain tak berani menatap wajah mantan kekasihnya yang sekarang menjadi adik iparnya.
"Aku sengaja datang saat dia tidak ada." Ucap Bryan mendekati ranjang sambil menata bunga mawar tersebut mengganti bunga mawar yang sudah layu di pot dengan bunga yang dibawanya.
"Aku sudah memaafkanmu. Jadi kau tak perlu bertanggung jawab lagi..."
"Aku merindukanmu." Ucapan Karina terpotong dan dia sontak menoleh menatap Bryan karena mendengar ucapan Bryan meski dia tidak membenarkannya.
"A-aku mau istirahat, jadi..."
"Kukira aku akan baik-baik saja setelah putus darimu namun ternyata aku tidak baik-baik saja. Kau tahu disini... Di dada ini?" Ucap Bryan memotong ucapan Karina lagi sambil menepuk dadanya yang berdenyut. "Sakit sekali." Lanjut Bryan tanpa sadar air matanya menetes yang sengaja tidak diusapnya untuk memberi tahu Karina kalau keadaannya tidak pernah baik-baik saja.
"Bry!" Lirih Karina menatap sendu wajah di hadapannya ini.
"Tak bisakah aku mendapatkan kesempatan sekali lagi?" Lirih Bryan menepuk dadanya membuat Karina mulai terisak.
"Maaf... Maafkan aku...maaf."
"Kumohon Karin, izinkan aku! Aku tahu kau masih mencintaiku. Kau tidak mencintainya. Kau melakukannya karena kau merasa bertanggung jawab sebagai seorang istri. Tapi untuk cinta, aku.. Akulah yang kau cintai." Yakin Bryan semakin mendekati ranjang Karina yang sudah sesenggukan di ranjangnya sambil memegangi dadanya yang entah kenapa ikut sakit melihat tangisan pria yang pernah merajai hatinya itu.
"Maaf... maafkan aku...maaf..." Bisik Karina menahan sesak dadanya. Bryan langsung meraih tubuh Karina ke dalam pelukannya dan tidak ada penolakan yang dilakukan Karina selain tangisan sesenggukan membuat siapapun yang mendengarnya pasti merasa pilu hatinya.
.
.
TBC
__ADS_1