Suami Dan Adik Ipar

Suami Dan Adik Ipar
Bab 7


__ADS_3

"Oh ya, orang tuamu bekerja sebagai apa?" Tanya Ambar basa-basi setelah mereka selesai makan malam. Mereka kini duduk di ruang keluarga.


"Oh..."


"Sebagai pengusaha batu bara, sekarang mereka ada di luar pulau." Bryan yang menjawabnya memotong ucapan Karina. Sontak Karina langsung menoleh menatap Bryan dengan pandangan yang sulit diartikan.


Bahkan Arwana terkejut mendengar kenyataan tentang orang tua Karina yang dia ketahui sebagai yatim piatu yang tinggal di panti asuhan. Ambar sendiri terlihat tak suka ucapannya disela putranya namun karena terlalu menyayangi putranya dia meredam emosinya.


"Benarkah? Kau tinggal disini dengan siapa?" Tanya Ambar lagi menatap Karina masih dengan wajah datar dan juteknya. Terlihat tidak suka dengan Karina yang menjadi kekasih putranya.


"Dia tinggal di..."


"Bryan! Mami bertanya padanya! Bukan padamu!" Tegas Ambar menatap putranya itu tajam. Dia bisa menebak ada yang disembunyikan dari putranya itu tentang asal-usul gadis yang dicintainya itu.


Bryan sontak terdiam namun dia belum puas karena maminya memberi pertanyaan yang dia tebak untuk menjatuhkan Karina.


"Tapi mi, siapapun dia? Siapapun orang tuanya aku tetap akan menerima dia apa adanya. Aku mencintainya mi." Jawab Bryan tak kalah tegasnya membuat Arwana dan Ambar menatap Bryan. Arwana hanya diam dan menghela nafas panjang. Karina merasa terharu pada kekasihnya meski dia tak menyukai kebohongan yang dilakukannya.


"Maaf om, Tante." Karina menginterupsi kedua orang tua Bryan untuk bicara jujur. Baginya lebih baik jujur diawal ketimbang tahu belakangan. Apalagi dari orang lain. Ambar dan Arwana menoleh menatap Karina menunggu ucapan selanjutnya.


"Saya sudah tidak memiliki orang tua..." Bryan meremas jemari tangan Karina yang digenggamnya sejak tadi mencegah Karina untuk bicara jujur. Dia tak mau ibunya langsung menolak Karina karena dia anak dari panti asuhan.


Karina melirik Bryan sambil mengusap punggung tangan Bryan yang menggenggamnya memberi kode untuk tidak melakukan apa-apa dan percaya padanya. Bryan pun hanya mampu menundukkan kepalanya menghela nafas panjang belum siap menunggu reaksi ibunya saat tahu yang sebenarnya tentang Karina nanti. Dan interaksi tersebut dilihat oleh Ambar dan Arwana.


"Saya sudah tidak memiliki orang tua. Dan saya besar di panti asuhan sejak kecil. Setelah tamat sekolah menengah atas saya keluar dari panti asuhan dan memilih untuk hidup sendiri dengan bekerja sambil kuliah dan sekarang saya bekerja di perusahaan om Arwana sebagai manager keuangan sudah lebih dari dua tahun." Jelas Karina panjang lebar tanpa ada sesuatu yang ditutupinya. Untuk hasil akhir keputusan kedua orang tua Bryan dia serahkan sepenuhnya pada mereka.


Jika mereka tak merestui hubungannya dengan Bryan karena dia yang mempunyai latar belakang tidak jelas. Dia akan sedikit berjuang kalau Bryan pun berjuang untuknya. Hal itu kita lihat saja nanti. Toh, ini baru pertemuan pertama mereka, dia bisa melakukan pendekatan setelah ini untuk mendapatkan restu.


Ambar terdiam, wajahnya sudah memerah karena emosi dan marah. Merasa dibohongi oleh putranya tentang asal-usul gadis yang diklaim sebagai tunangan putranya itu. Bahkan putranya sudah melamarnya secara pribadi.


"Kami dulu satu sekolah saat sekolah menengah atas meski beda kelas." Bryan bicara.


"Dan... Setelah lama terpisah saat kuliah kami bertemu dan ternyata aku masih mencintainya." Jelas Bryan lagi menatap Karina penuh cinta.


Ambar terdiam, putranya dulu memang pernah menceritakan kalau dia mengagumi seorang gadis dan ternyata gadis ini yang dimaksud putranya. Seorang yatim piatu panti asuhan yang asal-usulnya tidak jelas siapa orang tuanya.

__ADS_1


Tak terasa pertemuan malam menunjukkan emosi dan reaksi yang berbeda-beda dari kedua orang tua Bryan. Karina sendiri tak terlalu berharap kalau orang tua Bryan terutama ibunya. Ibunya Bryan jelas-jelas menunjukkan dengan jelas ketidak sukaan padanya.


"Maafkan mami." Ucap Bryan saat keduanya sudah tiba di basemen parkiran apartemen Karina setelah keduanya sama-sama terdiam saat di perjalanan.


"Pulanglah! Aku akan ke atas sendiri." Ucap Karina masih dengan senyum terbaiknya. Dia memang sebesar itu mencintai pria ini.


"Kau marah?" Karina membeku di tempatnya bahkan dia belum sempat membuka pintu mobil.


"Kenapa?" Karina berbalik menatap Bryan lekat.


"Reaksimu, reaksimu sekarang menunjukkan kau marah. Kau tak berniat untuk meminta putus karena respon mami seperti itu kan?" Ucap Bryan menunjukkan wajah cemasnya.


"Bry, apa maksudmu?"


Grep


Bryan langsung menubruk tubuh Karina mendekap erat, seolah Karina akan hilang dari pandangannya jika dia melepaskannya.


"Aku akan membujuk mami. Mami pasti tidak sanggup melihatku bersedih. Kau percaya padaku kan?" Tanya Bryan menatap Karina penuh harap dengan pancaran puppy eyes nya. Hal itu bukannya membuat Karina terharu tapi malah terlihat menggemaskan baginya. Sontak dia pun tertawa tak mampu menahannya.


"Aku serius sayang." Ucap Bryan lagi merajuk.


"Bukankah kita saling mencintai?" Bryan mengangguk sambil menatap tautan jemari tangan mereka.


"Kita akan berjuang mendapatkan restu Tante. Jadi, kuharap kau tidak menyerah pada hubungan kita." Ucap Karina menatap Bryan dengan mata penuh cinta.


Cup


"Aku mencintaimu sayang." Ucap Bryan setelah mengecup bibir Karina.


"Aku juga mencintaimu." Jawab Karina yang langsung dibalas dengan ciuman dalam Bryan. Bahkan lengan Karina sudah melingkar di leher Bryan, keduanya saling memagut, mengecap, membelitkan lidah yang menari-nari sambil mengeksplor seluruh mulut mereka.


Sesuatu di bawah tubuh Bryan mulai kebaperan hingga dia pun terpaksa melepaskan ciuman dalam mereka. Bryan mengusap benang saliva mereka bekas ciuman itu dengan nafas keduanya yang terengah-engah berusaha meraup udara sebanyak-banyaknya. Karena ciuman itu cukup lama dilakukan oleh kedua insan tersebut.


"Aku ingin segera menikahimu." Bisik Bryan dengan suara serak menahan hasratnya.

__ADS_1


"Ayo, kita berjuang bersama!" Ucapan Karina membuat senyum Bryan mengembang.


.


.


Sudah pukul sembilan malam, Rey bahkan belum beranjak dari ruang kerjanya. Entah berkas apa yang diurusnya. Aldi yang sudah diusirnya sejak tadi masih tetap bertahan juga di perusahaan. Dia sesetia itu jika bekerja. Dia tidak tega untuk kembali lebih dulu meski Rey sudah memintanya untuk pulang.


"Kau akan terus disini?" Ucap Aldi mulai kesal dia diacuhkan sejak tadi padahal biasanya Rey tidak pernah pulang lebih dari jam tujuh malam. Sebanyak apapun pekerjaannya. Efek ketemu mantan cinta pertamanya membuat Rey menjadi bodoh dan memilih mengalihkan konsentrasinya pada pekerjaan yang bahkan bukan untuk besok.


"Aku sudah memintamu pulang kan, kenapa kau masih tetap disini." Jawab Rey berdecak kesal.


"Kalau kau mengenalku kau pasti tahu kenapa aku melakukannya." Ucap Aldi sudah tidak bersikap formal lagi karena terlalu kesal dengan sahabat sekaligus bosnya itu.


"Oke... Oke... Kita pulang." Rey akhirnya menurut saat melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul sembilan malam.


Rey segera membereskan pekerjaannya dan lagi-lagi gerakannya sempat berhenti saat tak sengaja melihat kartu nama Karina di mejanya. Bahkan dia sudah berulang kali menatap nomor ponsel tersebut ingin menghubungi. Tapi karena dia ragu dengan alasan apa dia ingin menghubungi. Berkali-kali dia membatalkannya.


"Ayolah bos! Kau bilang sudah move on kan?" Goda Aldi membuat Rey kembali berdecak.


"Kau semakin berani pada bosmu ya?"


"Yeah.." Jawab Aldi acuh sambil menguap karena dia memang benar-benar mengantuk dan lelah. Dia ingin segera beristirahat di ranjang empuknya.


"Kau mengantuk ingin menyetir?" Sindir Rey.


"Tenang saja, ada sopir." Jawab Aldi enteng membuat Rey hanya berdecak.


"Ayahmu menghubungiku beberapa kali." Beri tahu Aldi yang dia tahu Rey memblokir kontak ayahnya karena tidak mau didesak untuk datang pada undangan makan malam tadi.


"Abaikan saja!"


"Kalau itu kau aku percaya, tapi aku? Bagaimana mungkin aku mengabaikannya?" Seru Aldi protes saat keduanya berada di dalam lift menuju langsung ke basemen parkiran.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2