
Satu minggu setelah lamaran Rey ke panti asuhan. Karina juga sudah bekerja seperti biasa. Rey terlihat gelisah karena Karina terlihat menghindarinya. Bahkan dia meminta ruang kerja sendiri dengan alasan ingin belajar beberapa hal pada Ima sekretaris pertama Rey. Meski sebenarnya keberatan, entah kenapa Rey tidak bisa menolak keinginan Karina.
Karina sendiri sengaja melakukannya. Setelah one night stand yang terjadi diantara mereka, dia terlihat canggung dan kaku saat berhadapan dengan Rey. meski belum tumbuh perasaan lebih karena di hatinya dominan perasaannya dulu pada Bryan, Karina tetap tidak nyaman. Dia sudah berusaha nyaman berada di dekat Rey. Namun bayang-bayang kejadian malam itu terngiang jelas di benaknya.
Meski pas malam itu dia tidak ingat namun malam-malam berikutnya seolah membuka semua ingatannya malam itu. Lagi-lagi air mata jatuh ke pipi karena merasa sudah tidak suci lagi. Padahal dulu Bryan begitu menjaga dirinya namun sekarang entah bagaimana kejadian itu terjadi padanya. Hingga saat itu setelah cuti dua hari Karina meminta dengan tegas untuk meminta ruang kerja sendiri atau paling tidak di dekat sekretaris pertama CEO.
Karina sudah bertekad jika Rey tidak mengizinkan dia akan memilih untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya. Dia lebih baik tidak bertemu sama sekali dari pada harus bekerja di situasi yang canggung.
Namun Karina sempat heran karena Rey mengizinkannya dengan begitu mudahnya. Dan entah kenapa di dalam sudut hati kecilnya merasa kecewa dan berdenyut nyeri. Karina segera menepis pikirannya dan memilih untuk berpikir positif kalau dirinya ingin mempernyaman dirinya dalam pekerjaan. Bagaimana pun juga dia butuh uang untuk dirinya juga adik-adiknya di panti asuhan.
"Karin, dipanggil tuan Rey." Beri tahu Ima setelah dia keluar dari dalam ruang kerja Rey.
"Ya?" Tanya Karina mengernyit heran namun dia masih belum siap untuk bertemu.
"Cepatlah!" Pinta Ima sambil duduk di kursi kerjanya.
"Mbak, bisakah aku menolak?" Pinta Karina memelas menatap Ima.
"Kau tahu sendiri bagaimana beliau." Karina terdiam namun dia tidak segera beranjak dari tempat duduknya.
"Karin!"
"Aku ke toilet dulu, tiba-tiba perutku sakit." Karina segera melarikan diri ke toilet yang membuat Ima mengernyit heran, entah kenapa Karina terlihat menghindari sang atasan. Biasanya mereka sangat menempel.
__ADS_1
"Karin!" Seru Ima yang tidak digubris Karina yang langsung turun di lantai bawah memilih ke toilet lantai bawah.
Ima meringis melihat ponselnya berdering, dia melihat layar ponselnya. Nama atasannya tertera di layar ponselnya. Ima sudah bisa menebak maksud dari panggilan atasannya itu.
"I-iya tuan?" Tanya Ima langsung saat panggilan diangkat.
"Dimana dia?" Tanya Rey langsung tanpa basa-basi. Ima meringis sambil melirik ponsel Karina yang sepertinya sengaja ditinggal di meja kerja untuk menghindari panggilan atasannya.
"Di-dia sedang ke toilet tuan, tiba-tiba perutnya sakit." Jawab Ima takut-takut meniru ucapan Karina tadi.
"Suruh dia ke ruanganku setelah dia kembali dari toilet!" Titah Rey tegas terdengar dingin dari nada bicaranya.
"Ba-baik tuan." Jawab Ima tak kalah tegas meski sedikit gugup karena takut. Benak Ima terdapat banyak pikiran bertanya-tanya apa yang terjadi di antara mereka.
Hingga jam pulang pukul empat sore Karina tak kembali ke mejanya. Ima sendiri bingung menghubungi kemana karena yang dia tahu hanya nomer ponsel kantor dan ponsel itu sekarang masih berada di meja kerja di sebelahnya duduk. Bahkan sejak tadi berdering nama atasannya yang menghubungi karena Ima sedikit melirik layar ponsel tersebut karena berulang kali berdering. Ima meringis melihatnya.Dia tidak tahu berapa nomer ponsel pribadi Karina karena dia lupa untuk meminta.
"Apa si bos melakukan kesalahan? Tidak mungkinkan? Secara dia atasan, Karina tak mungkin seberani itu kan?" Guman Ima lagi.
Cklek
Blam
Suara pintu dibanting tak jauh dari tempat duduknya Ima, dia sudah akan melangkah pergi namun harus dikejutkan dengan bantingan pintu membukanya tersentak kaget.
__ADS_1
Tap tap tap
Langkah kaki tegas mendekatinya. Wajah yang suram, datar dan dingin seperti biasanya kini tampak semakin dingin dan menyeramkan saja namun Ima menguatkan hatinya untuk bersikap biasa meski merasakan getar karena takut.
Rey berhenti di depan Ima menatap Ima sejenak sungguh dengan wajah yang sangat menyeramkan. Rey melirik meja Karina yang kosong dan melihat sekilas ponsel fasilitas kantor ditinggalkan begitu saja di meja. Namun saat melihat tas Karina yang biasanya dibawa pulang pergi masih berada di tempat biasanya Karina meletakkan membuat Rey sedikit lega namun wajahnya masih tetap sama. Datar, dingin dan menyeramkan.
"Dimana dia?" Tanya Rey dengan wajah seram dalam pandangan Ima.
"Di-dia belum kembali se-setelah pamit ke-ke toilet tadi." Jawab Ima terbata-bata takut diamuk Rey.
"Berikan tasnya!" Titah Rey. Ima langsung gerak cepat meraih tas pribadi Karina dan mengulurkan pada Rey dengan ragu langsung disambar oleh Rey.
"Ponsel!" Ima langsung mengerti dan meraih ponsel Karina dan menyerahkan pada Rey.
"Kalau kau bertemu dengannya di bawah. Katakan untuk mengambilnya ke ruangan saya!" Tegas Rey menatap nyalang Ima meski sebenarnya bukan salah Ima.
"Ba-baik tuan." Jawab Ima gemetaran. Meski bukan dirinya yang dimaksud entah kenapa dia juga ikut takut dan gugup.
Rey langsung berbalik melengos dan masuk kembali ke dalam ruang kerjanya. Kalau saja itu film kartunnya mungkin asap dan api sudah berkobar di kepala Rey karena dia terlihat marah, mungkin.
"Sebenarnya ada apa dengan mereka berdua? Poor to Karina!" Guman Ima pergi dari tempat duduknya.
.
__ADS_1
.
TBC