
Karina berjalan gontai menuju parkiran sepeda motornya. Sambil menenteng barang-barangnya yang diberesi dari meja kerjanya. Tidak banyak juga, karena dia membawa barang-barang pribadinya saja yang menurutnya penting.
Ting
Suara notifikasi dari ponselnya berbunyi, Karina melihat dari mana. Matanya langsung melotot terkejut saat tahu isi notifikasi. Dana masuk pada mbankingnya yang sangat banyak menurutnya. Meski dibenaknya berpikir kalau jumlah itu sangatlah besar namun Karina mencoba menerimanya tanpa curiga. Dia hanya berpikir itu sudah menjadi hak nya.
Saat melanjutkan langkahnya dia teringat dengan ucapan Bryan semalam.
Flashback on
"Syukurlah akhirnya kau mengangkatnya sayang." Lega Bryan karena panggilannya langsung diangkat Karina.
"Siapa ya?"
"Aku Bryan sayang, kau lupa suaraku?" Tanya Bryan.
"Tapi ini..."
"Dengarkan aku! Apapun yang terjadi kita akan terus berjuang kau mengerti?"
"Tapi Bry?"
"Kumohon sayang, aku sedang berjuang disini. Papi juga akan membantuku. Sekarang ini aku tidak bisa datang untuk bertemu denganmu. Tapi aku akan usahakan segera menemuimu secepatnya. Ponselku rusak, jadi belum sempat beli. Aku pinjam ponsel papi, setelah tadi siang kau tidak mengangkat panggilanku dari ponsel seseorang." Jelas Bryan panjang lebar.
"Memang kau sedang dimana?"
"Aku ada di rumah membujuk mami untuk merestui hubungan kita. Jadi, maaf untuk sementara ini aku tidak bisa menemuimu. Kau tidak apa kan? Kau akan menungguku kan?" Cemas Bryan bertanya berkali-kali pada Karina.
"Aku akan berjuang juga."
"Terima kasih sayangku. Jaga dirimu baik-baik! Aku selalu mencintaimu."
"Aku juga sayang."
Panggilan pun berakhir dan Karina menatap layar ponselnya yang menghitam. Dia mengembuskan napas kasar setelah membuang pandangan ke arah lain.
"Apa perjuangan kami akan berhasil?" Guman Karina.
Flashback off
"Apa aku harus menyerah? Bahkan pekerjaanku yang sudah lama menjadi korbannya?" Guman Karina menata barang bawaannya di sepeda motornya.
"Tidak. Ini ujian, baru segini kau tidak boleh menyerah. Kalau memang rejekimu pasti akan mencarimu sendiri." Guman Karina lagi, menyemangati dirinya sendiri.
Karina memilih untuk pulang ke apartemennya. Untung saja dia sudah membeli apartemen untuk tempatnya tinggal tidak menyewa, meski tabungannya harus ludes dan mulai menabung lagi. Tapi setidaknya dia tidak perlu memikirkan biaya untuk sewa apartemen. Dia harus secepatnya mencari kerja meski tidak menjadi manager keuangan lagi. Setidaknya mendapat penghasilan.
"Baiklah. Sebaiknya aku menikmati me time ku." Guman Karina meletakkan semua barangnya di apartemen dan memilih untuk keluar lagi dari apartemen untuk jalan-jalan ke mall. Sekaligus mencari pekerjaan yang mungkin ada di mall.
.
.
__ADS_1
"Dia tidak banyak protes?" Tanya Ambar di seberang ponselnya.
"Tidak nyonya besar, sesuai apa kata anda saya membujuknya dengan uang pesangon tersebut." Jawab pria itu sopan seperti berada di depan sang nyonya bos besar.
"Kerja bagus." Jawab Ambar menutup panggilan ponselnya.
"Mungkin sekarang kau senang dengan kejutanku. Kita lihat saja apa kau akan menyerah. Jika tetap tidak segera menyerah, tunggu kejutan selanjutnya." Guman Ambar tersenyum smirk.
Ambar keluar dari dalam kamarnya, dia melangkah ke dapur untuk menemani Albert.
"Albert!" Seru Ambar.
"Iya nyonya."
"Bagaimana putraku?"
"Tuan muda makan seperti biasanya. Beliau meminta untuk bertemu dengan nyonya besar." Jawab Albert dengan kesopan santunannya.
"Baiklah."
.
.
Cklek
Ambar membuka pintu kamar Bryan, yang sontak membuat Bryan menoleh menatap sang mami. Meski dia kesal karena mami nya mengurung dia di dalam kamar. Namun dia tak mau menuruti keinginan maminya untuk memutuskan hubungannya dengan Karina.
"Sampai kapan mami akan mengurungku?"
"Sampai kau berjanji untuk tidak berhubungan dengannya." Jawab Ambar tegas.
"Mi, kumohon mengertilah! Aku mencintainya mi, aku sangat menginginkannya. Jadi,..."
"Kalau kau hanya ingin mengucapkan basa-basi, mami akan pergi." Jawab Ambar berdiri dari duduknya, dia sudah sangat jengkel dengan putranya yang semakin tak menurut padanya.
"Aku tetap tidak akan menyerah." Tegas Bryan membuat Ambar menatap Bryan nyalang tapi hanya diam.
"Kuharap kau tidak akan menyesalinya nanti." Ucap Ambar memilih pergi meninggalkan kamar putranya.
Bryan mengembuskan napas kasar, sebenarnya dia tak ingin membuat maminya marah atau emosi. Namun dia tak punya pilihan lain. Dia menyayangi maminya tapi juga mencintai kekasihnya. Sekarang dia hanya berharap kalau papinya akan membantunya bersatu dan merestui hubungan mereka.
"Aku mengandalkanmu Pi." Guman Bryan menghela nafas berat.
.
.
"Apa-apaan ini?" Seru Arwana murka melihat catatan keuangan minggu ini kacau. Sudah tiga hari Karina keluar dari perusahaan dan itu belum diketahui Arwana karena dia tidak mendapatkan laporan dari bagian personalia.
"Ka-kami sudah berusaha membuatnya dengan baik... ta-tapi..."
__ADS_1
"Panggil Karina kemarin!" Seru Arwana tak sabar. Sejak kemarin yang datang hanya rekan satu tim Karina. Angel dan Adiva. Ya, sejak Karina keluar, pak Reno tak bisa berbuat banyak mendengar Karina mendapat surat pemutusan hubungan kerja entah karena alasan apa. Padahal pekerjaan Karina nyaris sempurna tanpa kesalahan.
Dan dua hari ini dia terpaksa menunjuk Angel yang memang pekerjaannya tepat di bawah Karina yang terbaik satu divisinya. Namun bukan mendapatkan pekerjaan yang baik tapi pekerjaan Angel ternyata buruk. Reno saja yang tidak tahu kalau selama ini pekerjaan Angel banyak mendapatkan bantuan dari Karina juga.
Hingga Angel meminta bantuan Adiva karena teman akrabnya di divisi yang sama. Namun nyatanya keduanya sama-sama buruk.
Reno pun menyuruh keduanya menghadap langsung pak Arwana untuk menjawab semua kekeliruan laporan tersebut. Dan Angel juga mengajak Adiva serta meski dengan sedikit paksaan dan permohonan. Dan disinilah keduanya, mendapatkan Omelan panjang lebar dari pak Arwana sang CEO.
Angel dan Adiva saling menatap penuh pertanyaan dan kernyitan di dahinya semakin dalam.
Keduanya sama-sama berpikir di benaknya.
Bukankah beliau yang memberikan surat PHK pada Karina? Kenapa sekarang malah menanyakan dimana keberadaan Karina? Apa maksudnya ini? Begitulah kira-kira di dalam benak keduanya.
Karena rumor di dalam perusahaan bahwa Karina diberi surat peringatan langsung surat PHK oleh atasan mereka yaitu pak Arwana yang notabene sebagai pemimpin langsung perusahaan.
"Ada apa? Kenapa diam?" Seru Arwana memijit pelipisnya menatap keduanya bergantian dengan raut wajah kesal yang tidak biasanya dilakukan.
"I-itu... Bu-bukankah bapak sudah... Me-mecatnya?" Jawab Angel gugup tanpa sadar suaranya terbata-bata.
"Memecat? Siapa yang memecat siapa?" Seru Arwana mengernyit bingung.
"I-itu pak, sudah tiga hari ini Karina tidak bekerja disini karena sudah di PHK." Jawab Adiva tegas meski disertai gugup.
"Siapa yang berani memecatnya?"
Arwana tidak menunggu jawaban mereka, segera meraih telpon kantor memanggil sekretarisnya. Kedua orang, Angel dan Adiva segera diusirnya dari ruangannya. Berganti sang sekretaris masuk ke dalam ruang kerja Arwana.
"Apa yang terjadi ini? Siapa yang memecat Karina?" Tanya Arwana.
"Maaf pak, saya akan menanyakan pada bagian HRD." Jawab sang sekretaris yang membuat Arwana memijit pelipisnya semakin pusing saja. Dia berpikir, orang bodoh mana yang memecat pekerja teladan yang nyaris sempurna dalam mengerjakan pekerjaannya.
"Beliau akan datang kesini untuk menghadap anda pak." Beri tahu sang sekretaris yang langsung diusir dengan kibasan jemari tangan Arwana dan langsung pergi keluar dari ruangan untuk melanjutkan pekerjaannya sendiri yang masih sangat banyak.
Tok tok tok
"Masuk!" Jawab Arwana cepat tak sabaran untuk mendapatkan informasi.
"Bisa kau jelaskan!" Seru Arwana menatap nyalang pak Arya yang berdiri gugup dan gemetar. Di satu sisi sang atasan bos, di sisi lain sang nyonya bos.
"Maaf tuan, nyonya besar yang meminta melakukannya." Jawab pak Arya langsung merasa deg-deg an menunggu reaksi atasannya itu yang hanya diam tampak shock.
"Apa?" Murka Arwana segera meninggalkan ruang kerjanya untuk pulang menemui istrinya.
"Apa ini akhirku?" Guman Arya yang ditinggal begitu saja oleh Arwana di ruangannya. Dia pun memilih untuk kembali ke ruangannya sendiri mencari aman.
.
.
TBC
__ADS_1