
"Apa jadwalku hari ini?" Tanya Rey sambil duduk di meja kerjanya pagi itu.
"Meeting terakhir dengan perusahaan kemarin pukul sembilan pagi, meeting pemegang saham setelah makan siang. Dan terakhir pesta penutupan kerja sama malam nanti." Jelas Karina dengan lancar berdiri di depan meja kerja bosnya. Namun dia selalu membuang pandangannya ke arah lain, tak berani menatap bosnya karena kejadian semalam.
"Pukul tiga sore, aku ingin mengunjungi suatu tempat." Beri tahu Rey ikut-ikutan membuang pandangannya.
"Baik tuan, ada lagi?"Tanya Karina sambil mencatatnya di tablet yang dibawanya.
"Dengan kamu."
"Iya tu... Maaf tuan, bisa saya tahu kemana?" Tanya Karina penasaran memaksakan diri untuk mendongak menatap wajah Rey.
"Kau akan tahu nanti." Jawab Rey singkat masih melanjutkan pekerjaannya tanpa menatap Karina.
"Oh... Itu artinya saya tidak bisa menolak kan?" Tanya Karina dengan nada sindiran.
"Apa kau keberatan?" Tanya Rey sontak melayangkan tatapan mata pada Karina yang sayangnya sibuk dengan tabletnya. Namun diamnya Rey membuat Karina kembali mendongak menatap Rey, hingga keduanya kini saling menatap dalam diam. Namun Karina tampaknya belum paham maksud tatapan tajam Rey untuknya.
"Tidak tuan." Kalau aku bilang iya, aku takut kau akan meninggalkanku di negara yang asing ini. Batin Karina dalam kalimat selanjutnya tak lupa senyum lebar bibirnya ditampilkan pada Rey untuk meyakinkan pernyataannya.
"Baguslah! Untuk pesta juga, kau akan menemaniku!" Rey sibuk dengan laptopnya lagi.
"Ya? Tapi tuan, saya tidak membawa gaun pesta sama sekali?" Tanya Karina menatap Rey cemas karena untuk kali ini dia tidak berbohong. Pakaiannya semua adalah baju formal kerja, tak mungkinkan dia memakai pakaian kantor?
"Akan ada orang yang mengantarkan gaun untukmu nanti sore." Beri tahu Rey masih sibuk dengan laptopnya hanya melirik sebentar pada Karina.
"Baiklah tuan."
Karina kembali ke tempat duduknya bersiap untuk meeting pagi mereka nanti. Setelah itu dilanjutkan dengan meeting pemegang saham sekaligus laporan akhir bulan keuangan. Karina menyiapkan semua karena tidak akan kembali ke dalam ruangan ini setelah meeting dengan klien.
"Ayo!" Ajak Rey tiba-tiba sudah berdiri di depan meja Karina yang dekat dengan pintu masuk ruangannya.
"Oh, baik tuan." Jawab Karina refleks membawa tablet dan beberapa berkas yang sudah disiapkan.
"Apa semua sudah lengkap?" Tanya Rey setelah mereka berada dalam lift khusus eksekutif.
"Aku rasa semua sudah ada tuan." Jawab Karina yakin.
"Hmm."
__ADS_1
Ting
Pintu lift terbuka di lantai sepuluh tempat ruang meeting berada. Rey pun keluar diikuti Karina yang membuntutinya.
.
.
Tak terasa sudah pukul dua siang, setelah meeting pemegang saham juga laporan-laporan akhir bulan yang harus diterimanya berjalan dengan lancar meski dirinya beberapa bulan terakhir dia tidak ada di tempat. Rey ternyata sudah mempercayakan perusahaannya dengan orang yang tepat.
Rey melangkah menuju keluar dari lift setelah tiba di lantai satu. Mobil beserta sopir sudah menunggu di dekat lobi gedung perusahaannya. Karina mengikuti dengan langkah sedikit berlari entah kenapa dia merasa tidak sabar untuk segera pergi.
Sebenarnya kemana tujuan bos kali ini, dia terlihat bersemangat?
Apa dia ingin mengunjungi kekasihnya, mungkin?
Entah kenapa tiba-tiba pikiran Karina penasaran tentang kekasih Rey. Kalau dia bisa melihat wajahnya, kemungkinan rumor kedekatan mereka pasti akan terbantahkan. Meski Karina terlihat masa bodoh dan tidak mau tahu dengan pandangan orang lain padanya. Karina termasuk orang yang acuh. Baginya selama tidak mengusiknya secara fisik dan langsung, dia tidak akan pusing-pusing memikirkannya.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, keduanya duduk diam di dalam kursi mobil di belakang. Rey terlihat sibuk dengan ponselnya. Karina memilih untuk sibuk mengerjakan laporan hasil meeting tadi.
Tepat di sebuah mansion besar dan mewah dengan model kuno kebaratan khas orang Beland*. Mobil pun berhenti. Sopir segera keluar dari dalam mobil membukakan pintu mobil untuk Rey. Karina mengikutinya tanpa menunggu dibukakan pintu.
"Selamat datang tuan muda." Sapa seorang pria paruh baya dengan beberapa maid yang berdiri berderet rapi di sisi pria paruh baya tersebut bahkan ada dua baris. Tentu saja dengan bahasa negara tersebut. Mungkin sekitar tiga puluh atau empat puluh entahlah. Hal itu mampu membuat Karina melongo terkejut dengan banyaknya maid itu. Dan artinya mansion tersebut bukan milik orang sembarangan.
"Dimana Oma?" Tanya Rey tak membalas sapaan pria tua itu yang hanya dijawab deheman saja tadi. Karina terdiam kaku di belakang Rey setelah tanpa sadar menatap norak para maid, juga isi di dalam mansion yang terlihat sangat mewah, antik dan unik.
Oma? Jadi ini rumah Oma tuan Rey? Ini sungguh luar biasa besar dan mewah. Definisi orang tampan pasti kaya itu memang sangat berbeda auranya. Batin Karina berdecak kagum.
"Siapa yang datang?" Suara tua yang begitu menggelegar meski tidak keras mampu membuat pria tua juga semua maid langsung memberi hormat kepada wanita tadi. Wanita yang duduk di kursi roda itu langsung dihampiri Rey dengan senyum mengembang lebar di bibirnya yang memang jarang sekali dilihat Karina.
Karina bahkan terkejut tak pernah melihat senyum lebar itu selama bekerja dengan Rey. Rey memang terkenal dengan wajah datar dan dingin bahkan pada wanita sekalipun termasuk pada dirinya namun entah kenapa dia tidak takut hanya sesekali saat Rey menatapnya penuh intimidasi.
"Apa kabar Oma?" Tanya Rey memeluk Omanya lembut penuh kasih sayang membuat Karina yang awalnya terkejut menjadi tersenyum hangat melihat rasa kasih sayang sebesar itu diantara mereka.
"Apa kau sudah lupa dengan omamu?" Tegur wanita tua renta itu.
"Aku sudah mengunjungi Oma sekarang?" Rajuk Rey.
"Dasar bocah nakal. Kalau saja Albert tak mendatangimu, apa kau akan datang?" Sarkas wanita tua itu dengan nada bercanda.
__ADS_1
"Iya-iya Oma, maafkan aku." Ucap Rey mengalah. Keduanya sama-sama tersenyum hingga wanita itu menatap belakang tubuh Rey ada seorang gadis yang menatap keduanya dengan senyum tulusnya.
"Apa dia?" Tanya wanita tua itu menatap Rey dan Karina bergantian.
"Hmm." Jawab Rey setelah berbalik menatap Karina.
"Jadi kau benar-benar..."
"Oma!" Seru Rey seolah sedang mengingatkan Omanya untuk tidak berlebihan.
"Hmm. Kemarilah nak!" Titah wanita itu melambaikan tangannya pada Karina yang langsung terkejut karena ditunjuk oma bosnya.
"Sa-saya nyonya?" Tanya Karina sambil menunjuk jarinya pada dirinya sendiri.
"Tentu saja." Karina mendekati wanita tua itu dengan sopan. Karena wajah wanita itu bukan seperti wajah bule seperti orang disini kebanyakan, wajah yang khas mirip orang tanah air tempatnya negaranya berada.
"Siapa namamu gadis cantik?" Tanya Oma dengan lembut.
"Sa-saya Karina nyonya, saya adalah sekretaris kedua tuan Reynaldi." Jawab Karina dengan lancar dan senyum ramahnya.
"Panggil saja Oma seperti Rey memanggilku." Ucap Oma yang langsung membuat Karina terkejut sontak menoleh menatap Rey yang sedang melihat aksi mereka berdua, Rey sejak tadi memeluk tubuh Omanya dari samping. Rey sontak menganggukkan kepalanya.
"Baiklah nyo... Eh Oma." Jawab Karina akhirnya membuat Oma tersenyum.
"Siapkan makan malam.."
"Kami tidak bisa makan malam disini Oma, ada pesta perusahaan yang harus kami hadiri nanti!" Sela Rey saat Omanya menyuruh para maid diberi perintah yang sudah membubarkan diri sejak tadi. Hanya pria tua dan beberapa maid saja yang tinggal di ruang tengah itu yang harus selalu siap sedia saat tuan rumah meminta untuk dilayani.
"Apa maksudmu? Jadi kau hanya sebentar di rumah ini? Kau tega sekali meninggalkan Oma lagi setelah kau pulang. Dan sekarang..." Ucap Oma pura-pura bersedih demi mencari perhatian Rey membuat Karina merasa kasihan melihat Oma tuannya.
"Kami akan kembali besok ke tanah air."
"Dasar cucu kurang ajar, kau hanya sibuk dengan pekerjaan dan pekerjaan saja, kapan kau akan menemani Oma. Apa kau akan kembali jika Oma sudah tidak ada?" Marah Oma membuang pandangannya ke arah lain membuat Karina terharu dengan kedekatan keduanya. Bahkan dirinya hanya memiliki ibu panti dan adik-adiknya.
Rey langsung mendekap tubuh renta Omanya yang sudah menyayangi dan merawatnya sejak kecil. Sejak ayahnya memperkenalkan ibu baru untuknya.
.
.
__ADS_1
TBC