Suami Dan Adik Ipar

Suami Dan Adik Ipar
Bab 39


__ADS_3

Karina membuka matanya perlahan, merasakan tubuhnya terasa remuk redam sakit semua. Seketika otaknya nge lag saat melihat pinggangnya terasa berat melingkarinya. Karina melirik ke arah yang terasa membelit tubuhnya itu. Matanya melotot seketika dan langsung menoleh ke belakang tubuhnya merasakan nafas di tengkuknya.


Bruk


"Ukh." Suara rintihan dari bibir Rey saat merasakan lengannya dilempar hingga membentur dadanya yang telanjang dengan selimut yang ditarik Karina karena terkejut melihat tubuhnya telanjang bulat juga bosnya yang berwujud sama.


Sama-sama telanjang bulat tanpa sehelai benangpun. Bahkan hampir saja adik kecil Rey dibawah sana berdiri tegak di bawah kalau sedikit saja Karina menarik selimutnya karena panik dia menutupi tubuhnya sampai batas leher spontan.


Namun sesuatu terasa nyeri di pangkal tubuhnya membuat Karina meringis. Karina melotot terkejut mengingat kejadian semalam. Tanpa sadar air matanya mengalir, tangisan kecil terdengar di kamar itu, Karina membenamkan wajahnya di lututnya yang ditekuk..


Rey yang mendengar langsung membuka matanya terkejut melihat ranjang berantakan dan suara tangisan seseorang yang duduk di sisinya. Sekelebat ingatan muncul di benak Rey membuat perasaan bersalah menghampirinya. Dia memang ingin memiliki Karina untuk menjadi miliknya namun bukan dengan seperti ini.


Semalam tubuh Rey merasa tidak baik-baik saja, seolah ada sesuatu yang membuatnya bergairah. Isakan tangis Karina semakin lirih membuat Rey sadar bahwa dirinya tidak bisa diam terus seperti ini.


"Karin... A-aku... Maafkan aku... A-aku... Akan ... Bertanggung... Jawab." Ucap Rey dengan suara serak khas bangun tidur juga parau merasa bersalah. Tangannya ingin sekali mendekap tubuh Karina namun dia takut dan ragu. Bagaimana pun juga semalam sudah memaksa dan sangat kasar. Namun dia juga tidak bisa berbuat apa-apa karena sedang dalam pengaruh obat.


Oh, obat. Ya, benar. Sepertinya minuman yang diberikan Jessica diberi obat perangsang... Sial.


Umpat Rey kesal mengingat minuman yang diminumnya saat hendak pergi kemarin.


"Maaf Karin... Maaf... Ki-kita menikah. Aku akan menikahimu." Ucap Rey tegas dengan raut wajah tegas. Wajah datar dan dinginnya mendadak hilang karena rasa bersalahnya yang begitu besar. Dia sangat mencintai Karina, dia memang merasa bersalah tapi dia tidak menyesali semua yang terjadi semalam. Bahkan dia sangat bersyukur karena menjadi yang pertama untuk gadisnya.. Bukan gadis lagi tapi wanitanya. Dia berjanji akan membuatnya jatuh cinta padanya nanti.

__ADS_1


Rey bersujud menundukkan kepalanya tak berdaya di hadapan Karina yang masih sesenggukan sambil menenggelamkan wajahnya di lututnya yang ditekuk. Sesekali Rey melirik menatap Karina yang masih berada di posisi yang sama. Namun dia masih diam memberikan waktu pada Karina untuk berpikir.


"Maaf... Maafkan aku... Maaf..." Lagi, berulang kali Rey mengucapkan hal itu, namun Karina masih diam tidak merespon membuat Rey cemas karena sudah hampir satu jam Karina diam di posisi yang sama.


"Karin." Rey menyentuh sedikit sikunya yang ditekuk namun langsung ditepis kasar.


"Karin!" Panggil Rey lagi merasa bersalah.


"Saya ingin pulang." Ucap Karina dengan nada serak karena terlalu lama menangis.


"Kita pulang, kita temui keluargamu dan.."


Rey menatap tubuh Karina yang dibalut selimut dengan kencang ingin memapahnya namun dia tahu kalau pasti akan ditolak. Namun melihat Karina semakin sulit hingga jatuh membuat Rey reflek berlari dan membopong tubuh Karina yang langsung disambut jeritan terkejut oleh Karina. Spontan Karina langsung mengalungkan lengannya ke leher Rey agar tidak jatuh.


"Maaf." Guman Rey lirih yang masih bisa didengar Karina yang langsung memalingkan wajahnya ke arah berlawanan, apalagi Rey belum mengenakan apapun di tubuhnya alias telanjang bulat.


Rey langsung memasukkan Karina di bathtub kamar mandi dan membantu melepaskan selimut Karina yang membelit tubuhnya. Meski Karina malu dia tidak mungkin terus menutup tubuhnya karena ingin mandi. Dan dengan telaten Rey menyalakan kran air bathtub yang membuat wajah Karina memerah karena malu dan tanpa sengaja menatap sesuatu yang sedang berdiri tegak di bawah tubuh Rey.


"Mandilah! Kita bicara setelah kau selesai. Panggil aku jika kau kesulitan untuk berjalan!" Ucap Rey sebelum meninggalkan kamar mandi. Karina hanya diam mendengarkan merasa tak percaya, bosnya ternyata seperhatian itu padanya. Padahal sehari-harinya sangat tegas dan dingin.


Rey mengembuskan nafas kasar, mengusap wajahnya merasa bersalah. Dia pun segera meraih celananya yang tercecer di lantai tak beraturan beserta dengan gaun Karina semalam yang sudah terlihat mengenaskan karena dia tak sabaran hingga menyobek gaun itu.

__ADS_1


Matanya beralih melihat ranjang yang masih berantakan. Bukan itu fokusnya tapi noda darah di ranjang itu membuat Rey tersenyum bahagia dan rasa bersalah juga.


"Terima kasih, aku sudah menjadi yang pertama untukmu. Sekarang kau adalah milikku." Guman Rey tegas memakai celananya dan meraih ponselnya untuk memesan sarapan dan meminta pelayan untuk membereskan kamar Karina secepatnya sebelum Karina keluar dari dalam kamar.


Tak lupa gaun santai untuk ganti baju Karina karena dia hanya mendapatkan pakaian kerja di kopernya juga celana jins dan kaos saja. Menurut Rey pakaian Karina di koper tidak ada yang nyaman jika dipakai saat merasakan pangkal tubuhnya sakit. Hingga Rey pun memesankan dress putih di bawah lutut dan lengan yang panjang untuk Karina.


Beberapa menit kemudian pintu kamar Karina diketuk, layanan kamar benar-benar datang lima belas menit sesuai keinginan Rey.


Pelayan segera meletakkan semua pesanan Rey dan mulai membereskan ranjang kamar tersebut yang ditanggapi biasa oleh pelayan karena tidak hanya sekali dua kali mereka membereskan hal-hal seperti itu di hotel tempat mereka bekerja.


Rey menghubungi pihak penerbangan untuk membatalkan penerbangannya pagi ini karena merasa harus ditunda karena tidak mungkin keadaan Karina sanggup untuk melakukan perjalanan jauh. Dan lagi mereka perlu bicara serius berdua membahas tanggung jawabnya tentang kelancarannya telah merenggut hal berharga milik Karina.


Sudah setengah jam berlalu, Karina masih berada di dalam kamar mandi. Meski Rey sangat penasaran apa yang dilakukan Karina di dalam namun Rey menahan diri untuk tidak menghampirinya. Dia memilih untuk bertahan menunggu di luar kamar mandi.


Rey mondar-mandir tak jelas di depan pintu kamar mandi takut kalau dia tidak bisa mendengar Karina jika dia menjauh dari pintu kamar mandi.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2