
Rey berdiri di depan sebuah gedung yang sudah cukup tua. Jantungnya sedikit berdebar saat hendak masuk ke dalam gedung tua tersebut. Rey menatap miris bangunan itu karena seharusnya itu sudah tidak layak pakai karena sudah terlalu tua dan nyaris rubuh. Entah karena apa, kenapa bangunan itu masih dipertahankan yang seharusnya sudah tidak layak huni.
Berdasarkan apa yang dilaporkan Aldi, bangunan tua itu adalah panti asuhan tempat Karina tinggal sejak kecil sampai sekarang masih tetap sama tanpa perubahan renovasi yang memadai mengingat donatur panti asuhan tersebut masih terbatas karena tanah yang ditinggali bangunan tersebut masih memiliki status sengketa lahan.
Semakin miris lagi, jika sewaktu-waktu mereka digusur mereka harus siap jika tanah sengketa tersebut sudah diselesaikan dan kemungkinan diusir dan digusur adalah sembilan puluh lima persen. Yang lima persen pihak panti asuhan harus sanggup membayar pembelian lahan tanah tempat bangunan tersebut jika ingin tetap tinggal.
Meskipun mereka mampu membayar pembelian lahan tanah tapi tidak menutup kemungkinan kalau hanya bangunan itu yang ada di sana nantinya karena tanah sengketa tersebut akan dibangun jalan tol penghubung kota tersebut dengan kota sebelah. Jika memang pihak panti asuhan memiliki dana yang cukup mungkin lebih baik dana tersebut untuk membeli bangunan di tempat lain yang cukup layak.
Berdasarkan penyelidikan Aldi sang asisten kepercayaan, donatur tetap yang memberikan jumlah yang tidak banyak hanya lah Karina yang menyisihkan sebagian gajinya untuk kebutuhan sehari-hari keluarganya di panti asuhan meski juga memiliki donatur tapi para donatur tidak tetap memberi setiap bulan karena keberadaan panti asuhan yang belum diketahui banyak orang yang berada di desa pinggiran kota.
"Sampai kapan kasus tanah sengketa itu berakhir?" Tanya Rey saat membaca penyelidikan tentang panti asuhan tempat Karina dulu tinggal.
"Paling lama lima tahun lagi paling cepat setahun kurang lebih." Jawab Aldi yakin.
"Siapa kira-kira pihak yang akan menang?"
"Pemerintah setempat."
"Jadi, kemungkinan harus pindah?"
"Itu solusi terbaik tuan."
"Kau siapkan bangunan gedung yang sedikit lebih besar dan cukup untuk penghuni panti asuhan. Yang jelas aman dari sengketa dan berikan hak milik atas nama Karina!" Titah Rey berdiri dari duduknya dari kursi kebesarannya memunggungi Aldi menatap jendela kaca di belakang mejanya.
__ADS_1
"Baik tuan." Aldi sudah tidak kaget dengan titah Rey sang bos. Sebesar apa cintanya pada gadis itu. Aldi sendiri juga sudah mendengar kalau bosnya akan melamar Karina secara pribadi baru kemudian dia akan mengajak Karina ke panti asuhan untuk melamar dengan resmi dengan Karina beserta keluarga yang mungkin dia akan mengundang sang kepala keluarga di mansion Omanya di Beland* sebagai perwakilan sang oma.
Awalnya Aldi terkejut secepat dan semudah itu sang bos akan menikahi Karina setelah kepulangan dari negara asal orang tuanya. Karena Rey sendiri tidak menceritakan detail tentang perihal one night stand yang terjadi padanya. Namun Aldi memiliki mengikuti dan ikut bahagia karena sang bos bisa bahagia bersama gadis yang dicintainya sejak dulu.
"Siapkan beberapa barang yang perlu dibawa untuk kebutuhan anak-anak di panti sana!"
"Baik tuan. Apa perlu saya temani?"
"Tidak. Aku akan membawa sopir dan menemui ibu panti secara pribadi menyampaikan niatku sebelum kemudian melamar secara resmi padanya." Beri tahu Rey yang menyunggingkan senyum bahagianya dibalik punggungnya.
Aldi tersenyum senang karena akhirnya perjuangan mempertahankan perasaannya untuk pujaan hatinya selama ini tidak sia-sia karena berbuah manis juga.
"Baiklah tuan, saya akan segera menyiapkan semuanya. Selamat atas keberhasilan cinta anda." Ucap Aldi tersenyum yang dibalas senyuman juga oleh Rey yang masih memunggungi Aldi namun Aldi tahu kalau bosnya itu juga bahagia meski hanya melihat punggungnya.
"Barang-barang ini dibawa ke dalam tuan?" Tanya sopir Rey saat dia sudah siap membawa beberapa barang-barang yang sudah disiapkan oleh Aldi kemarin.
"Eh... oh sebentar." Jawab Rey menghela nafas panjang.
"Tunggu disini, aku masuk dulu! Setelah kuberi tanda, kau baru masuk membawa semua barang-barang itu masuk!" Titah Rey membuka gerbang pintu depan yang sudah mulai berkarat karena saking lamanya membuat Rey menatap miris.
"Permisi!" Seru Rey tepat di depan pintu yang terbuka tersebut.
"Ya?" Suara seorang wanita paruh baya yang sudah menua menatap Rey mengernyit.
__ADS_1
"Perkenalkan nama saya Reynaldi." Ucap Rey sopan sambil membungkukkan badan memberi hormat dan tak lupa mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Oh saya ibu Mira, pengurus panti." Jawab wanita itu.
"Siapa Bu?" Tanya seorang pria paruh baya yang muncul dari belakang bangunan. Seorang pria paruh baya juga yang terlihat berkeringat seperti seusai bekerja keras.
"Namanya tuan Reynaldi pak." Jawab Bu Mira tersenyum melihat suaminya muncul dengan peluh keringat karena memang sedang memanen sayuran di belakang bangunan yang dimanfaatkan ditanami sayur-sayuran untuk makan semua penghuni panti.
"Maaf tuan, ada urusan apa ya?" Tanya pria paruh baya itu.
"Saya Reynaldi, ada hal penting yang ingin saya sampaikan?" Ucap Rey dengan sopan dan wajah serius membuat pria paruh baya tersebut mengernyit heran.
"Saya Hartono suami Mira, yang juga ikut mengurus panti. Mari silakan masuk!" Ajak pria bernama Hartono tersebut yang merupakan pasangan suami istri yang sudah menikah hampir empat puluh tahun tidak memiliki anak karena Mira divonis mandul. Dan Hartono dengan setia tetap mencintai Mira sebagai mana pasangan suami istri lainnya hingga akhirnya memutuskan untuk membuka panti asuhan karena mereka tidak bisa mempunyai anak kandung sendiri.
Mereka pun duduk di ruang tamu bangunan itu yang sudah reyot tidak layak pakai seharusnya namun mereka tetap menggunakannya karena Hartono sudah memperbaiki sedemikian rupa agar masih layak dipakai.
Seorang anak panti berusia sekitar lima belas tahunan menyajikan teh untuk Rey dan Hartono yang juga didampingi Mira. Gadis itu menatap Rey lekat terpesona dengan ketampanan pria itu membuat gadis itu terdiam bengong yang langsung ditepuk lembut oleh Mira yang terkejut sontak tersipu malu dan meninggalkan ruang tamu.
.
.
TBC
__ADS_1