Suami Dan Adik Ipar

Suami Dan Adik Ipar
Bab 22


__ADS_3

"Kau baik-baik saja?" Tanya Arwana melihat Bryan terdiam, terlihat melamun di depan jendela kaca di dalam kamarnya. Bryan tak ubahnya bagai mayat hidup, tidak bersemangat.


Setelah menerima pernyataan putus dari Karina Bryan menemui kedua orang tuanya tentang keputusannya. Dia pun memilih untuk putus dengan cintanya dan itu artinya perjodohan otomatis batal. Begitulah syarat yang diterimanya saat itu. Dia tahu betul watak ibunya seperti apa. Menjadikan Karina istri keduanya secara tidak langsung membuat Karina akan memilih untuk putus dan pergi meninggalkannya.


"Nak!" Arwana menepuk pundak Bryan karena panggilannya tidak direspon. Bryan tersentak karena memang sedang melamun.


"Iya Pi." Jawab Bryan ogah-ogahan terlihat tidak bersemangat. Pipinya terlihat tirus dan wajahnya suram tidak menunjukkan tanda-tanda semangat kehidupan di wajahnya yang sedang patah hati itu. Bahkan rambutnya tampak gondrong tidak terurus. Wajahnya pucat karena jarang makan jika tidak dipaksa.


"Kau menyesali keputusanmu?" Tanya Arwana menatap sendu pada putranya dan duduk di sofa dekat sofa yang diduduki putranya.


"Entahlah. Mungkin ini yang terbaik." Ucap Bryan menyandarkan tubuhnya ke sofa memejamkan matanya sejenak dan bayangan kebersamaan kenangannya dengan Karina pun melintas dan itu tanpa sadar membuat senyum tipis sangat tipis sampai Arwana tak menyadarinya karena dia sedang menundukkan kepalanya merasa bersalah mendukung istrinya.


"Lalu? Apa rencanamu?" Tanya Arwana setelah menghela nafas panjang.


"Entahlah." Jawab Bryan enggan masih terus memejamkan matanya namun dia tidak pernah tidur nyenyak, rasa bersalah dan penyesalan sangat dirasakan di hatinya hingga membuat dadanya sesak. Namun dia segera membuat nafasnya panjang.


"Kau mau mencoba bekerja menggantikan papi?" Tawar Arwana yang tidak begitu ditanggapi Bryan karena dia tidak menunjukkan reaksi apapun.


"Meski keputusanmu sangat kau sesalkan dan membuatmu sakit, tetap saja hidup terus berjalan." Ucap Arwana ikut membuang pandangannya ke luar jendela yang langitnya terlihat cerah sore itu.


"Pikirkan apa ucapan papi, kalau kau sudah siap, cari papi!" Ucap Arwana memilih untuk pergi meninggalkan Bryan sendiri lagi.


Mata Bryan terbuka saat mendengar suara pintu kamarnya tertutup dari luar. Bryan menatap ke depan dengan tatapan mata kosong dan sendu. Dia sudah terlanjur mencintai Karina dengan segenap seluruh jiwa raganya. Jika saja tidak ingin melihat Karina hidup bahagia, dia pasti akan memilih mati. Sayangnya dia ingin gadis yang dicintainya itu bahagia dan memastikan maminya berbuat macam-macam padanya.

__ADS_1


.


.


"Bagaimana?" Tanya Ambar menatap suaminya penuh harap dan penyesalan yang dalam. Bukan penyesalan putranya memutuskan hubungan dengan Karina tapi menyayangkan sikap putranya membatalkan perjodohan. Arwana hanya menggeleng tanda kalau putranya masih tetap seperti sebelumnya, terlihat tidak bersemangat seperti mayat hidup. Hidup tapi pucat dan tubuhnya semakin kurus padahal tidak sakit.


"Aku akan menemuinya."


"Untuk apa? Kau mau melihat putramu kembali tidak ingin makan? Kau tahu setelah terakhir kali kau menemuinya dia pingsan karena kesehatannya menurun. Sekarang dia sudah mau makan biarpun sedikit, kau tak mau kan asam lambungnya kembali naik?" Omel Arwana yang tahu kalau istrinya itu akan nekat.


"Dia tidak seharusnya terpuruk seperti itu berhari-hari. Harusnya gadis itu yang harus menanggung kesedihan. Aku jadi ingin membuat gadis itu terpuruk lagi." Kesal Ambar.


"Cukup Ambar! Jangan membuat putramu semakin membencimu!" Tegas Arwana memilih pergi masuk ke dalam kamarnya, tadi dia baru saja pulang dari kantor dan langsung menuju kamar putranya untuk melihat keadaannya.


"Aku akan selalu mencintaimu Karin!" Guman Bryan penuh ketegasan, air matanya menetes lagi.


.


.


Pukul lima sore, Rey melirik jam dinding dan jam tangannya lagi. Sampai sekarang tak ada tanda-tanda Karina akan datang ke kantornya membuat Rey semakin frustasi.


"Sial." Umpat Rey kesal.

__ADS_1


"Apa dia tidak percaya?"


"Atau dia diterima di perusahaan lain?"


"Dan dia berpikir tidak pernah memasukkan surat lamaran kerja disini dan tidak datang begitu?" Guman Rey mengetuk-ngetuk dagunya merasa apa yang dipikirkannya masuk akal.


"Seharusnya aku bilang siapa aku kan? Tidak-tidak! Pasti malah akan terdengar aneh." Guman Rey memilih untuk memakai jas kerjanya dan pergi meninggalkan kantornya untuk pulang karena memang sudah tidak ada pekerjaan.


.


.


Dan sudah bisa ditebak, disinilah Rey saat ini. Di seberang jalan depan supermarket tempat Karina bekerja. Kalau saja ada yang bisa menilai kebucinan, Rey lah yang mungkin akan memenangkannya. Kebucinan yang tsundere adalah penilaian yang cukup untuk orang sekelas Rey. Namun tidak berani mengutarakan keinginannya.


Matanya masih tajam mengawasi setiap gerakan Karina yang lebih banyak berdiri di depan kasir melayani pembeli dengan tersenyum ramah. Dan hal itu membuat Rey marah dan tidak suka, senyum Karina diumbar pada semua orang termasuk pengunjung pria.


"Apa dia selalu tersenyum lebar seperti itu dulu? Kayanya enggak deh, bukankah dia selalu menatapnya malu-malu dulu?" Guman Rey.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2