Suami Dan Adik Ipar

Suami Dan Adik Ipar
Bab 90


__ADS_3

Sebulan pun berlalu, hubungan Rey dan Karina semakin dingin dan hambar. Tak ada kemesraan atau sapaan penuh kasih seperti yang dilakukan Rey setiap harinya. Apalagi Rey dan Aldi disibukkan dengan pembukaan cabang anak perusahaan Rey di luar pulau. Semakin membuat jarak pasangan suami istri itu semakin jauh.


Karina yang sibuk dengan pekerjaannya sebagai sekretaris kedua yang kini menjadi wakil CEO jika sewaktu-waktu Rey dan Aldi tidak ada keduanya di perusahaan. Karina yang menolak awalnya terpaksa menerima. Bagaimana pun juga dia adalah istri dari seorang CEO. Meski dia bisa menyerahkan tanggung jawab itu pada Ima sebagai sekretaris utama.


Namun status Karina sebagai seorang istri tak bisa menolak. Kini Karina sibuk dengan berkas-berkas yang harus dia tanda tangani. Dan ruang kerjanya pun sudah pindah, yang awalnya satu ruangan dengan Rey. Sekarang Karina menempati ruangan khusus sendiri yang tidak jauh pula dari ruang kerja Rey dan Aldi.


Bukan dia tak mau diberi tanggung jawab sebagai pengganti suaminya saat suaminya sibuk membuka cabang anak perusahaan tapi tanggung jawab itu Aldi yang memberikan bukan suaminya. Padahal dia bisa saja menyempatkan diri untuk memberitahu nya langsung. Tapi kenapa harus asistennya Aldi dengan alasan Rey sibuk mengurus anak perusahaannya.


Karina yang peka langsung sadar kalau sebenarnya suaminya sedang menghindarinya entah karena apa. Salah paham tentang tidur bersama dengan wanita yang pernah dijodohkan dengannya dulu belum selesai tapi sekarang sepertinya suaminya sedang menghindarinya. Karina mencoba berpikir sepuluh hari terakhir ini, apa kesalahan yang dibuatnya.


Apa dia sedang mempersiapkan pernikahannya sembari bekerja?


Bisa saja tentang pembukaan cabang anak perusahaan itu hanya dalih untuk menutupi pernikahannya yang kedua?


Kalau itu benar, kenapa dia tidak menceraikan aku saja dulu.


Batin Karina, pikiran buruk menghantuinya setiap hari. Panggilan serta pesan tidak pernah dibalas ataupun diangkat oleh suaminya membuat Karina frustasi.


Bukan pesan sayang atau berlebihan. Karina hanya bertanya kapan pulang, sudah makan belum, kau sedang apa, jangan lupa makan. Hanya hal-hal sepele seperti itu. Seolah suaminya benar-benar sibuk dan tidak sedang menyentuh ponselnya.


Karina sungguh sangat frustasi. Hingga pekerjaannya tidak kelar-kelar sejak tadi. Hingga pintu ruang kerjanya diketuk dari luar membuat Karina buyar lamunannya.


"Masuk!" Titah Karina.


Cklek


"Ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda Bu?"


"Oh, suruh dia masuk saja mbak." Jawab Karina tersenyum pada Ima yang sekarang juga merangkap sebagai sekretarisnya.


"Silakan!" Karina meletakkan pennya dan mendongak siapa yang datang untuk menemuinya.


"Selamat siang nyonya." Sapa pria itu yang usainya di atasnya mungkin yang tidak dikenal Karina hanya mengernyit.


"Oh perkenalkan nama saya Bramantyo. Saya pengacara tuan Reynaldi." Sapa pria bernama Bram itu sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan setelah meletakkan selembar kartu nama di meja kerja Karina dengan senyuman ramahnya.


Deg


Hati Karina merasakan firasat buruk mendengar nama dan pekerjaan pria itu.


"Oh.. Silakan duduk!" Persilakan Karina pada Bram dan mereka pun duduk di sofa di ruang kerja Karina dan karina pun duduk di sofa tunggal dengan elegannya tetap berusaha baik-baik saja.


"Ini... Saya diberi tanggung jawab untuk menyampaikan hal ini sebagai perwakilan dari tuan Reynaldi." Beri tahu Bram menyodorkan sebuah berkas beramplop coklat besar membuat dada Karina terasa sesak dan terdiam membeku sambil menatap berkas itu sendu.


"A-apa ini?" Tanya Karina tak mampu menutupi kegugupannya.


"Ini berkas gugatan perceraian yang telah didaftarkan tuan Reynaldi. Jadi..."


"Ce-cerai?" Lirih Karina tak percaya dengan kenyataan yang ada di hadapannya ini. Bram terdiam tak mengira kalau respon lawan kliennya seperti ini. Dia mengira kalau perceraian itu sudah diketahui oleh kedua belah pihak dan dia hanya memperlancar semuanya dengan mudah tanpa suatu kendala.


"Maaf nyonya? Apa kalian...." Bram tidak melanjutkan ucapannya setelah memberi kode sebuah gerakan tangannya yang malah membuat Karina semakin membisu tak mampu bicara menatap nanar berkas yang sudah diambil dan dibuka isinya.

__ADS_1


Disitu tertera jelas kalau alasan gugatan cerainya adalah faktor ketidak cocokan diantara keduanya. Membuat Karina semakin mencelos hatinya. Pernikahan yang baru seumur jagung harus berakhir begitu saja dengan alasan ketidak cocokan membuat hati Karina sakit melebihi sakitnya saat dia dipaksa putus dari hubungannya dengan Bryan dulu.


"Bisa saya bicara dulu dengan suami saya?" Tanya Karina setelah lama terdiam dan suaranya terdengar sedikit parau meski dia berusaha mengendalikan dirinya untuk tidak menangis.


"Oh tentu saja. saya akan kembali jika sudah ada keputusan diantara kalian berdua."


"Terima kasih."


"Oh ya, saya diminta menyampaikan hal ini dulu katanya sebelum anda ingin bicara dengan klien saya." Karina menerima berkas berikutnya yang berisi harta pembagian gono gini yang ada selama pernikahan.


"Harta gono-gini?"


"Benar nyonya. Disitu disebutkan. Klien saya memberikan sebuah unit penthouse yang ditinggali saat ini untuk anda dan sebuah anak perusahaan yang sedang dibawah kendali orang kepercayaan klien saya yang berada di kota YYY. Juga sejumlah uang dan deposit yang bisa anda gunakan jika berpisah dengan klien." Jelas Bram dengan panjang lebar dan jelas. Karina terdiam shock.


"Harta gono-gini? Harta apa? Pernikahan kami bahkan belum ada satu tahun. Saya menolaknya." Tegas Karina menatap Bram tajam.


"Maaf nyonya, itu sudah keputusan klien dan saya tidak bisa merubahnya. Anda bisa bicarakan hal ini dengan klien saya langsung." Jelas Bram membuat Karina terdiam.


"Karena anda masih membutuhkan waktu untuk bicara saya pamit dulu. Hubungi saya jika semuanya sudah mencapai keputusan! Permisi. Terima kasih sudah meluangkan waktu saya di tengah kesibukannya anda." Sapa Bram sambil pamit meninggalkan ruang kerja Karina yang masih terdiam shock dengan kedatangan pengacara yang menyampaikan berkas gugatan perceraian Rey.


"Apa itu artinya kau sudah bosan padaku?" Guman Karina menatap nanar pada berkas tersebut.


"Apa semua cinta yang kau ucapkan itu adalah bohong?" Guman Karina lagi mulai terdengar isakan tangisnya.


"Sakit Tuhan, apa memang harus seperti ini kisah hidupku." Guman Karina dalam isakan tangisnya sambil memukul pelan dadanya yang terasa semakin sesak saja.


.


.


"Hmm." Jawab Rey acuh sambil terus memilah-milah berkas yang harus segera ditanda tangani.


"Apa anda tidak akan menyesal?"


"Sudahlah Al, biarkan aku bekerja." Jawab Rey acuh mengusir asistennya itu.


Mereka sedang berada di luar pulau di tempat perusahaannya yang sudah berdiri selama tiga tahun ini. Rey bohong dengan alasan pembukaan cabang anak perusahaan yang baru dirintisnya. Tapi mengenai dia sibuk dengan pekerjaannya itu benar adanya. Perusahaan yang terus berkembang selama tiga tahun ini.


"Bukankah anda sangat mencintainya tuan?"


"Pergilah Al, jangan ganggu aku!" Usir Rey tegas menatap tajam pada asistennya yang cerewet itu.


"Kalau anda menyesal nantinya saya tinggal tepuk tangan merayakannya nanti." Sindir Aldi.


"Yak!" Teriak Rey kesal, Aldi langsung pergi meninggalkan ruang kerja bosnya. Rey terdiam menatap nanar pintu ruangannya tempat Aldi keluar tadi.


"Jika bersamanya membuat dia bahagia, mungkin itu lebih baik dia dengannya. Karena denganku dia tak akan pernah bahagia dan pasti lebih terpaksa." Guman Rey mengembuskan nafas kasar.


.


.

__ADS_1


"Bryan." Panggil Ambar melihat putranya datang berkunjung di mansion suaminya.


"Selamat malam mi." Sapa Bryan sambil memeluk maminya.


"Kau datang nak?" Tanya Ambar tersenyum senang.


"Halo Pi." Sapa Bryan ganti pada Arwana dan memeluknya ala lelaki.


"Apa kabarmu nak?" Tanya Arwana basa-basi.


"Baik Pi. Kalian berdua sehat kan?" Tanya Bryan balik.


"Beginilah keadaan kami. Baik-baik saja setelah tidak terlalu mengurus pekerjaan." Jawab Arwana tertawa sambil memeluk pinggang istrinya.


"Kami akan traveling keliling eropa." Jawab Ambar antusias disambut tawa Arwana.


"Pergilah kalian bersenang-senang! Aku akan mengurus perusahaan papi." Jawab Bryan tersenyum tipis, dia pun juga bahagia entah karena apa. Mungkin besok malam dia mau makan malam dengan Karina sesuai janjinya yang ingin mentraktirnya dulu. Setelah sebulan dari kejadian itu, Karina baru menghubunginya untuk menepati janjinya mentraktir makan Bryan.


"Sepertinya kau sedang bahagia juga?" Tanya Ambar melihat Bryan semakin tersipu malu juga.


"Tidak ada apa-apa mi." Elak Bryan.


"Benarkah!" Goda Ambar menatap putranya lekat.


Mereka kini sudah duduk di sofa ruang keluarga menunggu makan malam siap.


"Aku hanya ingin memberi tahu mami sesuatu."


"Oh ya, apa itu?"


"Papa ingin bertemu denganku besok."


Deg


Ambar dan Arwana terdiam saling menatap seolah ingin berbicara dalam tatapan mata.


"Ada apa?"


"Entahlah. Dia mengajakku untuk makan malam di mansionnya." Jawab Bryan tenang tak terbebani sama sekali.


"Kau tidak diminta untuk mengurus perusahaannya kan?" Tanya Ambar mengernyit.


"Entahlah mi, setahuku anak papa semua putri dan putri sulungnya menjadi sekretaris papa. Dan yang bungsu sedang menekuni bidang seni dan tak berniat dengan perusahaan." Jelas Bryan setelah mencari tahu tentang papanya.


"Kalau kau diminta untuk mengurusnya. Bagaimana dengan perusahaan papi?" Tanya Arwana.


"Aku tinggal menggabungkan saja kan?" Jawab Bryan dengan tenangnya dan keduanya terdiam mencerna jawaban Bryan.


"Tapi belum tentu putri sulung papi akan dengan sukarela melepasnya kan?" Lanjut Bryan lagi yang diangguki keduanya.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2