Suami Dan Adik Ipar

Suami Dan Adik Ipar
Bab 73


__ADS_3

"Apa yang kau dapatkan Luc?" Tanya Bastian saat melihat orang kepercayaan muncul di ruang kerjanya.


"Tidak banyak tuan, tapi saya sudah mencari informasi tentang wanita yang bernama Mira." Beri tahu Lucas, dia adalah orang kepercayaan Bastian menyodorkan sebuah berkas pada Bastian yang langsung diterima dengan antusias.


Lucas diam berdiri di tempatnya menunggu Bastian membaca informasi yang didapatnya. Juga foto-foto sebagai bukti tentang pencarian Lucas dilampirkannya.


"Jadi, Mira bukan ibu kandungnya?"


"Benar tuan. Dan nona Karina tinggal di panti asuhan sejak kecil berusia tiga bulan." Jawab Lucas.


"Siapa nama orang tua kandungnya?" Tanya Bastian penuh harap.


"Saya kesulitan mencari informasinya tuan, apalagi tidak banyak yang tahu asal-usul semua anak panti. Ada anak yang memang sengaja ditinggal di depan gerbang atau pintu tak banyak juga anak-anak ditemukan mereka di jalanan yang sudah terlantar." Jelas Lucas penuh penyesalan. Bastian menghembuskan nafas panjang, dia sedikit kecewa mencari tahu asal-usul Karina. Yang wajahnya sangat mirip dengan wanitanya di masa lalu, cinta pertamanya.


"Bisa kau cari lebih detail lagi?" Pinta Bastian penuh permohonan.


"Tentu saja tuan, permintaan anda adalah perintah bagi saya. Apakah saya boleh bertanya pada wanita itu?" Tanya Lucas.


"Kau boleh melakukannya."


"Apa saya juga bisa mengatakan yang sebenarnya tentang anda agar wanita itu berterus terang?" Bastian terdiam sejenak.


Sudah lebih dari dua puluh tahun dia menyerah tidak mencarinya, hanya karena dia tidak mau membuat istrinya terluka dan kecewa. Sekarang setelah istrinya meninggal dia tidak akan menyerah untuk mencari putrinya itu jika memang masih hidup. Bastian tidak berharap istrinya juga masih hidup tapi melihat wajah yang cantik mirip cinta pertamanya itu dia tahu gadis itu.


"Katakan saja semua tidak apa-apa! Hanya saja jika tebakanku benar minta dia untuk merahasiakannya dari gadis itu." Jawab Bastian setelah lama berpikir.


"Kalau begitu saya permisi tuan." Bastian hanya mengangguk.


"Nina, maafkan aku. Jika benar dia putri kita, aku akan menebus kesalahanku selama ini. Maaf." Guman Bastian menelungkupkan wajahnya di meja kerjanya.

__ADS_1


.


.


"Apa lebih baik?" Tanya Rey malam itu menghampiri istrinya yang sedang menyiapkan makan malam.


"Sudah lebih baik." Jawab Karina tersenyum namun lengan kekar suaminya yang melingkar di pinggangnya membuat Karina tersentak kaget dan geli secara bersamaan.


"Aku merindukanmu." Bisik Rey di dekat telinga istrinya lembut.


"Geli mas." Ucap Karina menggeliat geli, apalagi ceruk lehernya dikecupi suaminya intens yang membuat Karina refleks mendesah.


"Tunggulah beberapa hari lagi mas!" Bisik Karina menahan hasratnya.


"Jadi, belum selesai?" Tanya Rey melepas kecupannya.


"Apa aku harus bersolo?" Guman Rey mencoba menenangkan pangkal tubuhnya.


"Ayo makan!" Ajak Karina menarik jemari tangan suaminya lembut yang hanya menurut dengan wajah yang masih cemberut.


"Tidak baik cemberut di hadapan makanan." Nasehat Karina mulai mengambilkan makanan untuk suaminya.


"Apa biasanya juga selama itu?" Tanya Rey masih belum menyerah.


"Tergantung? Kalau kondisi tubuhku baik dan normal mungkin lima sampai enam hari tapi kalau sedang badmood bahkan sepuluh hari pernah.


"Waahhhh... Itu pasti sangat menyiksaku." Ucap Rey dramatis membuat Karina tertawa kecil melihat wajah frustasi suaminya.


"Ayo makan!"

__ADS_1


"Terima kasih sayang, aku akan bersabar." Karina sontak tertawa mendengar kalimat terakhir suaminya.


"Lima tahun saja bisa kenapa hanya beberapa hari tidak bisa." Ucap Rey membuat Karina terdiam. Suaminya memang sudah menyatakan perasaannya yang sebenarnya padanya meski Karina belum bisa sepenuhnya. Hanya saja dia tak percaya suaminya itu ternyata memendam perasaannya begitu lama padanya. Rey menatap istrinya penuh cinta membuat Karina tersipu malu ditatap se intens itu.


"Boleh aku berkunjung ke panti asuhan besok?" Izin Karina setelah mereka selesai makan malam dan duduk di sofa ruang televisi sambil minum coklat panas duduk berdua di sana sambil menonton televisi.


"Jam berapa? Aku akan mengantarmu." Jawab Rey menerima uluran gelas muk berisi kopi untuknya.


"Tidak perlu, aku akan datang kesana dengan sopir." Tolak Karina lembut.


"Tidak, biarkan aku mengantarmu, aku tak mau ibu berpikiran yang tidak-tidak tentang kita lagi dan aku akan berakhir mendapat hukuman dari bapak." Jelas Rey bercanda membuat Karina tertawa kencang membuat Rey terdiam menatap tawa istrinya yang terdengar teduh dan lepas seolah tidak ada beban. Rey sekali lagi terpesona dengan kecantikan istrinya dengan tawanya.


"Maaf mas, pasti kau repot. Bukankah ada meeting pagi besok? Dan kau juga melarangku cuti datang bulan padahal biasanya aku baik-baik saja bekerja meski masa periode ku datang seperti sebelumnya." Omel Karina mengerucutkan bibir membuatnya semakin menggemaskan saja di mata Rey.


"Biar Aldi yang mengurusnya." Jawab Rey enteng menyeruput kopinya.


"Mas, bukannya pertemuan itu dengan tuan Bastian? Dia hanya mau denganmu, tidak mau dengan Aldi kan?" Jelas Karina tahu betul watak tuan Bastian seperti cerita Ima yang pernah bertemu sebelumnya dirinya bekerja disana.


"Oh ya mumpung kau ingatkan. Apa yang dilakukan pria tua itu padamu tempo hari?" Tanya Rey menatap Karina penuh intimidasi.


"Bu-bukan sesuatu... yang penting." Jawab Karina gugup membuang pandangannya ke arah lain karena suaminya terlalu dekat dengannya.


"Jadi... Apa?"


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2