
"Kau lapar?" Tanya Rey melihat piring yang berisi makanan.
"Oh.. Eh iya..." Jawab Karina merasa malu karena kepergok sedang ingin makan.
"Aku temani." Rey mengambil piring juga dan mengambil makanan untuknya dan duduk di samping Karina duduk.
Rey bahkan menuangkan air ke dalam gelas untuk Karina dan dirinya setelah mengambil gelas lagi di tempat Karina kesulitan tadi.
"Besok aku akan meminta maid untuk memindahkan gelasnya agar kau tidak kesulitan lagi." Ucap Rey memecah keheningan malam itu.
"Hmm." Jawab Karina masih menahan rasa malunya dan mulai menyendok makanannya.
"Apa kau tidak nyaman makan denganku?" Tanya Rey melihat Karina hanya makan beberapa suap dan lebih sering mengaduk-aduk makanannya.
"Tidak. Ke-kenapa saya harus merasa tidak nyaman dengan tuan?" Tanya Karina balik menjawab dengan cepat.
"Oh ya, sampai kapan kau akan terus memanggilku begitu? Kita adalah suami istri kan?" Ucap Rey balik bertanya.
"Oh ... Saya tidak mau keceplosan saat memanggil anda nanti di kantor." Jawab Karina beralasan menundukkan kepalanya memilih fokus untuk makan.
"Huff... kita memang perlu saling bicara."
"Bukankah sejak tadi kita bicara? Bahkan setelah pulang kau kembali mengacuhkanku." Rey tersentak mendengar ucapan Karina meski itu sangat lirih dan beralih menatapnya. Dan lagi-lagi tanpa sadar jubah tidur Karina tersingkap dan Karina tidak menyadari kalau dia saat ini terlihat menggemaskan di mata Rey karena mengomel-omel tidak jelas. Dan Karina pun tidak sadar juga suara hatinya diungkapkan begitu saja.
"Maaf, bukannya aku mengacuhkanmu. Hanya saja aku perlu menata hati sebelum bicara denganmu."
__ADS_1
Deg
Karina terkejut sontak menoleh menatap Rey yang merasa kalau Rey mendengar suara hatinya menurut Karina.
"Sa-saya tidak...me-mengerti..mak-maksud anda." Ucap Karina terbata-bata dengan mata melotot terlihat semakin menggemaskan lagi di mata Rey.
Hingga senyum tipis terbit di bibir Rey membuat Karina semakin memelototkan matanya melihat senyum tipis Rey yang langka tersebut membuat Karina hampir saja jatuh pada senyum yang manis itu.
"Kau tahu? Kau terlihat menggemaskan saat mengomel seperti itu." Ucap Rey lembut semakin melebarkan senyumnya membuat rahang Karina terjatuh melihat senyum lebar yang ditampilkan Rey yang juga menatapnya lekat.
"Tu-tuan... apa anda sa-sakit?" Tanya Karina mendadak cemas dengan perubahan ekspresi Rey yang semakin berubah manis tidak datar dan dingin seperti biasanya.
"Aku mencintaimu."
Deg
"Maaf... Maafkan aku mengacuhkanmu beberapa hari ini. Aku bukannya sengaja tapi... tapi aku takut berhadapan denganmu." Karina mengernyit heran dengan pernyataan Rey.
"Huff... Kau tahu kan aku tidak bisa menahan diriku di depanku. Kau terlalu indah saat di depanku. Dan aku sangat menginginkanmu lagi. Dan malam itu saat kau sudah terlelap seperti biasanya dengan gaun tidurmu yang mirip dengan ini." Rey menunjuk pakaian tidur Karina "gaunmu tersingkap dan tak sengaja menunjukkan...ehm.. sebagian pahamu membuatku bergairah." Dehem Rey membuang pandangannya ke arah lain.
"Sehingga paginya aku memilih untuk mengacuhkanmu hanya karena tak mau kehilangan kewarasan dan berbalik menyerangmu lagi secara brutal seperti malam itu." Sontak Karina merapatkan jubah tidurnya membuat Rey tersenyum tipis melihat reaksi Karina yang begitu menghindari sentuhannya.
"Bukan aku mengacuhkanmu tapi aku benar-benar takut tak bisa menahan diri lagi dan takut membuatmu trauma lagi dan aku tak tahu kalau hal itu membuatmu tersinggung. Maaf." Ucap Rey di akhir kalimatnya menundukkan kepalanya.
Seketika bayangan Karina berkelana merasa sesuatu bergerak tegak di pahanya saat Rey tidak sengaja mendekapnya saat mengambil gelas muk tadi. Wajah Karina lagi-lagi memerah.
__ADS_1
"Jadi bukan karena marah pada saya?"
"Tidak. Aku tak bisa marah padamu. Dan... terus terang malam itu adalah yang pertama untukku sehingga entah kenapa hal itu menjadi candu untukku." Ucap Rey malu-malu.
Karina refleks menutup mulutnya terkejut.
"Jadi..." Rey beranjak dari duduknya mendekati Karina yang sedang berdiri menegang tidak bergerak.
"Bolehkah aku meminta hakku?" Bisik Rey di telinga Karina dengan nafas yang mulai memburu, tubuhnya di dekatkan ke paha Karina dan menggeseknya sebentar agar Karina tahu sesuatu di pangkal tubuhnya sedang tidak baik-baik saja.
"I-itu..." Karina ragu dan bibir Rey mulai mengecup perlahan di dahi, kening, mata, hidup dan kedua pipi Karina bergantian menunggu reaksi Karina yang menolak atau menerimanya. Akal sehat Karina ingin menolaknya dan mendorong Rey namun tubuhnya berkata lain malah terlihat menikmati membuat Karina mengumpat karena tak mampu mengendalikan dirinya.
"Ahh.." ******* keluar dari bibir Karina tanpa sadar saat Rey menyesap lehernya membuat Rey tersenyum mendengarnya.
"Bolehkah!" Pinta Rey menatap Karina dengan mata sayu pada keduanya.
Rey langsung menyerang bibir Karina dalam, memagutnya, melum**nya, menyesapnya dengan rakus seolah tidak ada kesempatan lagi di esok hari.
Meski belum mendapatkan balasan ciuman dari Karina, Rey tidak menyerang toh dia sudah mendapatkan izin dan tidak ditolak. Rey semakin agresif menyerang Karina perlahan dan lembut memberikan kenyamanan pada istrinya. Dan perjuangan Rey berhasil, Karina mulai membalasnya ciuman lembut itu hingga dia memejamkan mata.
"Buka matamu! Lihat wajahku! Rekam dalam pikiranmu, bahwa aku hanya milikmu dan mencintaimu." Suara Rey bagai hipnotis untuk Karina hingga dia hanya melihat wajah sayu dan berhasrat dengan cinta yang besar dimata Rey.
Rey memberikan ciuman di bibir semakin intens hingga Karina mulai kualahan menahan nafas dan melepaskan ciuman itu. Rey tidak berhenti disana, dia menyerang leher Karina, menyesapnya, memberikan tanda disana sebagai wujud kepemilikannya. Rey kembali mencium, melum**, dan memagutnya dan membopong tubuh Karina ala koala di depan dadanya membawanya masuk ke dalam kamar mereka di lantai dua.
.
__ADS_1
.
TBC