Suami Dan Adik Ipar

Suami Dan Adik Ipar
Bab 62


__ADS_3

"Kau sudah selesai semua?" Tanya Ima melihat Karina sudah membereskan mejanya.


"Iya mbak, aku ada perlu, jadi izin pulang cepat. Tadi aku sudah bilang pada bos." Ucap Karina.


"Oh.."


"Aku duluan ya mbak."


"Iya, hati-hati."


Karina melangkah menuju lift untuk segera pergi meninggalkan kantor. Sebenarnya dia bohong izin pulang cepat, dia pun juga tidak izin sebenarnya karena jam pulang kantor pukul empat sore kalau tidak ada lembur. Namun pekerjaan Karina yang tidak mendesak memang sudah selesai. Karina butuh ketenangan sebentar untuk memulihkan hatinya entah karena apa.


Bahkan dia tadi tidak jadi makan siang karena tidak berselera. Mood nya memburuk memikirkan sikap suaminya yang tiba-tiba dingin seperti pada karyawannya saja seperti dulu. Karina sedikit peka dengan hal itu karena reaksi penolakan yang sering dialaminya sejak kecil karena asal-usulnya yang tidak jelas sebagai anak panti asuhan.


"Sampai kapan kau akan menghindarinya?" Tanya Aldi setelah makan siang.


"Aku tidak menghindarinya." Jawab Rey acuh mengalihkan pandangannya ke sembarang arah mengelak tentang hal itu.


"Tiga hari kau menghindarinya, bahkan kau bilang tidak bicara apapun seperti sebelumnya. Malah terkesan mengacuhkannya." Ucap Aldi menohok hati Rey.


"Jangan bicara sembarangan!" Protes Rey karena dia memang tidak sepenuhnya seperti itu. Dia memang menghindari Karina tiga hari ini, dia tidak sanggup menatapnya lama-lama takut dia akan nekat.


"Aku berteman denganmu tidak sebentar Rey, meski aku belum mempunyai istri. Aku tahu betul perasaan wanita. Wanita minta diperhatikan dan lagi kau tiba-tiba mengacuhkan dan menghindarinya."


"Sudah kukatakan aku tidak seperti itu!" Protes Rey tegas menatap Aldi tajam.


"Tapi sikapmu melakukan hal itu!" Protes balik Aldi.


"Kau yang terlalu banyak berpikir, kami baik-baik saja. Yah... meski hanya seperti main rumah-rumahan saja." Keluh Rey tanpa sadar.


"Huff... terserahmu, yang penting aku sudah mengingatkan, jangan sampai menyesal." Aldi pun keluar dari ruang kerja Rey setelah pembahasan meeting selesai.


Dia melihat Karina dan Ima sudah ada disana itu berarti mereka sudah selesai makan siang. Aldi melirik sebentar ke arah Karina yang sibuk menatap laptopnya membuat Aldi menghembuskan nafas panjang. Ima hanya mengernyit tak mengerti dan Aldi pun pergi menuju ruang kerjanya sendiri.

__ADS_1


.


.


Karina sampai di tempat tujuannya. Dia pun berjalan masuk ke dalam gedung yang sudah mulai rapuh dimakan usia itu. Karina menghembuskan nafas kasar merasa bersalah karena menempatkan adik-adiknya di dalam gedung yang bisa saja ambruk sewaktu-waktu.


"Saya permisi, banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan." Suara seseorang yang hendak keluar dari dalam gedung panti dengan pakaian jas formalnya menunduk sopan pada pria paruh baya dan ibu panti.


"Terima kasih sudah mengunjungi kami. Semoga dilancarkan rejekinya." Ucap pak Hartono selaku suami ibu panti asuhan.


"Karin?" Panggil Bu panti melihat Karina hanya berdiri di bawah pohon memandangi tubuh pria yang dikenalinya itu. Pemuda itu menoleh ke arah ibu panti menyebut nama Karina.


"Apa kabar bu?" Sapa Karina tersenyum melihat ibu panti begitu antusias menyapanya. Karina pun sama tersenyum dan menyalaminya dan suaminya. Matanya tidak sengaja berpapasan dengan mata pemuda yang sudah menatapnya intens sejak tadi.


"Oh ya, nak Bryan baru saja berkunjung." Beri tahu bu Mira tersenyum menunjuk Bryan yang hanya diam menatap Karina lekat. Karina tak berani menatap wajah Bryan, dia sibuk mengalihkan pandangannya sambil menenteng barang bawaannya untuk adik-adiknya.


"Oh... Apa kabar?" Tanya Karina basa-basi tanpa menatap wajah Bryan.


"Baik." Jawab Bryan masih dengan tenang menatap wajah Karina. Bu Mira yang peka langsung mengajak Karina masuk.


"Oh, dia sibuk. Nanti dia akan menjemputku." Jawab Karina merasa tidak nyaman karena Bryan ada disana.


"Oh begitu. Masuklah ke dalam, adik-adikmu pasti senang dengan kedatanganmu." Ajak Mira untuk masuk ke dalam karena suasana mulai arkward. Bryan yang berencana tadi akan pulang memilih untuk menurunkan niatnya pergi dan mengikuti Karina masuk.


.


.


"Kau bahagia?" Tanya Bryan saat keduanya duduk berdua di gazebo samping gedung.


Awalnya Karina sedang bermain dengan adik-adiknya, karena sudah waktunya mandi mereka pun berpamitan satu persatu. Karina terdiam membeku karena kini dia hanya berdua saja dengan Bryan. Degup jantungnya berdebar kencang karena bagaimanapun juga Bryan masih sebagai pria satu-satunya yang merajai hatinya.


"Begitulah." Jawab Karina ambigu tersenyum menatap ke arah depan tak mau menoleh karena tatapan mata Bryan menyorot tajam padanya yang duduk di sisinya.

__ADS_1


"Syukurlah." Jawab Bryan menghembuskan nafas panjang merasa nyeri di dadanya. Meski dia tahu bahwa Karina berbohong.


"Kau mencintainya?" Tanya Bryan lagi mulai menginterogasi.


"Huff... Bry... Bisakah kita lupakan masa lalu kita?"


Deg


Jantung Bryan tak baik-baik saja mendengar perkataan Karina yang kini sedang menatap ke arahnya meski dia merasa enggan karena tak mau hatinya goyah. Dia sudah berjanji untuk belajar mencintai suaminya yang sekarang marah padanya... mungkin.


"Kau kira semudah itu?" Tanya Bryan menatap sendu wajah wanita yang dicintainya itu.


"Mungkin awalnya tidak mudah tapi jika kau mencobanya... mungkin..."


"Apa karena dia kaya? Apa karena dia lebih baik segalanya dariku? Apa yang kau lihat padanya sehingga tak ada padaku dan membuatmu memilihnya? Kau tidak merayunya kan?"


Plak


Refleks jemari tangan Karina melayang di pipi Bryan sekuat tenaga. Kata-kata terakhir Bryan begitu terdengar bahwa dia begitu rendah. Meski dia miskin yang berasal dari panti asuhan, dia masih memiliki harga diri untuk merayu seorang pria kaya. Dulu dia tidak tahu siapa orang tua Bryan, meski dia miskin atau kaya, Karina tak peduli karena kaya miskin ditentukan oleh mereka nantinya saat berumah tangga.


Kalau saja Karina tahu siapa orang tua Bryan, mungkin sejak awal dia akan menolak menjalin hubungan dengan Bryan. Atau sebenarnya dia yang bodoh mengira Bryan adalah pemuda polos bukan dari kalangan menengah ke atas. Seharusnya dia tahu pakaian Bryan bukanlah merk sembarangan, semuanya branded. Dulu karena begitu mencintainya dan tulusnya dia yang selalu datang ke panti asuhan untuk memberikan sedikit rejekinya untuk adik-adiknya membuat terharu dan menerima cintanya.


"Aku harus pulang."


Grep


"Katakan Karin! Apa karena dia lebih kaya? Kau ingin harta? Aku bisa memberikan lebih kalau ternyata itu bisa membuatmu menikah denganku. Aku tak peduli tentang restu ibuku, aku pasti akan memperjuangkanmu dulu." Ucap Bryan mencekal pergelangan tangan Karina yang sontak berbalik menatap tangannya dan beralih menatap Bryan tajam karena cekalan tangannya menyakitinya, terlihat wajah Karina yang meringis.


"Lepaskan Bry!" Lirih Karina sambil memberontak melepaskan cekalan tangannya itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya memohon untuk dilepaskan.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2