
Seminggu sudah Karina istirahat di rumah tanpa melakukan apapun. Bahkan dia juga tidak diizinkan untuk masuk ke kantor dengan alasan masih membutuhkan istirahat yang cukup. Dalam seminggu itu juga dia tidak bertemu dengan suaminya juga. Bahkan telepon ataupun pesan tidak ada. Waktu kontrolnya beberapa hari yang lalu pun, Aldi yang mengantarkannya. Dan Karina bukan wanita se kepo itu untuk mencari tahu tentang suaminya. Dia tidak mau membuka aib rumah tangganya tentang yang sedang terjadi.
Hingga pagi itu, kiriman foto di ponselnya membuat Karina terkejut dan shock. Foto suaminya sedang telanjang memperlihatkan dada bidangnya yang hanya berbalut selimut tidur bersebelahan dengan wanita yang dikenalinya yaitu Jessica. Membuat Karina terdiam membeku di tempatnya duduk di sofa.
Ingin Karina percaya namun dia ingin mendengar penjelasan langsung dari suaminya. Namun mendengar kalimat yang mengikuti foto itu membuat Karina merasa inscure.
Kau tahu kan siapa yang berhak mendampingi Reynaldi? Jessica Ana Hudson bukan wanita yang tidak jelas asal-usulnya.
Dada Karina terasa sesak membaca kalimat tersebut membuat dada Karina bergemuruh antara cemburu dan sakit. Namun mendengar nama panjang Hudson adalah keluarga terkaya ketiga di Beland* membuat Karina berpikir jernih. Dan mungkin dengan keberadaan dirinya di sisi suaminya yang notabene adalah keluarga terkaya di Beland* membuat Karina tersisih.
Dia benar, kami tidak selevel. Sudah seharusnya wanita seperti dia yang pantas berada di sisinya. Makan cinta saja tidak serta merta membuatku naik derajat.
Tapi, bukankah seharusnya dia memberikan penjelasan terlebih dulu?
Karina mengusap air matanya yang sudah menetes di pipinya. Dan itu tidak cukup sekali dua kali. Dan entah sejak kapan tubuhnya mulai bergetar dan isak tangis mulai terdengar. Karina menutup wajahnya memilih untuk menumpahkan tangisnya. Untung saja tadi bibi maid minta izin untuk belanja keperluan rumah tangga ke supermarket karena bahan makanan sudah habis. Dan kini dia sendiri di apartemennya.
.
.
Rey membuka matanya perlahan merasakan kepalanya berdenyut efek dari mabuknya semalam. Setelah menghadiri pesta perusahaan rekan bisnisnya. Rey merasa kepalanya pusing karena minum wine yang ditawarkan pemilik pesta dan tentu saja Rey tidak bisa menolaknya demi menghormati koleganya.
Hingga tidak tahu sudah gelas ke berapa dia minum. Bernard sudah mengingatkan untuk tidak terlalu mabuk karena dia tidak bisa menjaganya karena masih harus mengurus beberapa hal. Dan Aldi sedang tidak ada di sisinya mendampinginya karena memberikan tanggung jawab untuk menjaga istrinya.
Setelah wejangan tentang rumah tangga waktu itu, Rey memutuskan untuk kembali ke tanah air lusa. Namun undangan pesta ulang tahun perusahaan koleganya membuatnya membatalkan niatnya karena dia berteman baik dengannya dan Rey tak bisa menolaknya. Hingga akhirnya menunda kepulangannya setelah menghadiri pesta tersebut.
Mata Rey melotot terkejut melihat seseorang juga terbaring di sisinya dengan tubuh polosnya dan bisa ditebak kalau orang itu adalah wanita melihat rambut panjangnya yang tergerai di bantal memunggunginya.
"Sial." Guman Rey juga melihat tubuhnya di balik selimut tanpa sehelai benangpun.
"Tidak. Tidak mungkin. Ini tidak mungkin terjadi." Guman Rey tak percaya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Rey tidak semudah itu tidur dengan orang lain. Miliknya...adik kecilnya tidak bisa bangun sembarangan pada siapapun. Kalau saja waktu itu dia tidak meminum obat perangsang pasti dia tidak bisa meniduri siapapun jika bukan Karina.
"Rey." Panggil wanita itu dengan nada suara serak khas bangun tidur.
__ADS_1
"Jessica!"
"Hmm. Kau hebat sekali semalam." Puji Jessica membuka matanya lebih lebar dan mulai mendekati tubuh Rey. Namun Rey segera turun dari ranjang mencari pakaiannya yang sudah berserakan di lantai. Otaknya mulai mengingat-ingat yang terjadi semalam.
"Kau mau kemana? Padahal aku ingin lagi." Rayu Jessica tersenyum menatap Rey senang.
"Apa yang terjadi semalam?" Tanya Rey menatap Jessica tajam.
"Apalagi? Bukankah kau juga merasakannya? Bagaimana? Lebih baik mana? Saat bersamaku atau... saat bersama istrimu?" Goda Jessica dengan nada sensual membuat Rey jijik dan bergidik ngeri melihat wajah Jessica dan segera meninggalkan kamar hotel tersebut.
"Brengsek!" Umpat Rey meremas rambutnya karena tidak bisa mengingat kejadian semalam.
"Rey sayang, kau harus bertanggung jawab!" Seru Jessica melihat Rey pergi dengan tergesa-gesa membuat senyum seringai tipis di bibirnya.
"Aku akan mendapatkanmu sayang." Guman Jessica turun dari ranjang menatap tubuh polosnya yang penuh dengan tanda kemerahan akibat percintaan semalam. Tubuhnya yang bak gitar spanyol membuatnya bangga dan merasa percaya diri.
"Jangan panggil aku Jessica jika tidak bisa mendapatkanmu Rey? Kau milikku, selamanya menjadi milikku!" Guman Jessica dengan seringai misterius di bibirnya.
.
.
"Saya sudah baik-baik saja tuan Aldi." Jawab Karina santai sambil melirik meja kerja Ima yang masih kosong karena dia tadi memang datang lebih pagi dari sebelumnya.
"Tapi tuan tidak mengizinkan anda bekerja sebelum tuan pulang nyonya?" Pinta Aldi cemas dan panik. Karena bosnya sudah memperingatkannya berkali-kali. Karina hanya menghela nafas panjang, dia diam saja tak menggubris larangan Aldi dan masuk ke dalam ruang kerja Rey yang merangkap dengan mejanya.
"Nyonya."
"Aku bosan Al, aku akan stres jika tidak segera bekerja?" Ucap Karina setelah duduk di kursi kerjanya.
"Anda baru saja sembuh dan dokter bilang anda juga harus banyak istirahat agar segera pulih." Ngeyel Aldi. Sebenarnya bukan itu, dia tak mau diomeli bosnya yang terus menerus menyalahkannya nanti berulang-ulang disebutkan. Tapi nyonya bos sepertinya lebih keras kepala dari si bos.
"Al, kumohon!" Pinta Karina dengan mata berkaca-kaca menatap Aldi.
__ADS_1
"Itu sudah empat hari lalu saat kontrol. Dan sekarang sudah baik-baik saja. Lihatlah! Bahkan luka di kepalaku sudah mulai mengering. Aku bosan, aku stres sendiri di sana." Keluh Karina menatap memelas wajah Aldi membuat Aldi juga tak tega. Dan sendiri, ya tentu saja sendiri. Bosnya masih belum kembali setelah melarikan diri waktu itu.
"Oke. Oke." Karina langsung tersenyum lebar melihat jawaban Aldi.
"Terima kasih." Jawab Karina antusias tersenyum sambil memegang tangan Aldi yang langsung dilepaskan karena dia tahu secemburu apa bosnya tentang istrinya.
"Jangan terlalu capek! Secukupnya saja!" Jawab Aldi terpaksa membuat Karina menganggukkan kepalanya antusias.
"Tapi jika anda sudah tidak mampu, saya mohon berhentilah!"
"Tentu saja."
"Bos pasti akan mengomel sepanjang hari." Gerutu Aldi meninggalkan Karina dengan pekerjaannya. Aldi kembali ke ruang kerjanya sebelum akhirnya berhenti di meja Ima yang baru saja sampai.
"Ya tuan?" Tanya Ima melihat Ima yang sudah mulai membuka laptopnya melihat Aldi yang berdiri diam menatapnya dengan tatapan mata lelah, padahal ini masih pagi.
"Kau awasi nyonya bos! Jangan sampai kecapean! Ingatkan waktu makan siang dan minum obatnya! Aku tak mau bos menyalahkanku karena tidak melarangnya!" Ucap Aldi membuat Ima terkejut.
"Nyonya bos sudah sembuh?"
"Entahlah! Harusnya sudah. Tapi kau tahu sendiri kan bagaimana bos kita?"
"Ah, anda benar. Jadi kumohon lakukan apa yang kukatakan tadi?"
"Baik tuan." Aldi pun pergi menuju ruang kerjanya. Banyak hal yang harus diurus setelah bosnya pergi. Dan hanya dia yang harus melakukannya. Dan sekarang nyonya bos memaksa bekerja padahal baru beberapa hari lalu dia kontrol dari rumah sakit yang menyarankan untuk banyak istirahat.
Tapi jika saja bosnya ada disini, nyonya bos pun tetap akan bekerja, Aldi yakin akan hal itu. Dia sudah hafal betul watak Karina yang tidak bisa menganggur sebentar saja. Dia hanya akan memastikan kalau nyonya bos tidak terlalu capek dan makan tepat waktu serta minum obatnya.
Ima berdiri dan mengetuk pintu ruang kerja bosnya sambil membawa teh camomile untuk membuat nyonya bosnya rileks. Dia baru tahu kalau Karina adalah istri bosnya saat si bos menggendong panik Karina saat kepalanya berlumuran darah waktu itu. Ima awalnya tidak tahu kalau sudah menikah. Dia hanya mengira kalau mereka mempunyai hubungan, kekasih mungkin. Namun pemberi tahuan Aldi membuat Ima terkejut saat mengatakan mereka adalah suami istri yang baru saja menikah.
.
.
__ADS_1
TBC