
"Selamat datang tuan." Sapa Reina tersenyum penuh semangat sambil menyalami Rey yang sudah datang di tempat mereka janji bertemu. Di sebuah restoran mewah di ruang privasi yang sengaja dipesan Reina untuk bertemu.
Rey menatap datar dan dingin jemari tangan yang terulur di depannya. Namun entah dia sadar atau tidak dia pun mengulurkan jemari tangannya juga untuk disalami Rey.
Reina terlihat tersenyum lebar, baru kali ini uluran tangannya untuk berjabat tangan diterima oleh Rey.
"Bagaimana kabar anda pagi ini?" Tanya Reina basa-basi dengan senyum lebarnya.
"Hmm." Jawab Rey acuh sambil duduk di kursi, Aldi yang mengikutinya sejak tadi ikut duduk di sisi bosnya sambil meletakkan beberapa berkas laporan proyek mereka.
Reina menatap Aldi tak tersenyum penuh arti karena dia sedikit merasa senang karena pria pujaan hatinya tidak datang dengan sekretaris wanitanya saat itu.
"Aku ke toilet sebentar." Pamit Rey yang diangguki Reina juga Aldi. Rey berdiri dari tempat duduknya meninggalkan ruang privasi tersebut.
Melihat Reina yang muncul dalam kerja sama tersebut membuat Rey sama sekali tidak bersemangat. Oleh sebab itu Rey langsung pamit dengan alasan ke toilet dan akan menyerahkan urusan kerja sama tersebut pada Aldi.
Ting
Suara pesan di ponsel Aldi berbunyi, Aldi segera membukanya dan langsung menghembuskan nafas panjang menatap isi pesan dari bosnya.
"Bisa kita mulai sekarang?" Tawar Aldi menatap Reina yang kebingungan sambil menatap pintu masuk ruang privasi restoran tersebut.
"Apa kita tidak menunggu bos anda dulu?" Tanya Reina berharap Rey segera kembali.
"Maaf sebelumnya. Bos saya baru saja mengirim pesan kalau ada urusan yang mendesak. Jadi, saya yang akan mewakili pertemuan kali ini." Jelas Aldi santai meski dia tahu kalau wanita di hadapannya ini tidak terima karena Rey tiba-tiba meninggalkan janji temu mereka padahal belum saja dimulai seolah dia menghindari Reina.
"Oh begitukah?" Jawab Reina terlihat kecewa dan tak bersemangat lagi. Sangat mudah ditebak oleh Aldi namun dia berusaha acuh dan tak menghiraukan.
Dia pria beristri, jangan menyukainya.
Batin Aldi menggerutu dalam hati. Hingga akhirnya mereka pun mulai membahas kelanjutan kerja sama mereka meski Reina tetap profesional dalam rasa geram di hatinya merasa diacuhkan oleh Reynald.
.
.
"Syukurlah, keadaan anda sudah sembuh total setelah hasil cek hari ini." Jelas dokter yang menangani Karina saat kecelakaan pukulan yang diberikan Bryan beberapa waktu lalu.
"Terima kasih dokter. Apa saya masih harus kembali lagi untuk kontrol?" Tanya Karina.
"Tidak perlu. Kecuali kalau anda mengalami gejala pusing, mual atau tidak enak badan berhubungan dengan kepala belakang anda, anda bisa kembali untuk periksa." Jelas dokter lagi.
"Untuk obatnya dok?"
"Untuk hari ini saya hanya akan memberikan resep vitamin untuk penambah stamina anda." Jawab dokter itu sambil tersenyum ramah.
"Terima kasih dok. Kalau begitu saya permisi."
__ADS_1
"Silakan." Karina menerima resep dokter dan segera menuju apotek untuk menebus resep itu.
"Apa kata dokter?" Karina tersentak kaget mendengar suara yang tiba-tiba muncul menghampirinya saat dia sedang menunggu antrian obatnya.
"Bryan?"
"Hai." Sapa Bryan basa-basi.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Karina menatap sekeliling Bryan tidak ada siapapun yang dikenalnya.
"Tentu saja menemuimu. Aku sudah mengatakan akan bertanggung jawab sampai kau sembuh. Bagaimana pun juga kecelakaan itu terjadi karena aku." Jelas Bryan tersenyum menatap Karina penuh cinta membuat Karina terdiam merasa bersalah melihat perasaan dan perhatian Bryan yang masih sama seperti dulu.
"Aku sudah lebih baik. Dokter mengatakan aku sudah sembuh total. Beliau hanya memberikan vitamin penambah stamina saja." Jelas Karina agar membuat Bryan merasa lebih baik dari perasaan bersalahnya.
"Syukurlah, tidak ada yang serius. Sekali lagi aku minta maaf." Ucap Bryan tulus.
"Tidak perlu. Toh itu hanya kecelakaan, aku yang salah tiba-tiba masuk dan tidak sengaja terkena." Jawab Karina tersenyum tipis.
"Kau sendiri kesini?" Tanya Bryan tak melihat siapapun di sisi Karina. Awalnya Bryan mengira mungkin kakak tirinya sedang bertemu dokter tapi sudah lama Bryan melihat Karina di apotek tapi tak ada tanda-tanda Rey muncul atau asisten pribadinya.
"Oh, suamiku sedang ada meeting penting, jadi dia tidak bisa menemaniku." Bohong karina mengalihkan pandangannya ke arah lain dan Bryan menatap sendu kebohongan Karina. Bersama selama hampir lima tahun Bryan sangat mengenali kebiasaan Karina saat berbohong seperti itu dan jujur
Apa dia mulai mengacuhkanmu? Batin Bryan menghela nafas dan mengalihkan pandangannya tak mau membuat Karina terlihat diacuhkan suaminya.
Bryan pun berinisiatif untuk duduk di bangku sebelah Karina duduk tadi.
"Sini! Biar aku temani!" Tawar Bryan menepuk bangku di sebelahnya dengan tenangnya.
"Sebentar saja, kumohon!" Sela Bryan dengan tatapan penuh permohonan. Karina terdiam menatap Bryan datar meski dadanya sesak penuh rasa bersalah.
"Kau pasti sibuk?" Jawab Karina masih menolak dengan halus.
"Tidak masalah, hanya sebentar." Jawab Bryan menatap ke arah depan setelah memastikan Karina duduk di bangku meski berjarak hampir satu meter.
"Terima kasih."
"Tidak masalah. Aku yang salah. Aku akan semakin merasa bersalah jika tidak memastikan kalau dirimu baik-baik saja setelah kesalahanku." Jawab Bryan dengan senyum penuh ketenangan.
"Apa masih lama?" Tegur sebuah suara yang terdengar dingin hingga yang mendengar merinding jika tidak mengenal suara siapa tersebut.
"Mas, kau datang?" Tanya Karina tersenyum ceria langsung berdiri dan bergelayut mesra seolah mereka pasangan bahagia. Bryan terdiam hanya menatap gelayutan lengan Karina yang hanya sandiwara mereka.
"Kakak, syukurlah kau sudah datang." Jawab Bryan dengan senyum seperti biasanya.
"Terima kasih sudah menemani istriku. Sekarang kau bisa pergi karena aku sudah ada di sini." Ucap Rey sarkas menatap Bryan tajam.
"Oh sebentar lagi. Aku ingin bertanggung jawab sepenuhnya dan memastikan kalau seseorang yang celaka karena ku sudah baik-baik saja." Jawab Bryan tidak terpancing emosi Rey.
__ADS_1
"Akan lebih baik jika kau tidak pernah muncul lagi." Jawab Rey dingin. Bryan tersenyum, beralih menatap Karina yang menatapnya dengan senyum yang terlihat terpaksa tidak sampai ke mata dan Bryan bisa menebak kecanggungan diantara mereka. Apalagi sekarang Rey merengkuh pinggang istrinya dengan erat membuat Karina sedikit berjengit kaget meski dia bisa mengendalikannya.
"Baiklah. Semoga cepat sembuh. Sekali lagi aku minta maaf. Semua karena kesalahanku." Ucap Bryan menatap Karina dan hanya diangguki oleh Karina tanpa berminat bicara karena entah sadar atau tidak pinggangnya diremat sedikit keras oleh Rey saat mendengar ucapan lembut Bryan padanya.
"Nyonya Karina!" Panggil seorang petugas apotek menandakan bahwa resepnya sudah selesai diracik.
"Iya." Seru Karina menjawabnya dengan semangat dan bernafas lega karena terlepas dari cengkeraman tangan suaminya.
"Kuharap kita tidak bertemu lagi." Ucapan sarkas nan ketus Rey membuat langkah Bryan berhenti dan menoleh menatap kakak tirinya. Saat hendak menjawabnya Karina pun datang hingga mengurungkan niatnya untuk menjawab ucapan sarkas kakaknya. Hanya tersenyum pamit dengan Karina dengan lemah lembut.
.
.
"Kenapa tidak bilang?" Tanya Rey saat mereka dalam perjalanan di dalam mobil.
"Kukira Aldi sudah memberi tahumu dan ternyata kau sedang meeting. Ya sudah aku berangkat sendiri." Jawab Karina dengan tenang tanpa mengalihkan pandangannya ke arah suaminya masih menatap ke luar jendela kaca mobil.
"****." Umpat Rey pelan namun Karina dapat mendengarnya meski samar namun dia tidak begitu menghiraukannya meski hatinya berdenyut sakit.
"Maaf." Bisik Rey yang membuat Karina terdiam berganti menatap ke arah depan tak menatap suaminya sama sekali. Entah kenapa setiap menatap suaminya, foto telanjang itu terus terbayang di benak Karina sehingga dia memilih untuk tidak menatapnya dari pada dia goyah nantinya.
"Tidak masalah, kau kan sedang sibuk. Lagi pula dokter mengatakan aku sudah sembuh dan baik-baik saja." Jelas Karina menghela nafas.
"Sebenarnya..."
"Boleh aku hari ini izin tidak bekerja?" Karina segera mengalihkan percakapannya memaksakan senyumnya yang tidak sampai ke mata.
"Ya, istirahat saja."
"Aku ingin mengunjungi panti asuhan. Aku merindukan adik-adik dan ibu panti." Jelas Karina sebelum Rey melarangnya.
"Aku akan mengantarmu."
"Boleh menginap juga? Aku sudah lama tidak menginap, besok pagi-pagi sekali aku akan kembali."
"Tentu saja. Aku akan menjemputmu besok pagi."
"Terima kasih."
"Karina!"
"Ya?" Jawab Karina tanpa menatap suaminya.
"Tatap aku!" Pinta Rey hendak meraih lengan istrinya namun panggilan ponsel menginterupsi mereka. Keduanya menatap ponsel Rey yang terus berdering membuat keduanya urung untuk melanjutkan percakapannya.
.
__ADS_1
.
TBC