
Karina membuang pandangannya ke arah jendela tidak sengaja ikut membaca nama yang tertera di layar ponsel suaminya menunjukkan nama Jessica yang muncul disana.
Rey salah tingkah dan merasa bersalah melihat reaksi Karina yang juga tidak sengaja melihat ke arah layar ponsel tersebut. Rey segera meriject nya dan kembali menyentuh lengan istrinya yang refleks langsung ditepis Karina karena merasa kaget.
Keduanya saling menatap dalam diam, bibir Karina kembali mengatup saat bayang-bayang foto itu terlintas membuat Karina merasa enggan untuk bicara.
"Aku akan naik taksi saja. Mas bisa..."
"Duduk!" Seru Rey tak sengaja bicara nada tinggi membuat Karina tersentak kaget.
"Ma-maaf... A-aku..."
"Lebih baik mas jawab dulu, mungkin itu penting." Ucap Karina lembut melirik ponsel suaminya yang lagi-lagi berdering dengan nama yang sama yang menghubunginya.
"Itu tidak penting." Elak Rey bersamaan dengan itu ponselnya berhenti berdering dan Rey segera mematikan saya ponselnya. Dan semua itu tidak lepas dari perhatian Karina.
"Aku bisa jelaskan, ini tidak seperti yang kau pikirkan?" Ucap Rey cepat tak mau istrinya berpikiran buruk.
"Memang apa yang aku pikirkan?" Rey terdiam menatap wajah istrinya yang terlihat sendu namun masih terlihat cantik itu.
"Kami sudah selesai. Dan tidak ada hubungan apapun diantara kami."
Tapi masih sering tidur bersama.
Lanjut Karina dalam hatinya terpaksa menatap suaminya lekat mencoba menghiraukan bayangan keduanya sedang bercumbu mesra berbagi ranjang berdua.
"Dia memaksa untuk bertemu dan aku menolaknya." Jelas Rey bingung karena istrinya terlihat acuh saat dia menjelaskannya. Seolah istrinya tidak begitu terganggu dengan hubungan mereka.
"Mas temui saja, jika kalian memang sudah berakhir. Aku yakin tidak akan ada yang terjadi apa-apa pada kalian meski hanya berduaan." Ucapan Karina begitu menohok dan menyindir tepat di hati Rey yang sekarang terdiam karena istrinya mempercayai dirinya.
"Kau percaya padaku kan?"
"Tergantung?"
"Apa maksudmu?"
"Kata orang jodoh itu cerminan diri kita sendiri." Jawab Karina membuang pandangannya ke arah depan, mobil sudah berhenti sebentar di pinggir jalan saat tadi Rey meraih lengan Karina.
"Temuilah dia, mungkin ada sesuatu yang harus kalian bicarakan!" Karina hendak keluar dari dalam mobil namun ditahan oleh Rey.
"Sudah kukatakan, tidak ada hubungan apapun diantara kami." Elak Rey menatap frustasi. Karina diam menatap Rey yang terlihat putus asa. Bahkan sebelumnya Karina tidak pernah melihat wajah Rey yang seperti itu.
Rey mengusak rambutnya kasar, menelungkupkan wajahnya di setir mobil, menghembuskan nafas kasar berkali-kali. Emosi naik ingin sekali memukul apapun. Namun dia berusaha mengendalikannya karena sedang di hadapan Karina. Dia tak mau kelepasan bicara kasar pada istrinya.
Karina merasa kasihan dan hendak menyentuh pundak Rey namun dia kembali menariknya dan memilih untuk diam.
__ADS_1
"Aku akan mengantarmu." Ucap Rey kemudian, mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju panti asuhan tempat tujuan Karina.
.
.
Ting tong
Cklek
"Reynald!" Seru Jessica sumringah melihat Rey benar-benar datang ke kamar hotel tempatnya menginap. Dia langsung memeluk tubuh Rey namun Rey langsung bergeser menolak pelukan Jessica.
"Kita perlu bicara." Ucap Rey masuk ke dalam kamar hotel. Jessica hanya cemberut kesal melihat penolakan Rey.
"Tentu saja. Duduklah!" Rey diam menunjukkan wajah datar dan dinginnya kemudian mengiyakan ajakan Jessica duduk di sofa kamar hotel tersebut. Jessica tersenyum, dia pun segera mengambil minuman untuk Rey dan meletakkan di meja depan Rey duduk. Dan Jessica duduk di sebelah sofa tunggal yang diduduki Rey.
"Lupakan yang terjadi malam itu!" Titah Rey terdengar kejam menatap Jessica tajam meski masih dengan rasa tenang.
"Tidak. Itu adalah malam pertama kita setelah sekian lama kau selalu menolakku." Jawab Jessica cepat mendekati sofa tempat Rey duduk.
"Minggir!" Usir Rey dingin menatap tajam Jessica yang hendak duduk di lengan sofa tempat duduknya.
"Aku kan merindukanmu? Bagaimana kalau..."
"Aku tidak akan menghiraukanmu lagi jika kau tidak segera enyah." Potong Rey tajam membuat nyali Jessica menciut memilih menurut.
"Jangan bermimpi! Aku mencintai istriku hanya istriku. Jadi, jangan berharap apapun. Toh, malam itu bukan yang pertama untukmu. Aku tak tahu sudah berapa banyak pria yang masuk ke lubangmu." Hina Rey menatap tajam Jessica yang terlihat marah, tangannya mengepal erat karena yang dikatakan Rey adalah benar.
"Tapi tetap saja itu pertama kalinya aku tidak memakai pengaman dan kau pun sama. Bagaimana jika benihmu tumbuh disini?" Jawab Jessica meredam amarahnya sambil mengelus perut ratanya.
Rey terdiam menatap Jessica tajam namun dengan segera dia mampu mengendalikannya.
"Bahkan aku tak yakin itu adalah benihku jika nanti ada." Rey mulai malas dan berdiri dari tempat duduknya, merapikan jasnya yang tidak kusut kembali menatap Jessica tajam penuh intimidasi.
"Aku sudah mengatakan hal ini secara baik-baik denganmu. Jangan membuatku nekat!" Ucap Rey terdengar seperti ancaman.
"Bagaimana kalau aku mengirimkan foto kita pada istrimu?" Ucapan Jessica menghentikan langkahnya saat dirinya hendak membuka hendel pintu. Dan Rey mencengkeram erat hendelnya.
"Itu malah menguntungkanku untuk membuangmu dengan tidak ragu." Sindiran telak Rey membuat amarah Jessica membuncah, berulang kali dia ditolak berulang kali dia tidak dilihat. Bahkan satu-satunya alasan untuk mendapatkan Rey tetap saja gagal. Terlihat istri Rey tidak bereaksi apapun tentang foto yang dikirimnya seolah tidak masalah yang terjadi pada suaminya.
"Kau brengsek Rey!" Umpat Jessica tapi pintu depan kamar hotel Jessica sudah tertutup rapat.
Rey menghela nafas panjang, mendengar ucapan Jessica tadi. Dia mengumpat kesal mendengar ucapan Jessica tadi. Rey bukan tidak cemas atas ancaman Jessica tadi, tentu saja dia sangat cemas. Pantas saja istrinya bersikap berbeda saat dirinya pulang kemarin. Namun Rey tidak paham hal itu.
"Aku harus melakukan sesuatu." Guman Rey melangkah masuk ke dalam lift dan meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang.
__ADS_1
"Kau masih meretasnya kan?" Tanya Rey saat panggilan mereka terhubung.
"..."
"Bagus. Kau retas lagi, pada siapa saja dia mengirim sebuah kiriman foto atau video!" Titah Rey memaksa.
"..."
"Hubungi aku jika sudah ada kabar terbaru!" Ucap Rey mengakhiri panggilannya. Jemari tangannya mengepal erat marah dengan ancaman Jessica.
"Kau memang harus dibereskan." Guman Rey tersenyum menyeringai.
.
.
"Karina?" Suara seseorang menginterupsi langkah Karina yang tidak bersemangat hari ini.
"Tuan Bastian!" Ucap Karina menundukkan kepalanya menghormati Bastian yang ternyata hari itu sedang berkunjung di panti asuhan.
"Apa kabarmu?" Tanya Bastian tersenyum sumringah tidak mengira kalau akan bertemu putrinya yang telah lama menghilang.
"Saya baik tuan, bagaimana kabar anda juga?" Tanya Karina balik.
"Saya tidak cukup baik. Saya merindukan seseorang." Jawab Bastian bercanda membuat Karina tertegun.
"Ah, tepatnya aku sedang tidak sabar menunggu jawabanmu." Jawab Bastian tersenyum sumringah. Karina hanya diam mendengar sindiran Bastian tentang jawaban dari pikirannya setelah meminta waktu untuk berpikir.
"Saya tidak mau mengganggu keluarga bahagia anda." Jawaban Karina yang terdengar sindiran itu menohok hati Bastian.
Wajahnya langsung pias merasa tersindir. Dia memang bahagia selama ini meski istrinya sudah meninggal dan dia hidup bahagia dengan kedua putrinya dari istrinya yang sudah meninggal tersebut. Seolah ucapan Karina bermakna menyindirnya karena merasa dibuang sejak kecil.
"Maaf. Aku sudah berusaha mencari kalian. Tapi..."
"Saya tidak menyalahkan anda, tapi jika saya jadi anda, mungkin saya akan melakukan hal yang sama. Tapi, setidaknya anda tidak bahagia dengan perjodohan oleh kedua orang tua anda. Anda terlihat menikmati dan menyukai rumah tangga anda dengan istri yang dijodohkan dengan anda bahkan sampai memiliki dua orang putri. Dan melupakan sesaat kehidupan kami yang entah seperti apa yang anda sendiri tidak tahu." Jawaban panjang lebar Karina membuat Bastian terdiam membeku bahkan dia tidak bisa menjawab apapun dengan ucapan menohok putrinya.
"Aku tidak menyalahkan anda. Mungkin memang sudah takdir hidup saya seperti ini. Hanya saja jangan berharap saya bisa menerima anda dengan tangan terbuka. Saya tidak membenci anda, tapi kalau saya tahu ayah saya hidup seperti anda. Mungkin lebih baik tidak muncul lagi di hadapan saya." Karina menundukkan kepalanya sebentar dan segera pergi dari sana. Dia hanya ingin menumpahkan unek-uneknya selama ini. Bukan membencinya, sungguh. Tapi dia sangat bahagia bisa bertemu dan melihat secara langsung siapa ayah kandung yang ditanyakan dalam benaknya selama ini.
Hanya saja penampakan keluarga bahagia ayah Karina membuat hati Karina mencelos dan mengurungkan niatnya untuk tidak masuk di antara mereka. Belum tentu kedua putrinya yang artinya saudari tirinya menerimanya. Apalagi melihat kekayaan ayah kandungnya yang tidak sedikit itu.
Karina tak mau membuat masalah lebih rumit lagi. Masalahnya dengan suaminya saja belum selesai, dia tak mau menambah masalah lain lagi yang mungkin akan mencuri otak warasnya. Dia hanya ingin ketenangan untuk saat ini.
"Maaf." Bisik Bastian menundukkan kepalanya tak berani menatap wajah putrinya yang terang-terangan menolak kehadirannya.
.
__ADS_1
.
TBC