Suami Dan Adik Ipar

Suami Dan Adik Ipar
Bab 18


__ADS_3

"Bisakah kita bertemu?" Karina mengirim pesan pada Bryan.


"Tentu sayang." Jawab Bryan dalam pesannya dengan diikuti emoticon senyum yang penuh cinta.


.


.


Grep


Bryan langsung memeluk Karina begitu mereka bertemu kembali setelah beberapa hari yang lalu kabur untuk bertemu dengan Karina diam-diam. Setelah kejadian itu Bryan benar-benar dikurung kembali di dalam kamar meski dia berontak karena dipegangi dua orang bodyguard.


"Apa maksud mami?" Seru Bryan sudah hilang kesabarannya karena tadi dia diseret paksa oleh bodyguard suruhan maminya saat dirinya masuk ke dalam mobil yang dibawanya.


Untung saja hal itu tidak terjadi di depan Karina karena hal itu pasti akan menyakiti perasaannya.


"Kemana kau?" Jawab Ambar tak kalah seru berteriak. Ambar sendiri kesal karena putranya kabur saat dirinya merencanakan pertemuan perjodohannya dengan keluarga Hutama. Ambar tentu saja malu karena dia yang merencanakan dan mengundang keluarga Hutama tersebut. Tapi malah putranya tidak muncul.


"Bukan urusan mami." Jawab Bryan acuh dan kesal karena tak mau menjadi durhaka kepada maminya. Bodyguard sudah melepaskan cekalan Bryan karena sudah ada di kamar Bryan.


"Jangan mempermalukan mami!" Seru Ambar menatap murka pada putranya.


"Bryan sudah bilang menolak perjodohan, Bryan hanya mencintai Karina mi." Jawab Bryan mulai kesal bagaimana menjelaskan perasaannya yang sudah begitu besar pada Karina begitu juga sebaliknya.


"Mami sudah katakan juga berkali-kali, putuskan dia! Sampai kapanpun mami tidak akan pernah merestui hubungan kalian!"


Marah Ambar meninggalkan putranya di kamar. Tak lupa dia meminta bodyguard untuk mengunci kembali kamar putranya dan memperketat penjagaan.


"Mami tidak perlu keras padanya kan?" Ucap Arwana melihat istrinya muncul di kamar mereka.


"Papi lebih baik tidak ikut campur. Mami masih marah pada papi karena membantu Bryan melarlikan diri." Tohok Ambar masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar mereka. Arwana sendiri menghela nafas panjang melihat istrinya benar-benar tidak mendengarkannya.


.


.


"Maaf nyonya, tuan muda menolak untuk sarapannya." Beri tahu bibi maid yang biasanya mengantar makanan untuk Bryan ke kamarnya.

__ADS_1


"Biarkan saja!" Jawab Ambar tetap berusaha tenang.


"Mi!" Seru Arwana.


"Jika dia lapar dia pasti akan makan." Jawab Ambar enteng sambil mengusap bibirnya dengan tisu pertanda sarapannya sudah selesai.


"Mami tidak bisa terus-terusan seperti ini?" Seru Arwana mulai hilang kesabarannya karena merasa tidak dipedulikan protesnya.


"Lalu?" Ambar membalikkan tubuhnya menatap suaminya.


"Kalau papi ingin aku merestui hubungan mereka lebih baik lupakan pembicaraan ini!" Tegas Ambar langsung memotong ucapan Arwana yang sudah ditebaknya.


"Setidaknya berikan dia kebebasan. Bukan mami sudah memberikan ancaman padanya?" Ucap Arwana menurunkan nada bicaranya.


Ya, Arwana tahu semua apa yang dilakukan istrinya di luar bahkan di dalam mansion mereka.


'"Papi mengawasiku?" Tanya Ambar mengernyit.


"Kuharap mami tak lupa, kalau semua bodyguard itu orang-orangku. Semua dilaporkan padaku secara detail." Beri tahu Arwana langsung meninggalkan isrinya yang terpaku di tempatnya berdiri mendengar apa yang diucapkan suaminya barusan.


Dia tak bisa menyangkal karena semua kekuasaan yang digunakan adalah karena atas nama suaminya Atmajaya. Ambar menghela nafas panjang. Sebenarnya dia memang tidak ingin melakukan hal ini termasuk mengurungn putranya atau bahkan mengancam hingga memecat seseorang karena dia juga tahu kinerjanya yang memang mendekati sempurna.


Ambar langsung mengejar suaminya yang masuk ke dalam ruang kerjanya.


Cklek


Ambar membuka pintu itu dan melihat suaminya berdiri di jendela menatap ke luar melihat pemandangan taman mansionnya. Seolah memang sudah menunggu Ambar untuk datang.


"Maaf." Lirih Ambar yang masih dapat didengar Arwana. Ambar berdiri tak jauh dari tempat Arwana berdiri. Arwana menghembuskan nafas kasar merasa tak bisa marah terlalu lama pada istrinya yang sangat dicintainya itu.


"Boleh aku bertanya?" Tanya Arwana menatap istrinya yang masih menundukkan kepalanya merasa bersalah.


Ambar sontak mendongak menatap Arwana yang juga menatapnya.


"Apa?"


"Kenapa kau tidak bisa merestui hubungan mereka? Kurasa Karina tidak seburuk itu." Tanya Arwana dengan nada lembut langsung membuat Ambar melengos terdengar tidak suka mendengar nama itu disebut.

__ADS_1


"Setidaknya aku harus tahu alasan agar aku perlu membantu siapa." Ucap Arwana lagi.


"Karena dia miskin dan tidak jelas asal usulnya." Jawab Ambar sambil membuang muka.


"Aku rasa bukan hanya itu alasannya." Ucap Arwana lagi. Yang lagi-lagi membuat Ambar terdiam masih membuang muka. Arwana menghela nafas panjang tak mendapat jawaban dari mulut istrinya.


.


.


"Ini." Arwana menyerahkan ponsel putranya setelah bicara dengan istrinya. Dia memutuskan untuk tidak berangkat ke kantor karena untuk mengurus masalah di mansion.


Bryan mendongak menatap ponselnya yang diletakkan ayahnya di atas meja nakas sebelah ranjangnya. Bryan masih diam, dia masih kesal dan marah meski pada ayahnya tidak. Bahkan kamarnya kini sudah tidak berbentuk lagi mirip kapal pecah karena Bryan membanting semua barang-barangnya yang ada di kamar untuk melampiaskan kekesalan dan kemarahannya atas sikap ibunya yang mengecewakannya.


"Ibumu membebaskanmu sekarang dengan satu syarat." Ucap Arwana lagi membuat Bryan menoleh menatap ayahnya. Terlihat binar kebahagiaan di mata Bryan mendengar ucapan ayahnya.


Arwana menghela nafas panjang menatap putranya yang sedikit terlihat bersemangat mendengar ucapannya.


"Kau terima perjodohan kami." Tegas Arwana membuat Bryan terkejut.


"Apa maksud papi?" Bryan pun akhirnya mengeluarkan suaranya setelah lama terdiam.


"Ibumu merestui hubungan kalian tapi kau harus tetap melakukan perjodohan kalian. Kami tak peduli jika kau akan menikahi Karina sebagai istri keduamu. Dan itu harus disembunyikan di hadapan publik. Hanya istri perjodohanmu yang boleh diketahui publik." Jelas Arwana dengan hati buruk karena tidak tega sebenarnya namun inilah keinginan istrinya agar tidak menyakiti siapapun.


"Apa maksud papi? Aku harus poligami begitu?" Tanya Bryan mencerna syarat yang diberikan padanya.


"Bukankah papi merestui hubungan kami sebelumnya?" Arwana menganggukkan kepalanya.


"Kau benar. Tapi setelah kupikirkan kembali, kurasa aku mengerti maksud mamimu melakukan hal ini." Jawab Arwana beralasan. Sebenarnya dia tidak memperdulikan latar belakang menantunya karena dia sudah kaya dan tidak menginginkan harta lagi. Asal putranya bahagia dengan pilihannya dia tidak peduli siapapun perempuan itu. Namun alasan istrinya membuatnya terpaksa mencari-cari alasan yang masuk akal.


"Jadi hanya karena nama baik keluarga aku harus menghancurkan perasaan kami." Kesal Bryan malah semakin marah namun dia tidak bisa membantah ayahnya yang selalu baik padanya meski dia bukan putra kandung ayahnya sekarang.


"Kau bisa memikirkannya dulu. Atau kau bisa membicarakan hal ini pada... Karina. Kurasa jika dia mencintaimu dia pasti bisa mengerti." Arwana berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan kamar Bryan.


Ambar menatap suaminya yang diberi anggukan kepala oleh Arwana membuat Ambar menghembuskan nafas lega.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2