
"Wooiyyy pak komandan calon jendral nih, susah banget buat ngluangin meet time" Baskara salah satu teman dekat Barata menyambutnya dengan kepalan jari yang dibalas dengan pelukan oleh Barata.
"Masih idup juga lo Bar, payah banget hilang dari peredaran" Kartiko yang juga teman dekatnya itu menimpali.
"Huh beginilah gue, hanya bisa ngikutin arus aja" Barata duduk di depan kedua sahabatnya itu.
"Lo sehat aja kan Bar? " Kartiko yang melihat raut wajah Barata menyelidik.
"Jiwa gue sehat, hati gue yang kagak" Barata terkekeh dengan jawabannya.
"Jiaaaa hahahha bisa aja lo" Baskara melempar Barata dengan bantal sofa yang sedang menjadi tumpuan pinggangnya.
"Sejak kapan lo punya hati? " sosok laki-laki yang baru saja datang untuk bergabung menimpali.
"Woyy supervisor kita datang juga nih" Kartiko menyambut Fiano.
Kedatangan pria jangkung berkacamata itu menjadi pelengkap reuni siang hari ini.
Kartiko yang berprofesi sebagai seorang dokter bedah yang mempunyai jam terbang tinggi, Baskara pengusaha eksportir barang-batang furnitur dan Fiano seorang supervisor di sebuah prodak kecantikan sudah menjalin persahabatan sejak mereka duduk di bangku sekolah menengah atas. Dan hari ini mereka menyempatkan temu kangen setelah beberapa bulan lamanya tidak pernah berkumpul dengan lengkap seperti ini.
"Lu free Bar? " Tanya Fiano
"Iya tuh tumben gak dikintilin si posesif" Kartiko menyuarakan keheranannya yang dibalas dengan tawa pecah sahabat-sahabatnya.
"Bac ot lu suka bener Ko" kini giliran Baskara meninju pelan lengan Kartiko.
"Lu seriusan masih bertahan sama cewe setengah gi la itu? " Fiano bertanya tanpa tendeng aling-aling"
"Eh yang sopan kalo Ngeba cot lu, gitu-gitu dia calon istri jendral Fi" Baskara berbicara sok serius.
"Ssst yang sopan Nape, biar gue ambil napas dulu, lu semua langsung ngomongin hal yang udah jelas dan bener aja, gue kesini mau cari ketenangan, gak malah dibikin panas"
"Gue tadi pamitnya mau ngadap komandan dul, mana berani gue jujur mau ketemu lo-lo. pada, yang ada dia ngintilin gue ampe besok" Bara menghembuskan nafas kasar. Mnyenderkan bahunya di sofa, untuk sekian detik dia menutup kedua matanya.
"Uda biar dia tenang dulu, ngrancaunya ntar lagi. Uda pada pesen belum? Fiano melambaikan tangan kepada waiters.
__ADS_1
" Bara tuh belum pesen, kita-kita udah tinggal nunggu dateng aja" Baskara menjawab.
"Americano 2 ya Mas" Fiano memesan minuman tanpa bertanya kepada Barata. "Eh sama pizza boleh deh" imbuhnya saat waiters hendak meninggalkan meja mereka.
"Gua mau nikah" Barata bersuara, dengan mata yang masih terpejam.
"Serius lo?" Ketiga sahabatnya menjawab bebarengan.
"Biasa aja kali lu pada" Barata membenarkan posisi duduknya.
"Udah yakin lu? sama Si Nita? " Tanya Kartiko.
"Bukannya keluarga lo lagi berduka? seenak jidat lo, lo bilang mau nikah? gila lo!! " Baskara menyela.
"Aku bosan dengar dia marah-marah terus bro, lagian apa lagi yang mau aku tunggu? gak ada. Aku cuma pasrah aja sama apa yang Tuhan kasih ke gue, gak mau banyak protes" ucapnya datar.
"Seenggaknya lo masih bisa mencari yang lebih baik, mati muda lo kalo bener mau ngawinin dia" Fiano memberi masukan.
"Ngawinin udah sering kali Fin, nikahnya yang belon" Kartiko tertawa.
Kumpul bersama teman dekat membuat sifat asli mereka keluar, no jaim no baper apa lagi nyembunyiin hal yang memang tidak pernah bisa disembunyiin dari satu sama lain.
"Ajeng apa kabar? loe ketemu dia? " Kartiko langsung kembali merubah mode slengean ke mode serius.
"Gue sama nyokap stay di rumahnya beberapa hari ini. Mungkin sampai gue balik ke markas gur tetep stay di sana. Gue kasian liat dia. Kemarin sampai di infus gara-gara ditinggal sama suaminya" Pikiran Barata melayang kembali saat kejadian Ajeng tak sadarkan diri.
"Ya wajar lah Bar, namanya di tinggal suami separuh nyawanya ikut pergi" Baskara menimpali.
"Tapi gue yakin kalo Ajeng gak seratus persen cinta sama abang gue Dul, dia selalu ngehindarin gue kalo. Kayak ada something yang memang dia gak mau orang lain tahu" Ujar Barata.
. "Aah kepedean lu Bar, lo gak inget udah seberapa besar lo nyakitin dia? ngilang gitu aja dan tiba-tiba Booom nongol gitu aja di acara nikahan dia, dan tiba-tiba jadi adik ipar yang harus sok imut padahal amit-amit gini?" Sanggah Fino.
"Udah deh, lo fokus aja ke tujuan hidup lo Bar, semua udah ada garisnya. Udah ada takdirnya. Allah gak mungkin salah ngasih lo jodoh. Mungkin emang harusnya lo berjodoh sama si Nita itu"
"Lo juga gak bisa mu dur lagi kan? pera wannya dia udah lo ambil, inget luh. Kudu tanggung jawab lu. Gak bisa gitu aja ninggalin dia kaya bekas botol A qua. Udah lo tenggak abis, lo buang sembarangan aja botolnya." Baskara bertausiyah.
__ADS_1
"Gue bakal nikahin dia tapi juga gak saat ini Dul, lu tau kan latar belakang Anita kaya apa. Dia cuma tinggal sama nyokapnya doang. Dia tulang punggung keluarga. Adeknya banyak"
"Mungkin itu juga salah satu yang ngebentuk sifat karakter dia"
"Aah tau ahh gue ke sini gak mau bahas ini, gue mau havefun sebelum balik ke markas lagi"
Barata membenarkan posisi duduknya, hingga tak berselang lama waiters datang membawa pesanan mereka.
"Kapan terakhir kita nongkrong enjoy gini ya?" Fiano terkekeh.
"Tahun lalu pas bikin planning pesta bujangan Baskara, ehh ujung-ujungnya gagal"
Hahaha mereka tertawa bersama. Mengingat ke bo dohan mereka semasa muda dulu.
Baru saja meletakan cangkir americanonya, ponsel Barata berbunyi. Tertera nama Ibunya menelpon
"Ya Bu, gimana?"
"Eh iya sory kelupaan, asalamualaikum Bu" jawabnya mengulang ke percakapan awal dengan suara di haluskan
"Sekarang banget? " Barata menatap sari persatu wajah sahabatnya itu. Sudah terlihat jelas kalau mereka enggan melepas pergi sahabatnya yang paling susah di ajak hang out itu.
"Yaya Bara On the way ni"
"Ya Walaikumsalam"
Barata menutup sambungan telepon.
"Apa lagi? " Kartiko menggerakan dagunya.
"Nyokap gue minta gue pulang sekarang, mobilnya mau di pake. Ajeng pingin ke makam Reno katanya dan mama gak mau naik taksi. Minta gue buat nganter" Barata menyimpan ponselnya kedalam saku celana.
"Oke guys, gue pamit dulu ya.. sory banget nih gak bisa lama. Kalian baik-baik ya" Barata langsung beranjak dari duduknya.
"Belum jadi jendral aja udah gini susah Dul ketemu lu nya, apa lagi kalo lu udah jadi jendral? harus bikin jadwal satu tahun sebelumnya kali ya" Tempat Fiano.
__ADS_1
"Gak usah lebai deh kalian" Barata berpura-pura membuang muka yang hanya di balas dengan suara tertawa sahabatnya.