Takdir Yang Terlewati

Takdir Yang Terlewati
22


__ADS_3

Barata POV


Hampir 6 bulan sudah aku pergi meninggalkan Ibu, sungguh aku sangat menghawatirkan keadaan dia, dari layar ponsel yang selalu menampakan wajahnya, dia terlihat semakin kurus dari yang kulihat sebelumnya. Dia selalu memintaku untuk lekas menikahi Anita. Ternyata wanita itu setiap minggu berkunjung ke rumah selama aku pergi.


Aku yang sedang sibuk-sibuknya, hampir tak bisa menghubunginya bahkan panggilannya pun terkadang aku abaikan. Menghubungi Ibu pun aku sempatkan sebisaku, mencuri waktu di sela-sela aktifitasku. Bulan-bulan ini memang luar biasa padat jadwal RI satu ini.


Kadang ada niatan terbesit di dalam hatiku untuk mengajukan mutasi tugas saja dari kesatuan ini, rasanya meninggalkan ibu sendiri begitu berat. Sorot matanya yang layu tak berbinar lagi sedikit banyak membuat aku untuk berfikir berkali-kali untuk terus mendampinginya.


Hari ini aku mengawal RI 1 berkunjung ke tanah Toraja, Inilah yang aku sukai dari pekerjaanku, aku bisa pergi keliling nusantara ataupun dunia mengawal orang nomor 1 di negara ini. Dan tidak seperti biasanya, kali ini Serka Anas yang observasi tempat dulu. Jadi 2 hari sebelum objek (presiden) datang, akan ada beberapa pasukan yang menyisir dan menyiapkan tempat yang akan di kunjungi oleh pak Presiden. Tentunya dengan dampingan dari Kodim maupun Polisi setempat, Memastikan bahwa semua aman terkendali.


Seharian penuh mengawal Presiden, kami di sibukan kembali dengan persiapan kepulangan kembali ke Jakarta. Sepertinya aku harus benar-benar mengajukan surat mutasiku dengan alasan mengurus orang tua yang memang benar-benar sendiri. Mbak Runti sekarang tidak bisa di andalkan lagi, dia terlalu sibuk mendampingi suaminya pergi keluar negri, bolak-balik seperti setrikaan tiada henti.


Dan untuk Ajeng, ahh wanita itu benar-benar berhasil merontokan hatiku, menghancurkan perasaanku berkeping-keping, ajurr tak tersisa.


Perkataan pedasnya kala itu benar-benar menjadi komunikasi terakhir ku dengannya. Hatiku terlalu sakit dengan perkataannya, selama ini benar-benar aku tidak ada artinya. Baginya aku hanya angin lalu yang lewat begitu saja, apa yang sudah kami citakan benar-benar bayang semu. Janji dia untuk menungguku ternyata omong kosong! aku memang sengaja menghindari komunikasi apapun dengan dia. Meskipun selama ini memang begitu. Tidak ada yang berubah. Hanya saja kali ini aku seperti sudah benar-benar menyerah.

__ADS_1


Bahkan perkataan dia yang menyudutkan ku tentang tidak pernah memberi kabar, ninggalin dia gitu aja,jago cari pembenaran, benar-benar omong kosong belaka!


Jadi selama ini dia benar-benar tidak paham dengan pekerjaanku, resiko apa yang akan aku hadapi. Dia gak pernah tau gimana aku mencoba untuk berjuang buat tetep hidup, untuk ngewujudin cita, cinta dan mimpi kami berdua, dia gak tau dan gak pernah mau tau!!!!!


Bahkan untuk sekedar mendengar penjelasanku pun dia enggan! sungguh aku benar-benar merasa sama sekali tidak di hargai olehnya!!!!


Kalian tau apa yang lebih buat aku kecewa sampai ke dasar dunia?? dia menikah dengan kakakku!!!!! Kakaku hey!!!!!!!! Kakakku!!!!!!


Dia benar-benar ingin membuatku mati secara perlahan!! melihat dia bersanding dengan kakaku di pelaminan sungguh membuat darahku mendidih!!!! Hatiku sakit teramat sangat! bisakah kalian menggantikan posisiku sebentar saja? agar tau bagaimana hancurnya hatiku kala itu? dan yang lebih penting agar aku tak merasakan sakit yang paliiiing menyakitkan, mengalaminya dengan status calon adik ipar di malam sebelum mereka melakukan ijab qobul. Terlalu sadis cara dia memang!


Kekasih yang aku rindukan dimalam-malam sepi dan sendiri, di saat kegiatan bertaruh nyawa, hanya wajah dia yang selalu aku bingkai dengan sempurna di hatiku. Dan balasannya apa?? Hah benar-benar bo doh!!!!!!!!


Aku masih cukup waras untuk tidak menghancurkan kebahagian mereka, keluargaku, dan tentunya kakak kebangganku, aku masih waras untuk mengikuti alur apa yang sudah di rencanakan keluarga besarku. Tapi tidak saat melihat mereka berdua masuk kedalam kamar yang sama, dengan bunga yang harumnya mampu menusuk hidung, imanku sungguh sedang berada di titik terendah, sedang jatuh-jatuhnya. Dan kesialan datang tepat pada waktunya. Anita yang entah dari mana asalnya tiba-tiba datang, membawa otakku berfikir di luar nalar yang akhirnya membuat aku masuk kedalam kungkungan dosa hingga sampai saat ini.


Aku sudah tak waras sampai bisa menggauli perempuan yang selama ini terlalu baik padaku, dia menyerahkan seluruh hatinya padaku, bahkan malam itu seluruh tubuhnya dia persembahankan untukku, aku tidak bisa merasakan apapun, sungguh. Hanya rasa sakit yang datang bertubi-tubi. Dan ketidak warasanku yang secara tidak langsung menjeratku kepadanya hingga saat ini. Dia yang selalu menuntut ku untuk segera menikahinya.

__ADS_1


"Beres semua Bar? " Serka Anas menghampiri ku, membuyarkan fikiranku seketika.


"Hah, iya. Beres" Jawabku.


"Kenapa? ada yang dipikirin? "


"Keluarin aja, daripada jadi beban" ujarnya padaku.


"Lagi mikirin nyokap nih, sekarang sendirian di rumah dulu juga sendiri si tapi ada Abang yang tiap hari ke sana, sekarang tau sendiri kan, enam bulan yang lalau dia kecelakaan. Aku pingin ngajuin mutasi, biar deket sama Ibu. Tau sendiri orang tua kan, baperan banget kalo telpon juga kayak gak ada gairah hidup sama sekali. " ucapku jujur.


"Coba kamu konsultasiin dulu aja, siapa tau ada jalannya Bar" Ucapnya sambil menepuk bahuku, memberikan aku support.


"Coba besok sampe di Markas kamu menghadap beliau deh, cerita apa adanya aja. Minta solusi gimana baiknya, Mudah-mudahan ada jalan keluar terbaik "


lanjutnya.

__ADS_1


Baru banget ngobrol nyaman, bunyi HT menggema di ruangan, memerintahkan mereka untuk bersiap, mempersiapkan RI satu untuk bertolak ke Jakarta. Hingga kami pun langsung bersiap untuk kembali menjalankan tugas.


__ADS_2