
Dan benar saja, saat acara yasin tahlil akan dimulai, Ibu belum menampakan dirinya di rumah. Jadi benar apa yang Mbak Nur ceritakan tadi.
Aku duduk disudut ruang keluarga, ikut hanyut dalam bacaan yasin yang terdengar menyejukan jiwa. Kapan terakhir aku membaca Al-Quran? Aku yang selama ini terlalu sibuk dengan urusan dan aktivitas dunia saja, tanpa pernah mengingat akhirat.
Dan terus terang saja, sedikit banyak kejadian yang kualami akhir-akhir ini mengusik hatiku. Terutama tentang setiap orang yang bernyawa akan mati dan tidak akan pernah ada yang tau kematian itu akan menjemput kita kapan, seperti Mas Reno, siap tidak siap yang ditinggalkan dan yang meninggalkan, Allah tidak ingin tahu itu.
Dan aku mulai harus bangkit. Aku tidak bisa terus menerus seperti ini, terpuruk sendiri sementara orang disekitarku, Ibu terutama, bisa dengan jiwa besarnya mampu mengikhlaskan ayah.
Apalagi Mas Ren yang hanya singgah tak lebih 3 tahun di kehidupanku, aku harap bisa dengan mudah sedikit demi sedikit meninggalkan kenangan bersamanya, bukan meninggalkan, lebih tepatnya menyimpan baik di dalam memori. Walau sendiri tau, dia selamanya tak akan pernah pergi dari alur ceritaku.
Ya, lucu memang, dulu aku menyandang nyonya Reno, sekarang Jandanya Reno. Aahh segitunya takdir padaku.
Sentuhan di bahuku menyadarkan fikiran yang sedari tadi berkelana, seharusnya aku menyimak, membacakan yasin untuk Mas Ren. Tapi sayangnya fikiranku tak bisa fokus.
Ternyata bacaan surat yasin sudah selesai, berganti dengan diulurkannya piring dari tangan mama, untukku.
"Sudah makan tadi sama Mbak Nur ma" Bisiku.
"Kapan?" Mama menyeritkan dahinya.
"Tadi, aduhh bentar deh kayaknya perutku mules" aku menghindari mama dengan berpura-pura ingin ke belakang.
Aku sedikit menundukan badanku, tanda permisi melewati orang-orang yang sedang duduk menikmati santapan yang mama siapkan bersama Mbak Nur dan beberapa kerabat dekatku siang tadi.
Dan aku bisa bernafas lega setelah masuk ke dalam kamar. Memasuki kamar mandi dan mulai duduk di kloset. Hanya duduk dan tak melakukan apapun!
Hingga suara ketukan terdengar, ku yakin mama menyusukku. Kadang terlalu berlebihan tuh mama!
__ADS_1
"Ajeng, nak.. Apa kau di dalam?" Dan dugaanku salah. Bukan mama yang menyusulku. Tapi Ibu.
"Ah.. iya Bu sudah selesai ini, kutekan tombol flash agar terkesan aku benar-benar melakukan kegiatan di dalam kamar mandi selain bengong tentu saja!!
" Ibu baru datang?" Aku pura-pura bertanya, seolah-olah aku tak tahu apa yang keluargaku sedang rencanakan di belakangku.
"Kamu sakit?" Ibu mengalihkan pembicaraan. "Duduk sini coba" Mengarahkanku untuk duduk di kursi rias.
"Enggak Bu, hanya mules aja, tadi makan terlalu banyak sama Mbak Nur" dustaku sambil berjalan menghampirinya.
"Ibu fikir kamu kenapa-napa, emm ada yang ingin ibu katakan." Ibu mulai duduk di ranjangku yang memang haya bersebelahan dengan meja rias. "Barata akan menikah 3 bulan lagi, setelah Reno nanti 100 hari, menurutmu bagaimana? ternyata anak itu diam-diam sudah punya pacar!" terlihat serambut kebahagiaan di wajah mama.
"Alhamdulillah, semoga acaranya di lancarkan, diberikan kemudahan sampai hari pelaksanaanya." Ucapku dengan tersenyum tulus. "Jadi tadi Ibu habis ke rumah orang tua gadis itu?" aku mulai bertanya yang sepertinya tak perlu. Terlalu dipaksakan!
"Iya Jeng, dan Barata langsung berangkat ke kesatuan. Tadi di telpon sama komandannya katanya akan ada pelatihan atau apa Ibu juga tak begitu mendengarkan"
"Sebetulnya Ibu masih gamang, disatu sisi ibu sedih telah kehilangan anak ibu, disisi lain ibu sangat berbahagia akhirnya Barata memutuskan untuk menikah, meskipun Ibu sendiri sedikit kaget, karena memang setau ibu dia tidak sedang dekat dengan perempuan manapun setelah kejadian dulu kala. Ibu takut dia trauma dengan kisah masa lalunya, tetapi Alhamdulillah itu hanya ketakutan ibu saja."
Aku langsung menyeritkan dahi "Barata? trauma masa lalu?" Reflek aku bertanya yang seharusnya aku tak perlu tahu. Entahlah, terkadang mulut tidak bisa berjalan beriringan.
"Iya, dulu sebelum masuk Bintara, tepatnya sedang mendaftar seleksi masuk TNI AD, di sana dia bertemu dengan seorang gadis, yang sama-sama mendaftarkan diri juga, mendaftar menjadi KOWAD. Setiap pulang dari Watu gong dulu dia selalu antusias menceritakan segala kegiatan aktivitasnya, tak tekecuali gadis itu."
Aku terdiam, dadaku bergemuruh mendengar cerita Ibu. Aku berusaha untuk tetap fokus dan menyimak dengan seksama.
"Gadis yang katanya sangat manis, baik hati dan menjadi penyemangatnya itu adalah cinta pertamanya. Ibu bisa lihat dari sorot matanya yang selalu berbinar ketika menceritakan sosok gadis itu. Barata cerita segalanya kepada ibu, tentang bagaimana pertemuan manisnya saat itu, hari yang dia lalui bersamanya, hingga saat wanita itu gugur dan tidak bisa mengikuti seleksi ke tahap selanjutnya pun dia bercerita kepada Ibu, dan gadis itu juga yang menjadi cambuk semangatnya untuk berjuang keras demi menggapai cita-citanya. Dan semua berjalan baik-baik saja sampai suatu hari dia lost contact dengan gadis itu, untung saja kala itu dia sudah selesai pendidikan. Tinggal penempatan dan pengambilan Jurusan."
Aku masih mendengar Ibu bercerita dengan dada yang semakin bergemuruh. Sepertinya aku mengenal siapa gadis yang Ibu ceritakan. Namun, aku tak berani secepat itu menebak.
__ADS_1
"Hingga tiba-tiba saja dia datang suatu hari kepada ibu dengan tangisnya yang begitu memilukan hati. Tepatnya sehari sebelum Reno dan kamu menikah. Dia menangis meraung di hadapan ibu, bersimpuh di hadapan Ibu. Ibu yang bingung hanya bisa menenangkannya, dan dia hanya bilang, cintaku akan menikah setelah segala perjuanganku selama ini untuknya. Dan sejak saat itu dia benar-benar menutup diri, jauh dari para perempuan. Sampai Ayah dan ibu menjodoh-jodohkannya dengan anak teman-teman kami, tapi dengan sejuta alasan dia selalu saja menolak"
Ibu menghembuskan nafas dengan kasar.
"Maka, saat dia bilang akan menikahi seorang wanita, ibu sangat bahagia sekali Ajeng, selama ini yang ibu takutkan ternyata takan terjadi" Ibu menggenggam tanganku erat, entahlah aku seperti tertohok,
"Ibu tahu namanya?" Tanyaku dengan hati-hati
"Dia tidak pernah menyebutkan nama aslinya, dia selalu menyebut gadis itu dengan panggilan sayangnya S... "
"Ya Ampun ternyata pada ngrumpi disini ya"
Mama tiba-tiba saja datang, memotong pembicaraan aku dan Ibu begitu saja.
"Aku fikir kamu pingsan Jeng, dari tadi gak keluar-keluar makanya mama nyusulin ke sini, ternyata lagi asik ngerumpi berdua ngak ngajak-ngajak nih"
Mama berjalan menuju ranjang, ikut duduk dengan aku dan Ibu.
"Lagi ngobrolon apa si serius banget?"
"Tentang Barata Mam" Ibu menjawab dengan senyum merekahnya.
"Jadi? Kapan?" Mama dengan antusias bertanya.
"3 bulan lagi" Ibu tak kalah antusias dengan jawabannya.
Akh, ada yang aneh dan salah tidak sii? di saat aku sedang terluka begini, kenapa malah mereka membahas pernikahan. Apa aku yang terlalu baper dan merasa paling tak beruntung di dunia? Entahlah.
__ADS_1
Tuhan, kuatkan aku💔