
Apakah rasanya sesakit ini? Mengetahui sesorang yang lu cintai ternyata mencintai orang lain? Apakah sesulit ini? Mengubur perasaan yang sudah tertanam di dalam hati?
Apa ginii rasanya patah hati? kaya gini perasaan mereka yang selama ini gue acuhin? bahkan gue abaiin, gak pernah gue tanggepin.
Bisa gak sih nyalahin waktu? kalo ujung-ujungnya bikin luka sedalem ini?
Naufal menghembuskan nafas kasar. Pertanyaan yang dia tujukan kepada Ajeng tidak ada jawaban.
"Yaudah, kita tutup kasus ini. Anggap kita gak tau" Akhirnya dia membuka suara, setelah beberapa lama menunggu jawaban Ajeng.
"Kalian bisa mengerti posisiku saat ini gak sih?"
"Kamu tadi denger kan Dek, ucapan Barata sama Ibu? Tau kan bagaimana respon Ibu saat liat Mbak datang? bagaimana mungkin kita menambah beban fikiran beliau. Itu masalah yang kita tahu. Belum lainnya yang Ibu sembunyiin."
"Kemarin dokter mengatakan kalau tekanan darah Ibu harus benar-benar di jaga, harus stabil guna mempercepat pemulihan kesehatan beliau. Lalu apa jadinya jika Ibu tau seperti ini? "
"Ada hal lain yang lebih aku takutkan sebenarnya, bagaiman jika Anita tahu kalau kita sudah tau tingkahnya? aku yakin dia gak akan tinggal diam. Aku takut dia akan semakin menggila sikapnya. Bisa kalian lihat bagaimana dia perlakukan Ibu kan? " Kini giliran Ajeng yang menghela nafas panjang. Melepaskan penat yang entah sejak kapan dia tahan. Dan kini sedikit banyak membuat dia lega.
Dia hanya ingin, orang-orang di sekitarnya bisa mengerti kalau saat ini dia hanya melindungi ibu. Meskipun jauh di lubuk hatinya, dia pun sakit melihat kenyataan bahwa ternyata Barata tak lebih jauh menderita dari dia. Kalau dia tau ujungnya seperti ini, Anita bukan orang yang baik, mungkin dulu dia bisa saja bersikap egois, meminta Barata untuk tidak menikaihi Anita.
Tapi, apakah dia bisa bahagia? tanpa mengetahui kebusukan Anita seperti saat ini? justru dia mungkin akan hidup di tengah rasa bersalah karena keegoisannya. Dibayangi oleh Anita, perempuan yang Barata nodai. Dan sekarang? saat ini, sepertinya tidak ada yang parlu di sesali. Selain menjalani. Karena memang jalannya harus seperti ini.
"Gue ngerti dan gue paham. Tidak mudah menjadi diri lu. Tapi setidaknya lu juga harus bisa tegas, gak melulu mikirin perasaan orang lain sementara perasaanmu sendiri hancur lebur. Setiap-tiap orang berhak bahagia. " Naufal seketika merubah panggilan dengan Elu gue.
Mungkin terbawa saat mengobrol dengan Ningrum.
"Apa yang bakalan Ibu lakukan ya kalau Ibu tau yang sesungguhnya" Ajeng menerawang.
"Gak usah mikir yang belum kejadian, jalani aja dulu apa adaya. Allah lebih tau mana yang harus kita lalui. Dengan berandai-andai yang belum pasti, justru akan semakin membuat otak kita penuh, dan tidak maksimal dalam melakukan langkah yang sudah di rancanakan sebelumnya." Naufal memandang Ajeng dalam.
"Apa lo masih mencintai dia? "
__ADS_1
"Apa itu masih penting untuk di tanyakan? " Ajeng membalas pandangan Naufal.
Sangat penting bagi gue, setidaknya gue tahu kapan gue harus berhenti berjuang, gue berfikir relalistis. Sama sekali gak mau waktu yang gue punya habis percuma, untuk hal yang sangat tidak mungkin gue dapetin.
Kata yang hanya di ucapkan di hati, tidak sampai terucap di bibirnya yang kelu. Namun, dia pun tahu kalo Ajeng sebenarnya masih memiliki rasa yang sangat besar pada adik iparnya itu.
"Aku lapar" Ningrum yang merasakan aura tak menyenangkan di sekitarnya langsung mengalihkan perhatian.
"Gue cabut duluan aka kalo gitu ya, udah ada janji lagi. Kalian makan bareng aja" Naufal berdiri dari duduknya.
"Yakin nih? "
"Kalo ada janji lagi ngapain ke sini, bolak-balik bikin cape aja! " Ajeng medengus sebal. Entahlah, kini kali pertama dia tidak suka kalo Naufal tidak bersamanya.
"Ya udah sana pergi, yuk Dek kita ke kantin" ketusnya.
"Ya elah Jeng" Ucapnya masih berdiri.
Sementara Ajeng berjalan pergi, disusul kemudian oleh Ningrum yang hanya melihatnya sambil mengangkat bahu.
Naufal hanya melihat kepergian Ajeng dan Ningrum dari tempatnya berdiri. Hingga mereka hilang dari pandangan matanya. Tanpa menoleh kembali ke arahnya berdiri.
"Gue gak ngerti jalan fikiranmu Jeng"
"Kenapa musti ada orang sebaik kamu?"
"Dan sayang sekali, hatimu tidak berpaut menyambut perasaanku" ucapnya pelan sambil berlalu.
Hatinya yang hancur, membersami langkah lebarnya, meninggalkan rumah sakit.
"Mbak gak tau? Mas Naufal ada rasa ke Mbak? " Di kantin rumah sakit sesaat setelah memilih makanan, Ningrum membuka obrolan.
__ADS_1
"Rasa apa?"
"Gak usah aneh-aneh kalo bicara" Ajeng membuka penutup air mineralnya, kemudian meminumnya perlahan.
"Mbak gak nyadar kalo Mas Naufal suka sama Mbak? "
Ajeng tersedak mendengar perkataan adiknya, hingga kemudian tawanya pecah, untung kantin dalam keadaan sepi, sehingga tidak membuat malu di lihat banyak orang.
"Kamu aneh-aneh aja Dek" kembali minum.
"Naufal itu kan dibawahnya Mbak umurnya, kaya gak ada orang lain aja buat di sukai. Mbak itu apa? hanya remehan peyek yang di taro di dalam kaleng kongwin, udah bau tengik pula" tertawa kembali.
"Kaya gak ada gadis aja suka sama janda"
Percakapan mereka terhenti saat pramusaji mengantar makanan.
"Makasih Mas" Ningrum menerima semangkuk soto daging yang terlihat menggugah selera. Sementara Ajeng memilih memesan mi rebus.
"Napa gak ikut mas Bara aja tadi sama istrinya makan bakmi kalo pesen mi rebus" cibir Ningrum.
"Beda aliran"
"Beda aliran gimana? sama-sama mie kan"
"Ya deh terserah kamu aja Dek, udah cepet di makan, kasihan Mbok War sendirian" Ajeng melahap mie rebus di depannya.
Mereka makan sambil diam, menikmati santap siang di kantin rumah sakit.
...Tidak ada yang tau kemana hati akan berpaut...
...Tidak ada yang tau kemana cinta berlabuh...
__ADS_1
...Yang mereka tau, cinta datang tanpa pesan...
...Tanpa permisi dan tanpa rasa hati-hati. ...