
Barata POV
Mas Dika datang tepat saat aku selesai berbincang dengan Ajeng, bukan selesai si, lebih tepatnya dia mematikan sambungan telepon ku.
Maksud dia apa coba mematikan telepon saat ada laki-laki masuk ke ruangannya?
Otaku traveling, hatiku seketika panas, rasanya ingin ku menyusul ke rumah sakit.
Baru saja ingin melanjutkan niat, Mbok War datang, mengetuk pintu kamarku.
"Mas, tamune dugi, mbekto trak ageng"
"Pesen nopo mawon si?"
Mbok War sudah membuka pintu kamar lebar-lebar, mengatakan bahwa tamu sudah datang dengan membawa truk besar dan menanyakan kalau aku pesan apa saja. Mungkin dia heran.
"Oke, Mbok tolong pindahin pakaianku dulu yang di lemari ya, tinggal dikit kok." Sebelum aku turun, aku memberikan pesan.
Seketika aku lupa dengan amarahku, saat ku lihat Mas Dika yang sedang sibuk dengan ponselnya, ku sapa dia.
"Sudah lama Mas?"
"Eh lu, belum gitu."
"Gue bawa sekalian tukang-tukangnya tuh, biar cepet kelar, sesuai permintaan pengantin baru."
Kita tertawa bersama.
Huhu sedikit cerita tentang Mas Dika ini, di seorang pemilik kerajinan berbahan dasar kayu yang sudah terkenal hampir se-antero Jawa tengah, jangan tanya hasil karyanya. Unik, keren , pokoknya bukan kaleng-kaleng.
"Langsung angkut aja Mas, eh tapi yang di dalam di keluarin dulu aja deh mending semua, udah aku pindah-pindahin beberapa si."
"Langsung naik aja yuk." Aku mengajak Mas Dika naik, bersama orang-orangnya yang akan menyulap kamarku nanti.
Aku memang meminta agar kamarku sehari rombak langsung jadi, meskipun ya dengan budget yang tidak sedikit tentunya. Tapi tak masalah buatku, selagi bisa kelar cepat dan buat aku sama Ajeng lebih nyaman nantinya.
Hampir menghabiskan waktu setengah hari untuk bongkar-pasang dan mengganti seluruh furniture yang ada di kamar, beruntung tidak banyak yang harus di ganti, hanya bermain tata letak saja, agar nantinya agar terlihat baru dan terkesan tidak monoton.
Ajeng pulang saat aku dan Mas Dika sedang berbincang, sebetulnya Mas Dika sudah akan pamit, tetapi masih aku tahan.
Aku kenalkan dia kepada Mas Dika, kulihat wajah dia sedikit pucat. Mungkin kecapaian.
Aku cukup senang dengan perlakuannya padaku, mencium punggung tanganku saat pulang , perlakuan yang sama saat tadi dia berpamitan untuk berangkat kerja.
Ku lihat dia saat Mas Dika mengajaknya bersalaman dan dia tolak halus dengan mengatupkan kedua tangannya di depan dada, membuat ku girang bukan kepalang, boleh sombong gak sih sama apa yang aku punya sekarang? beruntungnya memilikinya setelah sekian lama dengan kondisi 'utuh' , mampu menjaga diri dan sekarang menjadikan aku laki-laki satu-satunya yang bisa menyentuh dia.
__ADS_1
Maturnuwun Gusti
Di berpamitan ke untuk masuk, dan aku melanjutkan perbincangan dengan Mas Dika, baru saja kita memulai obrolan lagi, ponsel Mas Dika berdering menandakan ada panggilan masuk.
Sedikit banyak aku mendengar bahwa dia harus menemui klien dan dia menyanggupinya segera.
"Eh, sory ya gue pamit dulu."
"Sore ini kelar dan biarin orang gue lembur gak papa"
Dia berjalan menuju teras, dan aku mengantarnya sampai depan teras.
"Thank ya Mas" Aku menepuk pundaknya sesaat.
"Kabari lagi kalo ada yang kurang pas sama si nyonya ya" candanya sebelum menaiki mobil SUV hitamnya.
"Siap." ucapku cepat sambil tertawa.
Saat mobil sudah meninggalkan halaman, aku kembali mengecek ke atas, tinggal finishing saja ternyata.
Aku melewati kamar yang biasa Ajeng tempati, lah kok kebuka? Tanpa ba-bi-bu aku masuk, dan terlihat Ashila yang sedang tidur terlelap di ranjang Ajeng.
Aku memdengar suara percikan air dari dalam kamar mandi, reflek otak ku berkelana, aku langsung mengunci pintu kamar dan berjalan perlahan ke arah kamar mandi.
Kubuka pintu yang tak di kunci itu perlahan, dan gotcha! pintu tidak terkunci. Kulihat tubuhnya dari balik kaca, dengan guyuran air dari shower. Dan seperti biasa, bagian tubuhku di bawah sana langsung menegang, kubuka bajuku dan ku susul dia.
"Sukanya bikin kaget aja." Dengusnya sebal. Seperti biasa, dia memang suka memasang raut wajah kesalnya padaku, namun justru itulah yang membuatku semakin gemas padanya.
" Dan kamu suka bikin aku cemburu."
"Jangan pikir aku tidak marah atas apa yang sudah kamu lakukan siang tadi"
Aku memandangnya sekejap.
"Aku reflek aja, kaget ada Satrio"
"Jangan pernah sebut laki-laki lain saat sedang bersamaku" aku menangkap wajahnya dengan kedua tanganku, kemudian melu mat bi bir nya dengan rakus.
Aku bersumpah kalau saja aku bisa memakannya, sudah habis dia dengan ci uman ku yang panas.
"Ashila di luar, nanti dia mendengar bagaimana?" Ucapnya dengan tangan me re mas rambutku, yang terasa sangat menggoda.
"Tidak ada orang lain selain kita."
"Nikmati ini"
__ADS_1
"Sebut namaku"
"Hanya namaku"
"Jangan memikirkan orang lain"
Aku benar-benar gemas padanya. Bisa-bisanya dia memikirkan orang lain di saat sedang ber cin ta seperti ini.
Aku beranjak, mengeksplor tubuhnya yang sudah beberapa kali bergetar hebat dengan menghadiahi ku cubitan panas, tanda dia sudah melakukan pelepasan. Padahal aku belum menyatukan tubuh kami.
Sungguh!
Dia benar-benar candu buatku, suaranya, rin tihan dia dan sebutan namaku yang terucap dari bibirnya semakin membuatku bersemangat untuk terus membuatnya melayang.
Ini kali pertamaku melakukanya di bawah guyuran shower dan kulakukan dengan berdiri. Sungguh pengalaman yang luar biasa nik matnya.
Aku menyatukan tu buh kami, rasa hangat melingkup di bawah sana, aku merasa seperti di pijat, dengan begitu kuatnya, re masan di bawah sana membuat aku me nge rang nikmat.
Aku memberikan jeda, menikmati setiap jepitannya. Hingga akhirnya aku tak dapat mengontrol diriku sendiri, membalikan tubuhnya, memasukinya dari belakang, membimbingnya untuk sedikit merunduk, kemudian memacunya dengan cepat dan kasar dengan tangan yang masih terus bergerilya di kedua bukit yang menggantung eksotis.
Sungguh aku bisa mendengar dia berteriak heboh, menyebut namaku tanpa henti yang semakin membuatku ingin meledak, aku merasakan seperti aku bisa menembus sampai ke pusat perutnya, sungguh ini sangat dalam dan sangat nikmat. Aku tidak bisa mengontrol diri, hingga akhirnya aku melepaskan semua di dalam, dapat ku rasakan aku menyemburkannya berkali-kali.
Aku memegang tubuhnya yang sudah terkuai lemas agar tidak terjatuh, membalikan badannya, memeluknya erat.
Nafasnya masih memburu. Ku kecup dahinya yang dan ku usap punggung polosnya.
"Makasih sayang"
"Love you"
"Aku.. aku capek" ucapnya dengan tersendat. Aku langsung meraih sabun dengan satu tanganku, sementara satu tangan lainnya masih memegangi tubuh polosnya agar tidak terjatuh, dia seperti jelly yang lembek, bisa saja sewaktu-waktu terjatuh. Apa itu hanya perasaanku saja.
Tak butuh waktu lama, untuk menyelesaikan mandi, dia langsung ku bimbing mengenakan handuk.
"Aku pusing" keluhnya padaku.
Aku tak dapat menahan tawaku.
"Ya sudah lekas berpakaian. Nanti aku menyusul" aku mencuri ciuman dari pipinya yang dingin. Merelakan dia untuk terlebih dulu keluar. Dan melanjutkan mandiku.
Aku tidak pernah merasa sebahagia ini, sungguh Tuhan begitu baik padaku. Berawal dari mimpi dan keinginan kuat untuk mendapatkan apa yang seharusnya aku dapatkan, dan kini berakhir menjadi kenyataan. Aku bisa memilikinya seutuhnya, melakukan apapun semauku kepadanya. Apalah arti cinta tanpa memiliki, tidak akan pernah ada di kamusku.
Cinta harus di perjuangkan, sampai di dapati. Seperti aku ini, mencintainya, mendapatkannya dan dapat memasukinya. Aakh nikmat Tuhan mana yang kau dustakan?
Barata🤦🤦🤦
__ADS_1
Jitak berjamaah yuk😂😂