
Mereka berempat tiba di rumah Ibu Sukma, setelah terlebih dahulu mampir ke toko roti, untuk membeli beberapa, sebagai buah tangan. Mobil kepunyaan Bu Sukma terparkir dengan baik di garasi.
Setelah tadi menelpon ke butik, menanyakan keberadaan Bu Sukma, akhirnya mereka mendatangi kediaman Bu Sukma. Sudah dua hari katanya Bu Sukma ijin tidak ke butik. Jawaban yang Ajeng terima saat bertanya kepada Siti yang kebetulan, saat Ajeng menelepon, Siti yang mengangkat teleponnya, tentunya setelah beriuh ria bertanya kabar dan membuat janji temu bersama.
Rumah masih terlihat asri seperti dulu, bedanya sekarang tumbuhan menjadi lebih banyak macam jenisnya, tanaman hijau yang menyegarkan mata semakin rimbun, tak kalah dengan aneka anggrek yang sekarang Bu Sukma adopsi. Ternyata Ibu Sukma masih begitu telaten merawatnya. Atau mungkin, menantu kesayangannya yang rajin menyirami.
"Asalamualaikum"
Ajeng yang berjalan terlebih dahulu memberikan salam, sementara mama dan kedua temannya masih sibuk merapikan barang yang tadi mereka beli.
"Asalamualaikum" Ulangnya ketika tidak mendapat jawaban.
Dia mencoba meraih handle pintu, pintu tidak di kunci. Dia memasuki rumah besar berlantai dua itu tanpa sungkan. Pigura-pigira besar masih menghiasi dinding ruang tamu, foto pernikahan Ajeng dengan Reno, foto keluarga mereka bersama Mbak Runti dan Felly, Foto bernikahan terbaru Barata juga terpasang dengan sempurna di dinding, dan beberapa foto kecil yang kini di simpan di rak sudut ruangan, yang sepertinya baru di beli oleh Ibu Sukma.
"Asalamualaikum Ibu, ini Ajeng" berjalan menyusuri setiap ruangan. Namun nihil, tidak ada jawaban.
"Kemana orang-orang pergi? " bergumam sendiri dengan terus menyisir setiap ruangan.
Hingga tibalah dia di depan kamar Ibu Sukma yang terbuka. Dia memasuki kamaar yang ternyata kosong itu. Namun pintu kamar mandi sedikit terbuka, entah apa yang mendorong ia untuk membuka pintu tersebut, hingga akhirnya dia begitu shock. Melihat Ibu jatuh tersungkur tak sadarkan diri, membuat Ajeng berteriak histeris, mengagetkan ketiga orang yang juga ikut panik mendengar teriakannya.
Ibu Sukma POV
Ada yang mencubit sudut hatiku, begitu sakit dan perih sampai ke ulu. Aku tidak tahu harus menyalahkan keadaan anak-anaku kepada siapa. Tentang cinta masa lalunya, penting pengorbanan rasa, tentang kasih tak sampai, tentang pelarian cinta, tentang kasih bertepuk sebelah tangan, tentang kisah cinta yang rumit pada akhirnya cerita ini berporos.
__ADS_1
Berawal dari aku yang memergoki Mbok War yang membawa boks, yang ternyata berisi kisah masa lalu Barata. Tentang penemuan buku diary Ajeng yang tertinggal bersama dokumen arsip hasil pemeriksan kesehatan Reno. Ya selama ini mereka mempermainkan ku, aku yang bodoh, aku sendiri yang baru tahu rahasia besar ini. Rahasia mereka bertiga. Sungguh rasa itu datang bertubi-tubi dengan penyesalan yang begitu dalam, membuat jantungku terasa sangat sakit.
Beginikah Allah membalas kebaikan yang selama ini aku selalu tebarkan si setiap pojok rumah yatim, panti jompo dan panti asuhan? beginikah balasan Allah terhadap anak dan menantuku? memecah belah mereka? mengambil satu diantara tiga anakku ke pangkuannya? mengambil rasa cinta kasih kepada dua insan yang saling cinta namun terhalang pengorbanan? menyembunyikan begitu rapihnya rahasia yang selama ini mereka bertiga simpan? cinta dengan pengorbanan atau cinta dengan balas budi? cinta tanpa syarat atau cinta dengan syarat?
Kepalaku berdenyut nyeri, sungguh aku tidak mampu untuk berfikir lagi, kuraih semuanya, kusimpan lagi ke dalam boks dan ku masukan ke dalam kolong tempat tidur dalam-dalam. Enggan berfikir, enggan berandai-andai, enggan meneruskannya lagi. Meskipun sangat ingin.
Hidupku seperti berada di dalam sebuah sinetron, dimana seorang sutradara begitu kejamnya memberikan peran ini padaku, memberikan kisah ini padaku. Namun sayang, ini nyata. Dan aku sedang mengalaminya secara nyata. Tidak ada manipulasi bahkan halusinasi. Dan aku tidak tahu apa lagi yang akan terjadi nantinya. Rasanya aku sudah putus asa. Enggan melanjutkan ini semua.
Bagaimana Bisa Ajeng sekuat itu? melebihi aku yang hanya sebagai pembaca diary nya? melebihi aku, sang ibu dari kedua anak yang sudah menghancurkan hatinya? dia mengorbankan hidup dan segala cintanya untuk kedua anakku. Ajeng......
Bagaimana aku tidak menyayangimu sedalam ini? Bagaimana posisimu bisa tergantikan? sebelum mengetahui ini kau pelita hatiku, bagaimana dengan sekarang? segala kebenaran dan fakta-fakta sudah aku ketahui semua tanpa perantara, kau akan tetap menjadi pertama dan utama untuk hidupku.
Terimakasih untuk cinta kasihmu kepada Reno, membersamai Reno hingga akhir hayatnya, tanpa pernah sekalipun menceritakan aibnya, bahkan kepada aku, Ibu dia sekalipun!!
Oh Tuhan, aku ingin memelukmu, mendekapmu. Mengucapkan beribu-ribu terimakasih atas apa yang sudah kau korbankan untuk Reno. Hanya kamu dan cuma kamu, menantu yang Ibu inginkan.
Barata ku yang malang, Barata ku tersayang. Harusnya engkau bisa menjaga hawa nafsumu. Bila saja engkau bisa menahan egomu, mungkin semuanya tidak akan serumit ini.
Kini, ada penerusmu di rahim Anita. Yang aku sendiri tidak tahu harus bereaksi apa. Bahagiakah? Sedihkah? Aahhh dadaku terasa sesak, sakitt sekali rasanya. Seperti terhimpit oleh dua buah batu yang sangat besar. Tidak ada pegangan. Semuanya gelap. Gelap.
Anita POV
Ku acuhkan ponselku yang sedari tadi berdering tanpa henti, ku ganti dengan mode terbang setelah tahu siapa yang menelpon ku.
__ADS_1
Barata.
Bila dia mencercaku dengan puluhan kali panggilan, berarti ada sesuatu dengan Ibu kesayangannya itu. Sungguh aku lelah sebetulnya, tidak bebas tinggal bersama wanita tua itu. Selalu saja banyak pertanyaan ketika pulang terlambat. Membuat waktuku terbuang percuma lama-lama di rumahnya. Apalagi dengan kondisiku yang hamil muda seperti ini. Banyak aturan, wejangan yang selalu dia sampaikan padaku. Sangat kolot dan aku membencinya!!!
Hari ini aku dipusingkan dengan berberapa kolektor yang ternyata menilap uang konsumen. Beberapa konsumen melaporkan bahwa ada surat tagihan dari kantor di kirim ke alamat mereka, padahal mereka sudah membayar angsuran ke kolektor, yang ditugaskan oleh kantor dengan membawa surat tugas juga tentunya, saat melakukan kunjungan ke rumahnya. Dan ini membuat aku pusing sekali. Terlebih panggilan bertubi-tubi dari Barata yang, jika aku meladeninya, maka hanya membuat kepala ku semakin ingin meledak saja rasanya.
"Nit, sibuk? " Pak Rafli menyambangi kubikel ku.
"Gak gitu" Jawabku.
Aku tahu, jika Pak Rafli menyambangiku, pasti dia juga sedang carut marut.
"Keluar nanti ya pulang kantor" Ucapnya sambil mengkerlingkan sebelah matanya genit, dan hanya kubalas dengan kerlingan yang sama beserta kuberikan dia satu jari jempol tanda oke.
Entahlah, saat hamil ini aku memang selalu nyaman bersama Pak Rafli, mungkin bayi yang ada di dalam kandunganku lebih senang jika aku sering-sering bersama ayahnya. Entahlah. Yang jelas ada kenyamanan tersendiri jika aku sedang bersamanya.
Hay hayyy Shaiiiiiii
Sudah mulai panas yaaaa🤪🤪🤪
Siapkan komentar terbaikmu untuk Anita? Barata? Ajeng? Ibu Sukma? atau mungkin Bu Ria dan Bu Efi? 🤣🤣🤣🤣
__ADS_1
Yang penting jangan ngebrondongg aku dengan UP banyak-banyak ya😁😁