
Suasana terlihat riuh, kulihat Ashila sedang mengejar teman sebayanya dengan riang. Ah, bocah itu sangat menggemaskan. Rambut panjangnya yang berponi dengan pipi chubby semakin membuat tubuhnya lebih berisi dari terakhir kali aku melihatnya.
Aku dan rombongan bersalaman dengan para penjemput tamu dan aku baru tau ternyata Ajeng, melakukan resepsi di rumah mantan ibu mertuanya dahulu. Sebegitu sayangnya kah orang tua dari mantan suaminya? hingga resepsi pernikahan keduanya pun harus dilakukan di rumah mereka?
Aku berjalan dengan tak sabar, meninggalkan rekan-rekanku lainnya di belakang, aku hanya begitu penasaran, lelaki seperti apa yang mampu menjerat hatinya, sedangkan aku yang sudah sekian tahun mendekatinya tidak ada respon apapun dari perempuan bertubuh mungil itu.
Mataku langsung menemukan sosoknya yang sedang bersalaman dengan seorang wanita dengan tangan kiri yang memegang sebuah seserahan yang aku lihat seperti pakaian dinas.
"Selamat ya nak, Ajeng. Selamat bergabung dengan kami para ibu-ibu Persit Kodim 07/01." Aku mendengar dengan jelas ucapan dari perempuan tersebut yang memberikan seserahan.
Persit? Kodim? dia menjadi istri prajurit? segala tanya bersarang di kepala ku. Hingga akhirnya sosok laki-laki yang belakangan ini aku kenal sebagai adik iparnya mendekat, menyentuh pinggul mungilnya dari belakang.
Astaga !!
Aku benar-benar seperti orang bodoh! ternyata selama ini? dan di rumah ini?
Hatiku seketika remuk redam. Pantas saja resepsi dilakukan di rumah ini, rumah mempelai pria, dan selama ini? perilaku tak wajar dan berlebihan dari adik iparnya yang terlalu posesif, harusnya bisa aku sadari lebih awal ! Akh, aku benar-benar kecolongan ! Ya Tuhan.
Aku berdiri dan baru sadar setelah seseorang menepuk pundak ku pelan.
"Dokter baik-baik saja?" Ternyata Mayang yang menyapaku. "Langsung memberi ucapan saja, Dok. Mumpung sepi," usulnya padaku.
Aku mengikutinya dari belakang. Dadaku bergemuruh, ada nyeri di sudut hati. Cinta tak terungkap yang berakhir penyesalan sedang aku rasakan kini.
"Sus Mayang, terima kasih berkenan hadir. Maaf undangan via virtual ya." Seperti biasa suara cerianya yang khas selalu saja melenakan telingaku.
__ADS_1
Aaahh Ajeng.
"Dokter jahat banget si tidak berkabar denganku, hari ini fix menjadi hari patah hati se- RSUD niih." Ucapan Mayang seketika langsung membuat aku mendongak, merasa tersindir juga, bukan, lebih tepatnya aku memang patah hati.
Terdengar pula tawa di belakangku, entah sejak kapan aku sudah masuk dalam deretan tamu undangan yang mengantre dan sudah berdiri di depan orang tua Ajeng.
"Om, Tante, selamat." ucapku yang kubuat setenang mungkin.
"Terima kasih." ucap dua orang yang kini aku Salami bergantian tersebut bersamaan.
"Terima kasih sudah datang Dok Satrio." Lelaki yang kini menjadi suami Ajeng menyapaku terlebih dahulu, dan hanya ku balas dengan senyuman.
Seperti biasa, Ajeng selalu menjaga pandangan dan sentuhan, dia hanya menyatukan kedua telapak tangannya ke depan dada. "Terima kasih Dok Sat, sudah menyempatkan waktunya." Ucapnya setelah melihat wajahku tak kurang dari 3 detik.
"Selamat ya, Jeng. Semoga bahagia selalu." ucapku dengan sendu, yang tak bisa menutupi rasa kecewaku.
Aku hanya tersenyum, kemudian berlalu mencari Mayang yang sudah tidak terlihat lagi batang hidungnya. Rasanya aku takan mampu untuk menikmati kudapan yang sudah disediakan dibeberapa titik itu, sungguh tidak ada selera. Bukan makanannya yang tidak membuat selera, tapi dari dalam diri sendiri yang sudah membuat tak selera.
Setelah basa-basi beberapa saat, aku langsung berpamitan ke pihak keluarga yang menjadi penjemput tamu di depan.
Aku pulang, memaksa menelan pil pahit yang bernama kekecewaan. Rasa yang tak sampai.
Barata POV
Alhamdulillah acara berjalan dengan sangat lancar tanpa hambatan suatu apa, ijab qobul yang aku ucapkan untuk yang kedua kalinya pun tuntas sekali nafas. Tidak ada pengulangan maupun kesalahan. Kini pernikahan aku dan Ajeng sudah diakui oleh negara dan agama. Ada rasa bangga tersendiri yang tersemat di hati, rekan dari kesatuan dan staf jajaran kodim, semua hadir. Tak hanya rekan kerjaku, seluruh keluarga besar RSUD tempat Ajeng bekerja pun hadir saat jam makan siang tiba.
__ADS_1
Aku tertawa tertahan ketika seorang perawat tiba-tiba mengatakan jika hari ini selain hari bahagianya, juga hari patah hati se- RSUD. Lebai sekali mereka. Aku semakin mengeratkan pinggangnya, memeluknya erat dengan tangan kiri ku.
Terlebih saat Satrio, dokter anak yang aku sudah duga sebelumnya memiliki rasa ke Ajeng datang memberikan ucapan selamat. Orang akan segera tau jika melihat ekspresi di wajahnya. Terlihat sekali rasa kecewa yang teramat dalam, meski baru beberapa kali berjumpa, aku bisa melihat itu. Wajah sendunya jelas sekali bahwa dia sedang dilanda patah hati, ya tentu saja terhadap isteri ku.
Aku cukup berbangga hati, Ajeng tidak begitu menanggapi Satrio. Memang kalau dipikir-pikir Ajeng itu sama sekali tak pandai membaca perasaaan seseorang, benar kan dugaan ku kalau dokter itu menyimpan rasa, Ajeng saja yang tak peka !
Aku langsung berucap terima kasih atas kedatangannya ke resepsi kami, yang hanya dia balas dengan senyuman. Ku lirik ekspresi Ajeng saat berhadapan dengannya, dia hanya tersenyum dan mengatupkan kedua tangan ke depan dada, mengucapkan terima kasih atas doa yang disampaikan Satrio. Aku bersyukur, Ajeng benar-benar bisa membawa diri, menjaga dirinya untuk tidak bersentuhan dengan yang bukan muhramnya.
Akhirnya berkali-kali lipat rasa bahagia dan syukur aku panjatkan setelah aku bersabar melewati ini semua, terima kasih Allah atas segala nikmat yang telah engkau berikan, tanpa pengecualian apapun.
Memang benar, apa-apa yang menjadi takdirmu, tidak akan pernah mungkin melewatkan mu, dan apa-apa yang tidak ditakdirkan untuk mu, sekeras apapun kamu mencoba meraihnya, tidak akan pernah bisa digapai.
Manusia hanya perlu bersabar, berliku dan setajam apapun jalan yang dilalui, percayalah akan ada turunan yang mampu melepaskan segala gas emosi dalam diri. Kuncinya hanya satu, bersabar dan yakin bahwa Allah itu sebaik-baik pembuat rencana. Rencananya akan lebih indah, bahkan diluar apa yang kita pikir dan inginkan. Sungguh, aku sedang merasakannya saat ini.
Aku mencuri sebuah kecupan di dahinya, tanpa memperdulikan sekitar yang terang saja langsung bersorak dan melempar banyak kata meledek.
"Sabar, Bar.. masih banyak tamu ini."
"Kasihan yang masih jomblo nih, Bar.. tega banget lu !"
Seruan-seruan iri dengki terdengar jelas di telingaku namun, apa peduliku. Hanya bisa tertawa jahat yang semakin membuat penonton memanas ! hahahahah
" Malu iihh!" Ajeng melebarkan matanya dengan pipi yang bersemu merah, bukan karena blush-on, tetapi malu tertahan akibat ulahku. Dan aku hanya dapat terkekeh, sama sekali tak merasa bersalah, justru semakin gemas melihat wajah lugunya.
"Pindah ke kamar aja yuk !" ajak ku.
__ADS_1
"Astaghfirullah, ihh kamu itu !" dia mencubit keras pinggangku, kemudian berlalu begitu saja, meninggalkan ku untuk menyapa tamu-tamu lainnya yang sedang menikmati santap makan siang.