Takdir Yang Terlewati

Takdir Yang Terlewati
63


__ADS_3

"Bu, Ajeng keluar sebentar ya, ada janji temu sama Naufal. " Pamitnya pada Ibu Sukma yang masih berbicara dengan Anita.


"Kalo Ibu pingin apa-apa, telpon aja ya, oke? " Meraih tangan Ibu Sukma, dan mencium punggung tangannya dengan khitmad.


Ia enggan tau obrolan apa yang sedang Ibu dan Anita bahas, malas untuk ikut terlibat didalamnya. Selain bukan skala prioritas untuknya, dia enggan bersanding dengan Anita.


Bukan karena dia membenci Anita bukan, tapi lebih kepada enggan melihat muka Anita yang sama sekali tidak pernah enak untuk dia pandang. Selalu cemberut dan seperti memendam kekesalan terhadap dirinya.


"Hati-hati Nak" Bu Sukma tersenyum.


"Jalan dulu ya, yuk Nit" Sapanya basa-basi dan disertai dengan senyum, kemudian berlalu tanpa menunggu balasan jawaban dari perempuan itu.


Ajeng memasuki mobil, bersiap untuk pergi meninggalkan halaman rumah. Namun, baru saja dia keluar dari area perumahan, ponselnya berdering.


Naufal calling


"Yaa aku udah on the way niiih"


Menjawab langsung tanpa memberi salam.


"Oke, gak pake lama"


"Ya ampun, baru aja keluar dari kompleks"


"Udah ahh, kaya gak mau ketemu aja ngobrol banyak-banyak di telpon.. Dahhh"


Tutt... Tuuuttt.. Tutt


Sambungan terputus.


Dan baru saja dia meletakan ponselnya, benda pipih itu kembali berdering.


"Apa lagi siii, iya aku tau kamu kangen tapi apa gak bisa sabar sebentar, aku lagi konsen nyetir ihhh.. Kalo nabrak gimana? Rese banget deh" Tanpa melihat siapa yang menelepon, dia berbicara sekenanya.


"Kok tau kalo aku kangen? Mau ke mana? Dari tadi di telponin susah banget" Suara berat dan ketus terdengar dari seberang.


Dia melototkan matanya, melihat layar ponselnya. Dugaannya salah, dia yang berfikir kalau Naufal yang telepon ternyata salah. Bukan Naufal tetapi Barata.


"Ehh, iya dek. Maaf..maaf" Tersenyum dipaksakan.


Ngapain juga harus senyum, yang di sana juga tidak bakal melihat.


"Gimana hasil terapi ibu? " Bertanya dengan dingin. Ya, pembawaan Barata memang seperti itu. Diam, dingin, tegas, to the point, tapi sebetulnya maniiisssss kok!.


"Ibu baik alhamdulillah, sudah selesai rangkaian terapi nya, paling ya itu, di jaga pola makan dan pikirannya, jangan sampai berfikir yang berat-berat. Tadi udah gak di kasih obat, cuma vitamin aja. "


"Ooh"

__ADS_1


"Kalau mau bicara dengan ibu, telpon istrimu aja, tadi ibu lagi ngobrol sama dia soalnya di teras. "


"Ini mau ketemu Naufal? " Tanyanya tanpa menanggapi perkataan Ajeng.


"Ngedate? "


Ajeng tertawa.


"Ngedate ya? Kaya anak muda aja" Terkekeh pelan.


"Ada urusan bentaran. Eh lh kok kamu tau kalo Mbak mau ketemu Naufal? " Ajeng curiga.


"Perasaan dari tadi gak ada yang nyebut Naufal deh"


"Nebak aja" Jawabnya.


"Naufal itu playboy! hati-hati! "


Ajeng tertawa, "Sejak kapan deket sama Naufal? sampe bilang dia playboy? emang tau? "


"Nebak aja, udah kelihatan dari mukanya, slengeean gitu, sukanya tebar-tebar pesona"


Tawa Ajeng makin keras.


"Kita bukan lagi main tebak-tebakan, jadi gak usah asal nebak!"


"Gimana mutasinya? Beres? udah di acc sama komandan? " Ajeng mengalihkan perhatian.


"Uda di urus, masih dalam proses. Butuh waktu yang gak sebentar ngajuin ini. Sambil ngurus beberapa hal lain, biar besok kalo pulang semua udah beres gak nanggung beban" Ucapnya.


"Syukur lah, pasti ibu seneng banget kalau tau, kamu udah lagi ngurus mutasi.


"Eiit,. Jangan bicara apapun kepada ibu tentang mutasiku ya, biar jadi kejutan buatnya" Di balik telepon dia tersenyum, membayangkan apa yang akan terjadi. Dia sudah sangat tidak sabar untuk mengakhiri semua ini, dan memulai dengan lembaran baru.


"Iya.. iya, yang penting ada sogokan tutup mulut ya, kamu harus siap dengan apa yang aku minta.


"Apapun, tinggal sebut minta apa? Gak ada yang gak bisa aku lakuin buatmu"


Tawa Ajeng semakin keras. "Somboongggg bener!!" Menjawab dengan cibiran.


"Hari ini, kamu orang kedua yang bilang gini ke aku, ada apa orang-orang hari ini? gampang banget nyanggupin keinginan ku, yang aku aja belum nyebutin"


"Tapi aku seneng-seneng aja si"


"Janji ya, apapun ya? aku sebut kamu harus lakuin. Tanpa penolakan" tegasnya.


"Kapan aku pernah ngecewain kamu? ngingkarin janjiku? " Kini ucapannya berubah serius. Tidak ada lagi nada bercanda di kalimatnya.

__ADS_1


"Iya.. iyaaa. Tidak sekarang, Ada waktunya nanti" Ajeng enggan meneruskannya, karena nantinya akan berujung membahas yang sudah lewat. Dan dia sungguh enggan mengingatnya.


"Ya udah ya, aku tutup dulu, kabari kalau udah nyampe" Barata memberikan pesan.


"Siap komandan" Jawab Ajeng yang membuat tawa di seberang sana.


Gimana aku tidak semakin mencintaimu Jeng, hanya kamu yang bisa membuat aku tertawa lepas seperti ini melupakan sejenak karut marut hidupku.


Akhirnya panggilan keduanya terputus, Ajeng menambah kecepatan mobilnya, berpacu dengan waktu sebelum Naufal kembali mengusik perjalannnya dengan pertanyaan yang sama.


................


"Aku gak bakalan bisa bilang semua ini ke Barata maupun Ibu. Kamu bisa bayangin kan apa yang Barata akan lakuin? dia gak akan bisa memberikan kesempatan lagi pada Anita, dan Anita, apakah ada Jaminan kalo dia gak bakalan ngulangin kesalahan yang sama? Dan Ibu? terus terang aku lebih khawatir pada Ibu. Dia baru aja nyelesein rangkaian terapinya. Baru aja normal keadaannya, terus? aku harus kasih tau Ibu? engga.. engga.. aku gak setuju! itu gila namanya!!!


Ajeng dan Naufal terlibat perdebatan, Naufal bersikukuh untuk membongkar kelakuan Anita kepada Ibu Sukma.


"Kamu peduli banget sama Bu Sukma? kenapa? apa kamu masih mengharapkan kembali Barata? " Naufal memandang Ajeng dalam.


"Jaga bicaramu ya!! "


"Ada banyak hal yang harus aku lakukan untuk kebahagiaan Ibu. Kamu gak akan pernah tau, gak akan pernah bisa tau dan gak akan pernah bisa rasain gimana jadi aku karena kamu bukan aku! " Ajeng berbicara dengan tegas namun pelan.


Rasanya tidak etis kalau membuat keributan di ruangan umun seperti ini, apalagi cafe dalam kondisi ramai saat ini, meskipun jam makan siang sudah terlewat, namun pengunjung seperti nya enggan beranjak dari duduk mereka.


"Ibu Sukma bukan hanya sekedar mertua bagiku, almarhum Reno, suamiku, adalah anak lelakinya yang meninggal karena kecelakaan. Pergi begitu mendadak, dan begitu cepat. Tidak ada yang menyangka dia akan secepat ini meninggalkan kita semua. Sosok yang paling bisa mengerti semua orang di sekitarnya, orang yang luar biasa baiknya, dan Reno jugalah yang membuat aku kuat, tegar seperti sekarang. Aku merasa berhutang budi dengan Ibu, aku merasa sangat berterimakasih kepada beliau karena sudah memberikan anak lelakinya padaku, yang sama sekali belum bisa aku bahagiakan. "


"Dan soal Barata, mengharapkan Barata kembali padaku, untuk apa???? Ada banyak cara selain ini. Dulu aku bisa saja menggagalkan pernikahan dia dengan hanya berkata jangan nikahi Anita. Tapi aku ini juga perempuan Fal. Aku bisa merasakan bagaimana di posisi Anita saat itu. Aku juga tidak tahu kalau akan begini kejadiannya. Aku fikir Anita perempuan bail-baik yang Barata pilih. Dan untuk saat ini, dengan kondisi Anita hamil sebesar itu, kamu mempunyai fikiran kalau aku mengharapkan Barata kembali? Sinting!!!"


"Kamu benar-benar orang sinting gak waras yang menuduhku seperti itu. Lantas untuk apa selama ini aku mencegah dan menutupi aib dia? bukankah itu adalah waktu terbaik dan tepat buat aku merebut Bara dari Anita? " Ajeng menghembuskan nafas kasar, memegangi kepalanya, meremas jilbab yang ia kenakan.


"So Sorry, aku menyesal. Aku hanya kasihan denganmu, kamu selama ini mengurus Bu Sukma dengan sangat baik, menggadaikan kebahagiaan mu sendiri. "


"Jangan perdulikan aku, itu semua tidak ada apa-apannya dengan Reno yang sudah membersamaiku selama ini" Ajeng memotong perkataan Naufal.


"Jadi sekarang, katakan padaku. Seberapa dekat kamu denga BBarata? aku curiga dengan kalian berdua. Darimana kamu tahu kalau hari ini aku dan Ibu ada jadwal fisio terapi? bisa-bisanya juga kamu tahu Anita sedang cek kandungannya dengan laki-laki tua itu? Jangan bilang hanya kebetulan ya. Aku enggan mendengar hal yang sama dari dua orang yang berbeda!!! " Menatap tajam Naufal.


----------------


Sudah bisa nebak siapa detektif Barata?? 😁


Mohon maaf belum bisa balas komentar satu per satu yaa, terimakasih untuk kalian semua kesayangan🤗🤗


Yang sudah mensuport karyaku, memberikan vote, bunga, like dan jempolnya dan like komentar terbaiknya😊


Dan untuk meledaknya, ada saatnya nanti. Bukan ingin bertele-tele atau mengulur-ulur waktu, tapi memang sudah begini alur ceritanya, jadii di mohon untuk bersabar yaa😚😚


Semoga semua readers selalu dalam lindungan Allah, diberikan kesehatan, kemudahan di setiap langkah, selalu di berkahi dan di rahmati Allah SWT aamiin 😇

__ADS_1


__ADS_2