
"Naufal? " Ajeng terkejut melihat Naufal berada di dekatnya. Terlebih dengan perkataannya barusan.
"kamu bayar dulu ke kasir. Aku mau bicara bentar sama Naufal" Ajeng menyerahkan keranjang yang penuh dengan buah itu kepada Barata. Untuk saat ini dia hanya bisa berdoa, semoga Barata tidak mendengar perkataan Naufal tadi. Setidaknya dia tidak 'dong' dengan perkataan Naufal.
Ajeng menarik kasar tangan Naufal, membawanya keluar toko. Sementara saat ini, hampir seluruh pengunjung toko menonton tragedi salah paham tadi.
"Kamu gila ya, teriak- teriak begitu bikin malu" Ajeng menghempaskan tangan Naufal kasar.
"Kenapa si marah-marah gak jelas gitu?"
"Kenapa nyama-nyamain aku sama Anita? Waras gak sih kamu? "
Melengoskan kepalanya saat Naufal menatap tajam dirinya.
"Hahahah" Naufal tertawa kencang.
"Aku? gila? iya kamu yang bikin aku gila!!"
"Jadi??? iini? Alasannya kenapa laki-laki itu gak boleh tau kelakuan istri ya? Karena dia juga Ada main dengan lu di belakang istri ya? Sama-sama ngegoda suami orang? " Dengan kemarahan memuncak, tanpa tendeng aling-aling Naufal mengucapkan segala apa yang dia fikirkan.
Plakk
Suara tamparan keras terdengar,
"Jaga mulut kamu!!! Aku masih waras untuk bermain api dengan adik iparku!!! Dan jangan pernah nilai aku se rendah itu. Aku memang janda, tapi kamu juga gak bisa ngejude aku kaya gini"
"Segala apa yang kamu lihat, tidak seperti apa yang kamu fikir"
"Aku hanya khawatir dengan kondisi ibu, gak lebih, kalo kamu masih berfikir picik seperti ini, silahkan. Beritahu dia segala apa yang kamu tau tentang istrinya"
"Dan Satu hal lagi, jikapun aku mencintai Barata, semuanya tidak ada hubungannya dengan kamu, maupun Anita. Aku tau batasan. Dan itu sama sekali tidak bepengaruh maupun merugikan dirimu. Ingat itu" Dengan muka marah dan perasaan sedih luar bisa, Ajeng menumpahkan kekesalannya sebelum akhirnya berbalik pergi.
"Semua berpengaruh padaku, aku mencintai mu!! Tak bisakah kau merasakannya? Melihat cintaku pada dirimu? " Naufal berteriak. Tanpa memperdulikan sekitarnya, membuat Ajeng menghentikan langkah kakinya.
Dia mematung, tidak meneruskan langkahnya. Manakala mendengar Naufal mengungkapkan isi hatinya, enggan juga melangkah karena di depannya, sekarang Barata sedang berdiri membawa sekantong belanjaan.
Namun air matanya sudah tidak bisa terbendung lagi, justru karena melihat Barata, air matanya menderas.
"Kalian gak malu jadi tontonan begini? "
"Dan lu, lu cemburu liat Ajeng sama gue?"
" Sekarang kalian berdua, masuk mobil ikut denganku"
__ADS_1
Barata tiba-tiba muncul memberikan interuksi. "Kalian bisa menjelaskan pakai kepala dingin, gak disini" imbuhnya.
"Gak ada yang perlu di jelasin. Aku mau kembali kerumah sakit sekarang. Udah gak ada lagi urusan apapun di sini" Ajeng mengusap kasar air matanya yang masih berjatuhan membasahi pipi. Berjalan menjauh dari kedua lelaki yang berada di depan Dan di belakangnya. Meninggalkan mereka begitu saja.
"Katakan apa maksud perkataanmu tadi!! " Barata berjalan mendekat ke arah Naufal, mendudukan dirinya di bawah pohon kelsem.
"Perkataan yang mana? " Dengan jantan, dan tanpa rasa takut maupun segan, kini dirinya ikut duduk di sebelah Barata.
"Perasaanmu pada Ajeng" Barata menjawab dingin.
"Gue mencintainya, gue harap gak jadi masalah buat panjenengan"
"Jadi masalah kalau lo bikin dia nangis kaya tadi. Kalo lo cinta dia, gak kaya gini caranya!!"
"Dia masih mencintai panjenengan" Ucapnya perlahan kepada Barata.
"Dia mencintai lu..Lu, pria beristri"
"Dia rela ngorbanin segalanya buat lu, Dia ngorbanin kebahagiannya demi nyokap lu. Dia rela membiarkan luka hatinya semakin dalam, melebar sampe gak bisa lagi lihat cinta itu kaya gimana, gak bisa lagi ngrasain cita orang lain untuknya karena kehidupannya udah berporos pada keluarga lu!!!"
"Dan sialnya lu gak bisa ngeliat cinta dia!!! lu hanya berporos pada istri lu yang lu gak tau busuknya dia kaya apa!!!" Naufal berbicara tanpa melihat Barata, pandangannya entah tertuju kemana.
Menyesal, itu yang sedang dia rasakan sekarang, melihat Ajeng pergi dari hadapannya dengan kemarahan dan kesedihan yang bersatu. Menyesali emosinya yang melangit, yang berujung terlukanya hati orang yang dia cintai.
Entahlah.
Ajeng POV
Hatiku terasa nyerii, apa yang Naufal ucapkan sungguh melukai hatiku. Begitu sakit!!.
Aku tidak menyangka jika Naufal bisa berfikir seperti itu tentangku. Tidak pernah menyangka juga kalau dia memendam rasa padaku, seperti yang siang tadi Ningrum katakan padaku.
"Mbak gak nyadar kalo Mas Naufal suka sama Mba?? "
Apa memang aku selama ini yang tak peka dengan keadaan? terlalu berlebihan menghawatirkan orang lain? hingga diriku sendiri pun sampai tidak memiliki waktu untuk sekedar membuka hati, mencoba hari yang baru dengan cinta yang baru? tanpa terbayangi masa lalu yang disebabkan karena takdir? dan itu sudah di lewati. Entahlah, kepalaku rasanya sakit sekali. Berdenyut nyeri. Kemungkinan-kemungkinan buruk memenuhi fikiranku. Menambah rasa nyeri yang tak tertahankan.
Aku duduk sendiri menunggu Barata di dalam mobil, sudah lebih dari 15 menit aku menunggu kedatangannya. Namun tak kunjung juga terlihat batang hidungnya, hingga aku lelah dan mataku terasa berat. Semua gelap.
Barata POV
"Aku mencintaimu"
Dua kata yang menjadi penghalang konsentrasi dan kecepatan berfikir ku, Naufal mengutarakan cinta kepada Ajeng, membuat diriku lunglai.
__ADS_1
Namun berubah kemudian, saat Naufal menjelaskan isi hati dan perasaan Ajeng kepada ku versi dia. Ternyata benar selama ini, Ajeng masih sangat mencintaiku. Aku bisa lihat sorot matanya yang meredup, saat bercerita tentang Ajeng, berbanding terbalik dengan perasaan ku saat ini.
"Dan sorry, gue harus ngasih tau lo ini" menyerahkan hasil video yang tak sengaja dia rekam dengan beberapa foto yang di ambil dari berbagai sudut.
"Gue udah sering liat istri lo keluar masuk hotel sama laki-laki ini. "
"Sayangnya Ajeng selalu berfikir positif, dengan beranggapan kalau istri lo habis rapat dengan klien. "
"Puncaknya kemarin, saat ibu Sukma di rawat, aku semakin geram pada istrimu, bisa-bisanya dia main gila sementara Ajeng yang mengurus segalanya"
"Pesenku satu, jangan sampai Ajeng tau, kalo lu udah tau. Apa lagi ibu. Karena dia benar-benar menyayangi Ibumu melebihi apa pun. Dia terus berfikir tentang kondisi ibu."
"Dia gak mau kalau ibu shock dan kesehatannya menurun"
"Dan, kalo bisa, lu selidiki lagi tentang istrimu, siapa tahu kalo penglihatan dan praduga kami semua salah." Matanya masih saja menatap lurus kedepan tanpa menoleh kepadaku.
Aku harus bagaimana? sedih? marah? bahagia?
Sedih, karena aku di curangi oleh Anita? sosok yang selama ini aku begitu prioritaskan. Marah? untuk apa pula. Bahagia? untuk ku mendengar kabar Ajeng yang masih mencintaiku? Entahlah. Alu meraup wajahku kasar.
Mengapa???????
Mengapa semuanya harus seperti ini?
Disaat aku dan dia sudah mulai berkomitmen untuk menerima keadaan, menerima kenyataan bahwa dia adalah kakak iparku, mantan kakak ipar, kenapa justru cintanya terungkap ke permukaan?? Kenapa justru semuanya seakan berbalik? seakan takdir tak merestui ini terjadi? seakan takdir memberikan jawaban? namun takdir juga yang membuat kami terpaksa seperti ini, saling menjaga jarak, perasaan satu sama lain. Perlukah aku bersyukur atas keadaan ini? Mensyukuri semuanya? termasuk ibu yang masuk Ruman sakit? Ya Allah. Rasanya Berat sekaliii memendam cinta yang ku tahu cintaku terbalaskan.
...----------------...
Hay hay hay
Asalamualaikum para wanita soleha😊
Apa kabar hari ini? Semoga semuanya dalam keadaan sehat ya🤗
gimana.. gimana.. gimana??
Udah puass yee khannn???
Udah kejawab semua yeee khaan😊
Buat yang dari kemarin uring-uringan di komentar, bisa lega ya sekarang, yang minta biar Barata tau kebusukan Anita udah puass yee khaan😅😅😅
Selamat malam jumat semuanya🤗
__ADS_1